Budaya  

Mengenangmu dengan Ikhlas

“Telah berpulang ke rumah Bapa di Surga, saudara kita…”
Ketika membaca pemberitahuan di WhatsApp, Facebook, Instagram atau media sosial lainnya tentang beberapa teman dan kenalan yang berpulang, baik itu di usia yang masih terbilang muda maupun memang sudah berusia lanjut, saya merasa sedih di satu sisi, tapi di sisi yang lain, ada “pemberitahuan” yang harus saya cermati. Pemberitahuan tersebut adalah saya tidak tahu kapan saya akan berpulang. Setiap manusia tidak tahu kapan Tuhan memanggil kembali kepada-Nya.

Beberapa malam penghiburan dan perjalanan menemani beberapa kawan ke tempat peristirahatan terakhir selalu mengingatkan saya akan kehidupan manusia yang fana ini. Suatu saat saya akan meninggalkan raga ini. Dengan cara bagaimana?

Beberapa teman dan kenalan tersebut berpulang karena berbagai sebab. Ada yang karena sakit. Ada yang disebabkan kecelakaan lalu lintas. Ada yang murni karena faktor lanjut usia. Terlepas dari berbagai kemungkinan tersebut, timbul pertanyaan yang paling mendasar di benak saya: Jika aku meninggalkan dunia ini, orang lain akan mengenangku sebagai apa?

Seperti misalnya, Ben (bukan nama sebenarnya), seorang sahabat yang bagaikan saudara kandung, meninggal di bulan Februari 2020, saat-saat Covid-19 mulai menjadi bahaya mematikan di seluruh dunia. Rasa sedih tak terkira memedihkan hati. Ben bagaikan adik laki-laki yang tak pernah saya punyai secara lahiriah dalam keluarga. Dia lebih akrab daripada saudara sedarah. Gagal ginjal dan diabetes yang dia derita membuat hidupnya menderita. Dia tidak hanya meninggalkan istri dan seorang anak perempuan. Dia juga meninggalkan kesan yang sangat baik di mata semua teman, kerabat, kenalan, dan handai tolan.

Meskipun berada dalam kondisi sakit, Ben tetap melayani pekerjaan Tuhan sebagai worship leader, pemimpin pujian di gereja dalam ibadah raya di hari Minggu. “I just can drink half of this water,” Ben selalu berkata dalam bahasa Inggris saat sehat dan bahkan di saat sakit sekalipun. Tentu saja, dia berbicara kepada saya dalam bahasa Inggris, dan selalu menyebut brother kepada saya.

Water, air yang disebutkan oleh Ben mengacu pada setengah gelas air mineral. Dia hanya bisa minum setengah gelas air mineral dalam sehari! Bayangkan! Kalau ukuran standar air mineral kemasan gelas adalah 220 ml, maka kalau cuma setengahnya, berarti Ben hanya bisa mengonsumsi 110 ml air dalam sehari! Padahal orang dewasa harus minum air putih, paling tidak, standarnya adalah 2 sampai 2,5 liter atau 2000 sampai 2500 ml dalam sehari!

Meskipun saya tidak pernah menjalani posisi sebagai worship leader, saya bisa merasakan betapa dahaganya setelah berbicara cukup lama dalam waktu hampir dua jam dalam ibadah. Profesi sebagai guru juga menjadi pembanding samanya nasib dalam merasakan dahaga selama dua jam bahkan lebih, karena harus bersuara cukup lama.

Mayoritas kenalan salut dengan Ben. Meskipun menghadapi keterbatasan yang sangat akut, Ben tetap melayani pekerjaan Tuhan. Walaupun dia tidak mendapat imbalan secara materi lewat pelayanan ini, namun dia tetap maksimal dalam mengerjakan. “Kau sudah tak sakit lagi, brother…,” hanya itu kalimat yang terlontar dari mulut saya, meskipun tak seorang pun yang tahu kalau saya mengucapkan hal tersebut. Sedih. Tapi dengan berpulangnya Ben, dia sudah merasakan ketenangan dan kebebasan dari penderitaan.

Kebanyakan orang mengenang Ben sebagai pribadi yang tangguh. Meskipun memiliki disabilitas. Iman percaya kepada Tuhan menjadi koentji yang dimiliki Ben, sehingga dia tetap bisa bertahan sampai waktu dia harus pulang ke rumah Bapa di surga.

Lain Ben, lain pula Donald (bukan nama sebenarnya). Bisa dikatakan Donald adalah sosok kontroversial. Mulutnya yang ‘tajam’, problem dengan istri, sampai tutup usia beberapa tahun yang lalu. Satu kata untuk menggambarkan Donald: tragis. Di saat meregang nyawa, istri dan anak-anaknya tidak bersamanya.

Mengenang Donald memang sangat sulit. Di satu sisi, dia sosok yang agak susah mengekang kata-kata. Di sisi yang lain, sang istri membongkar rahasia suami yang tidak baik dan memilih untuk “berpisah”, bahkan di saat sang suami sangat membutuhkan dukungan keluarga.

Faktor penentu cara pandang

Terkadang susah mengontrol penilaian orang lain. Mereka yang menilai kita menurut sudut pandang mereka, seperti halnya kita menilai diri mereka masing-masing menurut pemandangan kita secara pribadi.

Dalam hal ini, hidup yang singkat ini menunjukkan betapa waktu yang dipunyai setiap insan adalah sangat berharga dan sayang untuk disia-siakan.

Dalam hal ini, saya merenungkan setiap teman yang sudah berpulang, setiap anggota keluarga yang sudah tidak bersama dengan saya di dunia ini.

Setiap insan mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Yang mana yang lebih dominan di dalam benak handai tolan? Apakah yang baik atau yang buruk? Kita yang menentukan cara pandang orang.

Yang menjadi pertanyaan: Menentukan cara pandang orang dari hal apa?

Menurut saya, ada dua hal yang menentukan cara pandang orang lain akan kita yang kelak seandainya kita tidak ada lagi di dunia ini, mereka akan mengenang kita sebagai sosok tersebut:

  1. Perbuatan

    Tentu saja, hal pertama yang terlihat nyata adalah perbuatan-perbuatan kita dalam keseharian. Apa yang kita perbuat menjadi ‘penampakan’ nyata akan sifat, karakter kita, baik itu dalam belajar, bekerja, maupun bersosialisasi.

Misalnya, contoh yang paling sederhana adalah disiplin diri. Bagaimana kita datang ke tempat kerja? Sering terlambat atau tepat waktu? Bagaimana dengan saat bekerja? Malas-malasan atau sangat rajin? Bagaimana dengan tenggat waktu pekerjaan? Apakah mengerjakan dan mengumpulkan pekerjaan sesuai tanggal dan waktu yang ditentukan?

Berbagai perbuatan merupakan cerminan hati yang paling dalam. Apakah hanya disiplin diri? Ada lagi hal lain yang sangat langka di negeri +62 ini. Karakter yang sangat susah ditemui di Indonesia dari doeloe sampai sekarang (dan entah sampai kapan).

Karakter tersebut adalah karakter kejujuran. Sifat tamak dan koruptif yang menjadi “kanker” yang menggerogoti bumi pertiwi ini. Segala kekayaan alam dan keunggulan sumber daya manusia menjadi mubazir. Tidak diperuntukkan untuk seluruh warga +62, tapi hanya untuk segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab.

Oleh karena itu, legacy berupa perbuatan-perbuatan nyata yang baik dan benar layak mengemuka. Warisan perbuatan itu lebih ‘bersuara’ lantang, meskipun nomor dua juga sama pentingnya.

  1. Perkataan

    Perbuatan dan perkataan bagaikan dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Keduanya saling berkaitan. Kalau perbuatan melibatkan indra penglihatan, perkataan menggunakan indra pendengaran untuk menilai karakter seseorang.

Apa yang mulut ucapkan sangat mempengaruhi penilaian. Diksi menjadi gambaran wawasan seseorang. Apa yang keluar dari mulut berasal dari hati. Semua kata yang terlontar mencerminkan kepribadian sang insan.

Dan patut diingat, perkataan saat ini tidak hanya berasal dari lisan belaka. Sekarang, mulutmu harimau-mu bukan satu-satunya asal muasal perkataan, tapi “perkataan” sudah merambah ke tulisan. Dulu tulisan hanya sebatas pada buku-buku fisik, namun sekarang sudah meluas kepada buku-buku digital, artikel-artikel di blog pribadi dan blog keroyokan seperti , bahkan sampai ke status-status di berbagai media sosial.

Sekali salah dalam berkomentar atau menuliskan di dunia maya, bisa runyam dampak yang akan diterima! Kebebasan bisa terancam dan jeruji besi penjara seakan menanti. Dampak panjang yang mungkin diterima adalah sanksi sosial. Pengucilan dari netizen dan warga +62 baik secara offline dan online bisa terjadi.

Oleh karena itu, hati-hati dengan perkataan kita. Cermat dulu sebelum berkata, karena kalau kata-kata sudah terlontar, kata-kata tersebut tidak bisa ditarik kembali. Teliti juga sebelum meninggalkan jejak digital dalam bentuk tulisan di media sosial dan dunia maya. Karena, sekalipun kita bisa menghapusnya, jejak digital tersebut belum tentu terhapus secara “sempurna”.

Dua hal sebagai ukuran

Akhir kata, dua hal sebagai ukuran. Perbuatan dan perkataan. Alat ukur untuk mengenang seseorang sebagai sosok pemenang atau pecundang. Mungkin banyak yang sudah mengetahui akan dua hal ini untuk meninggalkan legacy. Pertanyaannya: Apakah dua hal ini sudah menjadi cerminan dalam keseharian untuk mewariskan kenangan yang bermakna bagi semua insan yang mengenal?

Biarlah setiap pribadi mengevaluasi perbuatan dan perkataan dari hari ke sehari. Supaya hidup lebih bernilai bagi sesama. Agar kenangan akan kita tidak tercoreng oleh perbuatan buruk atau perkataan yang tidak sepatutnya.

Semua akan kembali kepada-Nya. Setiap orang akan mengenang Anda sebagai…. Biarlah setiap insan menjawab berdasarkan perbuatan dan perkataan masing-masing.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?