JAKARTA, —
Perilaku membuang sampah sembarangan sering kali dianggap sebagai tindakan kecil yang tidak memiliki dampak signifikan. Bungkus plastik yang dibiarkan tergeletak di jalan, sedotan yang dilempar ke saluran air, atau sampah rumah tangga yang dibuang ke sungai sering kali dianggap tidak akan menyebabkan masalah besar. Namun, kebiasaan ini, yang dilakukan berulang dan oleh banyak orang, lambat laun menjadi masalah besar dalam ruang kota.
Sampah menumpuk di drainase, aliran sungai menyempit, kualitas lingkungan menurun, dan risiko banjir serta penyakit meningkat dari waktu ke waktu. Pengamat Lingkungan Mahawan Karuniasa mengatakan bahwa perilaku membuang sampah sembarangan telah mengalami proses normalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Ketika tindakan tersebut tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang salah, ia berubah menjadi kebiasaan kolektif yang sulit dikoreksi.
Lebih dari 60 Persen Sampah Tak Terkelola
Mahawan Karuniasa menyebut bahwa sebagian besar sampah di Indonesia masih berada di luar sistem pengelolaan yang memadai. Sebagian besar merupakan sampah yang dibuang secara sembarangan. “Jadi kan kita ini ada sampah yang tidak terkelola itu cukup besar, 60 persen lebih yang tidak terkelola, dan sebagian itu otomatis yang tercecer, yang tercecer yang dibuang sembarangan itu,” kata dia.
Dari total sampah yang dihasilkan, Mahawan menjelaskan bahwa porsi sampah yang dibuang sembarangan sebesar 20 persen. Angka ini menunjukkan bahwa perilaku individu memberi kontribusi signifikan terhadap persoalan struktural sampah. “Ada beberapa catatan yang sampah yang dibuang sembarangan itu bisa mencapai lebih dari 20 persen, jadi cukup banyak yang dibuang itu.”
Hingga 20 Persen Volume Drainase Terisi Sampah
Mahawan mengatakan bahwa akumulasi sampah liar memiliki dampak langsung terhadap fungsi drainase kota. Ia menyebut bahwa sejumlah penelitian mencatat sampah dapat mengisi porsi signifikan dari volume saluran air. “Implikasinya itu bisa menyumbat saluran-saluran air, dan pernah juga ada penelitian sampah itu bisa mencapai 20 persen dari volume yang ada di drenase, sehingga ini menjadi dapat mengakibatkan menyumbat drenase.”
Ketika drainase kehilangan kapasitasnya, kemampuan kota untuk mengalirkan air hujan ikut menurun. Dampaknya sering kali baru terasa saat hujan deras terjadi.
80 Persen Sampah di Sungai hingga Laut Didominasi Plastik
Dari berbagai jenis sampah, plastik menjadi penyumbang terbesar pencemaran perairan. Mahawan menegaskan bahwa mayoritas sampah yang masuk ke sungai hingga laut adalah plastik. “Dengan membuang sampah sembarangan, mayoritas justru plastik yang masuk ke sungai sampai ke laut, 80 persen itu plastik.”
Selain jumlahnya yang dominan, sifat plastik menjadikannya ancaman ganda bagi sistem drainase dan ekosistem air. “Pertama karena faktornya kan plastik itu dia tidak tembus air dan tidak mudah dan butuh ada yang mencatat ribuan tahun untuk baru bisa terurai.” Karena tidak menyerap air dan sulit terurai, plastik mudah menumpuk dan membentuk sumbatan di saluran air.
Ancaman Kesehatan yang Tak Terlihat
Lebih lanjut, Mahawan menilai bahwa ancaman sampah plastik tidak berhenti pada sumbatan drainase. Dalam jangka panjang, plastik akan terurai menjadi partikel yang jauh lebih kecil dan berbahaya. Mahawan menegaskan bahwa mikroplastik memiliki dampak langsung terhadap kesehatan manusia. “Saya kira sudah banyak kita ketahui mikroplastik itu ukuran yang sangat kecil, sehingga bisa masuk ke aliran darah kita, berbagai penyakit bisa muncul dari situ.”
Sementara untuk sampah organik, kata Mahawan, dapat memicu bau, genangan, dan berkembangnya penyakit. “Muncul bau, kemudian juga faktor penyakit, nyamuk di situ karena ada genangan, kemudian juga tikus, dan juga kualitas sanitasi menurun dengan adanya sampah-sampah yang tertumpuk di tempat-tempat terbuka, di ruang terbuka, maupun di selokan.”
Risiko Banjir
Dalam jangka panjang, dia bilang, sampah yang terus menumpuk akan mengubah kondisi sungai. Endapan sampah memperkecil daya tampung aliran air. “Kalau sampah masuk ke drainase, selokan, sungai, sungai kecil, makin lama makin banyak dan menumpuk tentu saja mengurangi kapasitas sungai.” Akibatnya, air lebih mudah meluap ke permukiman. “Dengan volume yang bisa ditampung semakin kecil, maka lempasannya semakin banyak. Dan banjir otomatis berarti dampaknya.”
Kurangnya Kesadaran Masyarakat
Perilaku membuang sampah sembarangan kerap terbentuk melalui kebiasaan yang berlangsung lama di lingkungan sekitar. Warga Endang (45) mengaku tindakan tersebut bukan sesuatu yang baru ia lakukan, melainkan tumbuh dari apa yang sehari-hari ia lihat di sekitarnya. “Kalau saya mah, dari dulu kayaknya udah gitu. Udah biasa juga sering liat orang buang bungkus rokok, plastik jajanan di pinggir jalan, jadi kebawa kebiasaan. Bukan baru-baru ini, emang dari lingkungan juga begitu.”
Baginya, sampah yang dibuang terasa sepele dan tidak menimbulkan dampak langsung. Luasnya jalan dan panjangnya selokan membuat tindakan tersebut seolah tidak berarti. “Saya nganggepnya biasa aja. Kayak kan cuma satu orang. Tapi kalau semua gitu, numpuk juga jadinya.”
Etika Moral
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, menilai perilaku buang sampah sembarangan tidak semata disebabkan kurangnya fasilitas, melainkan berakar pada hilangnya kesadaran dan etika moral di masyarakat. Ia membandingkan kondisi Indonesia dengan negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, yang menurutnya berhasil membangun budaya bersih melalui kesadaran kolektif yang telah tertanam sejak lama, bukan dengan menyediakan banyak tempat sampah. “Di taman kota, di ruang-ruang publik, tidak ada tempat sampah. Orang-orang dipaksa untuk tidak buang sampah karena nilai kesadarannya sudah tertanam.”
Perlunya Edukasi Berkelanjutan
Rakhmat menekankan bahwa persoalan sampah harus diselesaikan secara paralel, antara pembenahan sistem pengelolaan oleh pemerintah dan upaya menumbuhkan kesadaran serta etika moral masyarakat. Menurut dia, edukasi dan kampanye publik perlu dilakukan secara berkelanjutan dan sejak usia dini agar nilai menjaga kebersihan benar-benar tertanam dalam kehidupan sehari-hari. “Itu harus terus dikampanyekan, diedukasi, dipupuk sejak kecil, dan dilakukan secara terus-menerus.”












