Perjanjian New START Berakhir, Dunia Menghadapi Ancaman Nuklir yang Meningkat
Perjanjian pengendalian senjata nuklir New START antara Amerika Serikat dan Rusia berakhir pada hari ini, memicu kekhawatiran serius tentang potensi meningkatnya risiko konflik nuklir. Dengan berakhirnya perjanjian ini, dua negara dengan persenjataan nuklir terbesar di dunia tidak lagi memiliki batasan resmi dalam pengembangan senjata mereka. Ini menjadi pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun, situasi ini terjadi.
Para analis mengingatkan bahwa hilangnya kontrol ini dapat memicu perlombaan senjata besar-besaran, yang berpotensi memperburuk ketegangan global. Mereka menilai bahwa tanpa adanya pembatasan, negara-negara seperti Rusia, AS, dan China mungkin akan memperluas persenjataan nuklir mereka untuk meningkatkan daya tawar atau menunjukkan ketangguhan.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa pihaknya siap mematuhi batasan perjanjian selama satu tahun tambahan jika AS juga bersedia melakukan hal yang sama. Namun, Presiden AS Donald Trump hingga saat ini belum memberikan komitmen yang jelas. Trump menginginkan kesepakatan di masa depan yang melibatkan China, meskipun pejabat Gedung Putih menekankan bahwa AS tetap ingin mempertahankan batasan senjata nuklir sambil membuka ruang untuk negosiasi dengan negara lain.
Sementara itu, China telah menolak tawaran pembatasan senjata nuklir, dengan alasan bahwa jumlah persenjataan nuklir mereka jauh lebih sedikit dibandingkan AS dan Rusia. Meski demikian, China terus berkembang dalam pengembangan teknologi nuklir, sehingga menjadi ancaman yang semakin nyata.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, memperingatkan bahwa tanpa batasan, dunia akan menjadi lebih berbahaya. Para pendukung pengendalian senjata sepakat bahwa berakhirnya perjanjian New START dapat memicu ketidakstabilan global dan meningkatkan risiko konflik nuklir.
Daryl Kimball, direktur eksekutif Asosiasi Pengendalian Senjata, menjelaskan bahwa berakhirnya New START akan memungkinkan AS dan Rusia meningkatkan jumlah senjata nuklir yang dikerahkan. Ia menilai ini akan membuka kemungkinan perlombaan senjata tiga arah yang tidak terkendali, termasuk melibatkan China.
Kingston Reif, mantan pejabat senior Pentagon, memperingatkan bahwa hilangnya perjanjian tersebut dapat mendorong negara-negara untuk merencanakan skenario terburuk. Negara-negara mungkin merasa terdorong untuk memperluas persenjataan mereka guna menunjukkan ketangguhan atau mendapatkan daya tawar dalam negosiasi.
Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya retorika nuklir dari Rusia sejak invasi ke Ukraina pada Februari 2022. Putin telah beberapa kali menyinggung kemampuan nuklir Rusia dan pada 2024 menandatangani doktrin nuklir yang direvisi dengan menurunkan ambang batas penggunaan senjata nuklir.
Sejarah Perjanjian New START
Perjanjian START asli diratifikasi pada 1991. Perjanjian New START, yang ditandatangani pada 2010 oleh Barack Obama dan Presiden Rusia saat itu, Dmitry Medvedev, membatasi masing-masing pihak memiliki 1.550 hulu ledak nuklir yang ditempatkan pada tidak lebih dari 700 rudal dan pesawat pembom. Perjanjian ini diperpanjang pada 2021 selama lima tahun, tetapi inspeksi dihentikan selama pandemi Covid-19 dan tidak pernah dilanjutkan.
Pada Februari 2023, Putin menangguhkan partisipasi Rusia dalam inspeksi dengan alasan dukungan AS kepada Ukraina, sambil menegaskan bahwa Rusia akan tetap menghormati batasan perjanjian tersebut. Pada September lalu, Rusia menawarkan untuk tetap berpegang pada batasan tersebut selama satu tahun lagi guna memberi waktu untuk menegosiasikan pengganti perjanjian, seraya memperingatkan bahwa berakhirnya perjanjian tersebut akan mendestabilisasi situasi dan dapat memicu proliferasi nuklir.
Rose Gottemoeller, kepala negosiator AS untuk pakta tersebut, mengatakan perpanjangan singkat akan melayani kepentingan Amerika Serikat dan tidak akan melemahkan upaya menanggapi peningkatan nuklir China. Gottemoeller menekankan nilai strategis dari perjanjian tersebut.
Ancaman Baru dan Ketegangan Global
Ancaman runtuhnya Perjanjian New START menyusul kegagalan perjanjian pengendalian senjata sebelumnya, termasuk Perjanjian INF pada 2019 dan penarikan AS dari Perjanjian Rudal Anti-Balistik pada 2001. Rusia telah lama berpendapat bahwa sistem pertahanan rudal AS mengancam pencegahan nuklirnya, yang mendorong pengembangan senjata baru seperti drone bawah air bertenaga nuklir Poseidon dan rudal jelajah bertenaga nuklir Burevestnik.
Ketegangan semakin meningkat akibat usulan sistem pertahanan rudal “Golden Dome” dari Donald Trump, yang menurut Rusia dapat memicu perlombaan senjata baru. Kimball memperingatkan bahwa Rusia dan China kemungkinan akan merespons dengan membangun lebih banyak senjata ofensif, yang lebih murah dan lebih cepat diproduksi dibandingkan sistem pertahanan.
Selain itu, kekhawatiran juga muncul akibat pernyataan Trump tahun lalu tentang kemungkinan dimulainya kembali uji coba nuklir AS, sesuatu yang menurut Putin akan ditiru Rusia jika hal itu terjadi. Kimball mengatakan dunia sedang memasuki fase persaingan strategis yang jauh lebih berbahaya.
Negara dengan Senjata Nuklir
Negara-negara kekuatan nuklir dunia memiliki lebih dari 12.000 hulu ledak nuklir. Senjata-senjata ini dapat membunuh jutaan orang secara langsung dan, melalui dampaknya terhadap pertanian, berpotensi membunuh miliaran orang. Senjata nuklir menewaskan antara 110.000 hingga 210.000 orang ketika Amerika Serikat menggunakannya terhadap kota-kota Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, pada Agustus 1945.
Senjata-senjata ini hampir digunakan kembali lebih dari selusin kali sejak saat itu. Karena itu, negara-negara telah berupaya membatasi proliferasi dan jumlah senjata nuklir. Hanya sedikit negara yang memiliki senjata nuklir, tetapi beberapa di antaranya memiliki persenjataan dalam jumlah besar.
Mengutip ourworldindata.org, saat ini sembilan negara memiliki senjata nuklir, yakni Rusia, Amerika Serikat, China, Prancis, Inggris Raya, Pakistan, India, Israel, dan Korea Utara. Namun jumlah yang mereka miliki bervariasi.

Grafik berikut menunjukkan betapa jauhnya perbedaan jumlah hulu ledak antara Amerika Serikat dan Rusia dibandingkan negara-negara lainnya. Bagan tersebut juga menunjukkan bahwa hulu ledak berbeda dalam hal bagaimana senjata itu dapat digunakan. Beberapa dirancang untuk penggunaan strategis di luar medan perang, seperti terhadap industri senjata atau infrastruktur, sementara yang lain untuk penggunaan taktis nonstrategis di medan perang.
Sementara itu, sebagian hulu ledak tidak dikerahkan atau bahkan telah dipensiunkan dan menunggu untuk dibongkar, namun sebagian besar masih dikerahkan pada rudal balistik atau pangkalan pembom dan dapat digunakan dengan cepat.












