Mengapa Gereja Harus Menjadi Seperti Kelinci, Bukan Gajah?
Buku yang berjudul Dari MEGACHURCH ke PELIPATGANDAAN: SEBUAH PERJALANAN GEREJA KE ARAH KEGERAKAN menawarkan perspektif baru tentang bagaimana gereja dapat berkembang secara lebih efektif. Penulis buku ini, Chris Galanos, menggambarkan Gerakan Pemuridan sebagai sebuah pendekatan yang berbeda dari model gereja tradisional. Buku ini terdiri dari 408 halaman dan diterbitkan untuk pertama kalinya pada Oktober 2024.
Gereja tradisional sering kali berfokus pada satu tokoh utama, seperti pendeta, yang menjadi pusat pelayanan. Namun, dalam model DMM (Disciple Making Movement), peran pendeta tidak lagi menjadi sentral. Sebaliknya, semua anggota jemaat diharapkan aktif dalam pelayanan, sehingga gereja bisa lebih luas menjangkau orang-orang yang belum percaya.
Chris Galanos memimpin gereja e-Life di Lubbock, Texas, selama sepuluh tahun. Selama masa itu, gerejanya berkembang pesat, dengan jumlah baptisan mencapai 6.756 orang. Pada hari ulang tahun ke-10 gerejanya, ada sekitar 13.337 orang yang hadir merayakannya. Dari pengalaman inilah, ia mengembangkan konsep Gerakan Pemuridan yang kini menjadi dasar buku ini.
Tujuh Prinsip Dasar Gerakan Pemuridan
Gerakan Pemuridan didasarkan pada tujuh prinsip utama:
- Fokus pada Firman Allah: Ini melibatkan membaca, menaati, dan menceritakan firman secara rutin.
- Melipatgandakan Doa: Jumlah jam doa setiap hari dan puasa akhir pekan meningkat.
- Menjangkau Orang-orang yang Belum Percaya: Tanpa kehadiran mereka, tidak akan ada gerakan.
- Membentuk Kelompok-kelompok: Dimulai dari kelompok penemuan yang berisi orang-orang yang belum percaya.
- Menyebarluaskan Visi: Terbentuk banyak tim yang bekerja bersama untuk mewujudkan visi tersebut.
- Melatih Orang Percaya: Mereka dilatih untuk menjadi pemurid dan perintis gereja.
- Pembinaan Berkelanjutan: Pelatihan harus dilakukan secara terus-menerus agar visi tercapai.
Istilah Khusus dalam Gerakan Pemuridan
Dalam Gerakan Pemuridan, terdapat istilah-istilah khusus yang digunakan untuk menjelaskan proses pelayanan:
- WOOLY: Singkatan dari Welcome (menerima), Open Oikos (terbuka), Listening (mendengarkan), dan Y (menjadi sifat). WOOLY merujuk kepada orang-orang yang belum percaya tetapi bisa menjadi kontak penting dalam gerakan ini.
- PIPSY: Merupakan akronim dari Poor (orang miskin), International (orang asing), Prisoner (tahanan), dan Sick (orang sakit). PIPSY menggambarkan kelompok yang menjadi fokus pelayanan Gerakan Pemuridan.
Kisah Nyata yang Menginspirasi
Buku ini juga menyertakan kisah-kisah nyata yang menunjukkan betapa efektifnya Gerakan Pemuridan. Misalnya, Akachi yang awalnya gagal menerapkan gerakan ini, namun kemudian semakin antusias. Andrew dan Kristin yang berhasil lepas dari jerat narkoba dan kemudian aktif dalam gerakan. Kate dari Thailand dan Lucy dari Tiongkok yang dibaptis setelah mengikuti pertukaran pelajar di Lubbock. Bahkan Ty, yang awalnya menolak, akhirnya menjadi salah satu pendukung terbesar gerakan ini.
Perbedaan Gereja ‘Kelinci’ dan ‘Gajah’
Gereja yang menjadi acuan dalam Gerakan Pemuridan adalah gereja rumah-rumah persekutuan seperti yang disebutkan dalam Kitab Kisah Para Rasul. Berbeda dengan gereja-gereja besar di Roma, Korintus, atau Efesus yang cenderung stagnan. Gereja ‘gajah’ sulit berkembang, sedangkan gereja ‘kelinci’ cepat berkembang. Oleh karena itu, definisi dan fungsi gereja perlu diubah agar pelipatgandaan menjadi nyata.
Kesimpulan
Buku ini sangat menarik, baik dari segi tema maupun gaya penyampaiannya. Banyak kisah nyata yang membuat pembaca bisa merasakan dampak nyata dari Gerakan Pemuridan. Meski begitu, penting untuk memahami bahwa gerakan ini adalah reaksi terhadap keadaan gereja yang dinilai stagnan. Dengan memperkuat partisipasi semua anggota jemaat, gereja bisa menjadi lebih efektif dalam menjangkau orang-orang yang belum percaya.












