Menteri KKP Pingsan Saat Upacara Penghormatan Korban Pesawat ATR 42-500
Momen mengejutkan terjadi saat upacara penghormatan korban pesawat ATR 42-500 di Jakarta Selatan. Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono tiba-tiba pingsan di hadapan para peserta upacara, termasuk keluarga korban dan rekan kerjanya. Kejadian ini memicu kepanikan di tengah suasana khidmat yang sedang berlangsung.
Awalnya, Sakti Wahyu Trenggono terlihat berdiri tegak di depan podium. Ia mengikuti prosesi upacara dengan penuh perhatian. Namun, setelah enam menit upacara dimulai, ia mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Sakti sempat memejamkan mata, memegangi hidungnya, serta memegang dasinya. Beberapa detik kemudian, ia memanggil ajudannya dan tampak sempoyongan sebelum akhirnya jatuh ke lantai, hingga kepalanya terbentur.
Kejadian ini langsung membuat para pegawai KKP lainnya panik. Beberapa dari mereka segera membantu Sakti yang dalam kondisi tidak sadar. Ia kemudian dibawa ke ruangan aman untuk pemulihan. Wakil Menteri KKP Didit Herdiawan mengungkapkan bahwa penyebab pingsan Menteri Sakti adalah kelelahan. “Kecapekan Pak Menteri,” ujar Didit Herdiawan.
Saat ini, kondisi Menteri Sakti sudah membaik dan ia telah sadar. Meski demikian, insiden tersebut tetap menjadi momen yang menyentuh bagi seluruh peserta upacara, terutama karena dilangsungkan dalam konteks penghormatan terhadap tiga pegawai KKP yang gugur dalam kecelakaan pesawat ATR.
Korban Asal Bogor: Ferry Irawan
Dari ketiga korban pesawat ATR 42-500, salah satu di antaranya berasal dari Kota Bogor. Almarhum Ferry Irawan, seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang tinggal di Kompleks Perumahan Mina Bhakti, Bogor Selatan. Kabar duka tentang kematian Ferry sempat membuat warga perumahan syok, terutama karena ia dikenal sebagai sosok yang peduli terhadap keselamatan lingkungan sekitarnya.
Ferry Irawan sering berkomunikasi dengan Ketua RT 06 Kompleks Mina Bhakti, Ari Fakhrizal, mengenai kondisi fasilitas di lingkungan rumahnya. Salah satu interaksi terakhirnya terjadi ketika lampu lapangan badminton pecah akibat bola yang dilemparkan anak-anak. Ferry segera menghubungi Ari untuk meminta agar masalah tersebut segera ditangani.
Dalam percakapan tersebut, Ferry menyampaikan pesan singkat yang kini menjadi kenangan bagi warga. “Beliau kan sibuk, jadi itupesan ke saya, ‘Pak Ustaz, jagain anak (saya) ya’,” kata Ari mengenang ucapan Ferry. Pesan itu mencerminkan kepedulian Ferry terhadap keamanan warga sekitar, meskipun ia jarang berada di rumah karena tuntutan tugas negara.
Ferry memiliki dua anak yang masih kecil dan tinggal di sekolah. Istrinya bekerja sebagai guru di sekolah perikanan, sementara Ferry sendiri bekerja di pusat. Dengan kepedulian dan tanggung jawabnya, Ferry menjadi contoh bagi banyak orang, baik di tempat kerja maupun di lingkungan sekitarnya.
Kesedihan dan Kenangan Bersama
Insiden kecelakaan pesawat ATR 42-500 tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga korban, tetapi juga bagi seluruh masyarakat yang mengenal para korban. Para pegawai KKP yang gugur dalam kejadian tersebut dikenang sebagai sosok-sosok yang berdedikasi dan penuh tanggung jawab. Upacara penghormatan yang dilaksanakan hari ini merupakan bentuk penghormatan atas dedikasi dan kontribusi mereka dalam menjalankan tugas negara.
Meskipun ada momen mengejutkan seperti pingsannya Menteri Sakti Wahyu Trenggono, upacara tersebut tetap berjalan dengan penuh rasa hormat dan kesedihan. Para peserta upacara berharap agar korban-korban tersebut mendapat tempat yang layak di alam baka, serta keluarga mereka diberi kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi duka ini.












