Kehidupan Warga Rohingya di Pengungsian Pekanbaru
Pagi menjelang siang, Kamis (28/1/2026) di pengungsian warga Rohingya di Pekanbaru. Di tempat ini, Rahul dan teman-temannya sebaya tampak asik bermain sepak bola plastik seukuran bola tenis. Tawa kecil sesekali terdengar dari wajah-wajah polos mereka.
Tidak ada lapangan khusus untuk bermain. Lokasi Rahul bermain sepak bola merupakan gang masuk menuju tempat pengungsian, jalan yang berada di belakang Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pekanbaru di Jalan O.K.M. Jamil Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru. Tanah hitam yang di samping kiri dan kanannya terdapat potongan kayu berukuran setengah meter. Kayu-kayu yang sengaja disusun itu merupakan milik warga Rohingya. Mereka mencarinya di lahan yang tampak ditumbuhi pepohonan.
Saat tengah memperhatikan di sekitar, tiba-tiba teriakan menyapa. “Om, om.” Teriakan terdengar mengarah ke suatu tempat. Namun sosoknya tidak tampak. Kemudian suara teriakan tersebut kembali mengarah ke arah lain. “Om, om, di atas sini,” lalu mendongakkan kepala. Ternyata teriakan itu dari seorang anak laki-laki yang usianya sekira 14 tahun yang sedang memanjat pohon.
“Wah, ternyata di atas ya,” ungkap Rahul. “Nama kamu siapa? Kamu pandai berbahasa Indonesia?” tanya dia. Tak disangka, pertanyaan dijawab lugas dengan bahasa Indonesia lancar. “Bisa. Saya sudah dua tahun di sini,” jawabannya. “Ayo turun. Kita bicara sebentar,” pinta Rahul. “Baik, om,” ujarnya sembari perlahan turun dari pohon yang tingginya sekira tiga meteran itu.
“Nama kamu siapa?” memulai percakapan. “Saya Rahul,” ujarnya singkat. “Kamu senang tinggal di sini?” tanya lagi. Rahul hanya tersenyum. Namun, senyum itu seperti hambar. Sesekali ia memalingkan wajahnya ke arah teman-temannya yang tampak asik menyepak bola. “Apa cita-citamu?” melontarkan pertanyaan lagi. Dari pertanyaan itu, Rahul seperti sedikit tersentak. Air mukanya jelas menggambarkan ada sebuah harapan. Meskipun ia sulit untuk mengutarakannya. Namun, secara perlahan, dengan bahasa Indonesia yang lumayan lancar, Rahul sedikit demi sedikit membuka apa sejatinya yang ia inginkan.
Dan ketika pertanyaan cita-cita apa yang ingin ia gapai, Rahul dengan harapan polos menjawabnya. “Saya ingin bermain bola. Saya ingin sekolah, saya ingin dapatkan rumah sakit yang baik, rumah yang baik,” ungkapnya. Jawaban Rahul membuat seakan melihat lebih dalam bagaimana kondisi warga Rohingya di pengungsian ini. Apalagi seminggu yang lalu, atau tepatnya Kamis 20 Januari 2026, seratusan orang Rohingya di Pekanbaru menggelar aksi. Mereka menyampaikan aspirasi terkait kehidupan yang layak. Ya, mereka menuntut International Organization for Migration (IOM) untuk memberikan perhatian. Sebab, sejak tahun 2023, bantuan Internasional bagi mereka mulai dikurangi. Tak lagi ditanggung penginapan, tak lagi ditanggung kesehatan dan pendidikan. Bahkan uang bulanan untuk makan juga dikurangi.
Aspirasi itu pula yang masih terngiang di telinga Rahul hingga ia menyampaikan lagi ke orang yang bersamanya. Bahkan dengan gamblang ia menyampaikan bagaimana ia ingin tempat tinggal yang nyaman. “Saya dari Myanmar. Kemudian sampai ke Aceh dan sekarang di sini. Saya ingin tempat tinggal yang bagus. IOM tidak lagi berikan kami rumah sakit,” ungkapnya. Rahul menambahkan, jika ia ingin tempat tinggal yang bersih tidak seperti sekarang yang kotor dan basah.
Saat mempertanyakan apakah dirinya sedih dengan kondisi ini, Rahul terdiam. Nampak matanya mulai berkaca-kaca. Tetapi, ia mampu menyembunyikannya. Ia berusaha tegar. Pengalamannya hingga sampai ke pengungsian sepetinya telah membuat Rahul menjadi kuat. Tak ada air mata. Dan mungkin (barangkali) air mata itu terasa percuma jika ia curahkan. “Saya ingin teman-teman di sini. Teman-teman orang Indonesia. Kami ingin bermain,” Rahul menjawab pelan. Mulutnya tampak sedikit bergetar. Namun ia masih berusaha tegar. Pelan, Rahul kembali menyambung kalimatnya. “Kami sebelumnya dapat hotel (penginapan yang layak), namun orang IOM mengusir kami. Kami juga tidak lagi dapat rumah sakit. Kami tidak punya uang. Orang IOM tidak memberinya lagi,” ujar Rahul dengan suara seolah menahan rasa sedih yang membuncah di dalam.
Dan kesedihan itu akhirnya ia sampaikan juga kepada orang yang bersamanya. Ketika Rahul menceritakan bagaimana ia terusir dari kampung halamannya dan keluarganya juga menjadi korban. “Saya mau balik lagi ke Myanmar. Saya ingin berkelahi. Abang saya ada yang menjadi korban. Saya sedih. Saya ingin balas,” ungkapnya dengan menyimpan marah.
Ingin Anak Punya Masa Depan
Kemarahan Rahul sungguh seperti sebuah kondisi yang tidak mungkin ia nyatakan lewat aksi pembalasan. Kenyataan kini ia terusir dan harus bertahan hidup lewat bantuan dunia Internasional. Tentu saja, yang lebih nyata yang mereka hadapi adalah bagaimana masa depan kelak ketika sudah besar. Jangankan berfikir untuk kembali ke Myanmar dan menuntut mereka yang telah mengusir, untuk bertahan hidup saja, sudah menghabiskan waktu dan tenaga mereka.
Kini anak-anak Rohingya di Pekanbaru, hanya bisa berharap dari orangtunya. Orangtua mereka yang kini memang langsung dihadapkan pada tantangan masa depan. Tidak hanya memastikan keberlanjutan hidup, namun juga nasib anak-anak yang kini ada di pengungsian jauh di negeri orang.
Muhammad Zubaid kepada mengungkapkan bagaimana nasib anak-anak Rohingya di Pengungsian. Dengan bahasa Indonesia yang lancar, Zubaid mengungkapkan bahwa ia yang cemas. Ia yang sangat khawatir dengan masa depan anak-anak. “Sekarang mereka tidak sekolah. Mereka juga tidak mendapatkan kesehatan yang layak. Bagaimana masa depan mereka,” ungkap Zubaid. Menurutnya, para orangtua sakit hati dengan kondisi saat ini. Bagaimana masa depan anak ketika mereka sudah besar nanti. “Anak-anak selalu bertanya. Mereka ingin belajar, mereka ingin sekolah. Tapi kami orangtua harus menjawab apa. Semua tidak bisa. Kondisi itu membuat orangtua menangis.”
Zubaid mengatakan, kondisi tersebut dikhawatirkan anak-anak akan tumbuh dengan tidak ada bimbingan lewat pendidikan yang layak. Hal yang menurutnya akan memicu mereka tumbuh dan melakukan hal yang merugikan. “Kelak besar mereka bisa mencuri. Melakukan tindakan yang jahat. Karena kita tidak punya link, mau masukan anak sekolah tidak ada yang bisa menerima,” ungkapnya. Harapannya Zubaid, anak-anak punya masa depan yang baik. Punya harapan untuk cita-citanya. “Lihat rumah kami itu. Anak-anak dengan kondisi sekarang. Bagaimana menjawabnya ketika mereka ingin sekolah, ingin belajar Alquran. Kami tidak butuh uang, tapi masa depan anak-anak kami,” ungkapnya.
Pernyataan Rahul yang sejalan dengan keinginan Muhamad Zubaid telah menggambarkan bagaimana anak-anak Rohingya di Pekanbaru hidup dalam pengungsian. Mereka yang masih polos, dengan wajah penuh pengharapan. Cita-cita mereka disembunyikan oleh orangtua mereka masing-masing. Terpaksa dilakukan, karena cita-cita bagi anak-anak mereka belum jelas jalannya. Seperti pernyataan Zubaid, jika anak-anak dibiarkan tumbuh tanpa pendampingan pendidikan dan sekolah, maka bukan tidak mungkin mereka akan bertahan hidup dengan cara yang bisa merugikan orang lain.
Kesibukan para orangtua berjalan dinamis di rumah-rumah dengan atap terpal berwarna biru itu. Ibarat perkampungan kecil, warga Rohingya menjalankan aktifitasnya. Sementara Rahul juga mengisi hari-harinya dengan teman sebaya. Seorang anak gadis berusia tujuh tahun bernama Fatimah terus asik dengan permainan lempar batu. Dikelilingi teman-temannya, Fatimah tidak menghiraukan lalu lalang orang yang masuk ke pemukiman. Mereka bermain mengisi waktu pagi dan sore hari. Ketika perut telah terisi dan teman-teman mengajak untuk bergembira.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."












