Cinta Ada Di Diri Kita



“Ketika kamu mencari cinta, sesungguhnya kamu sedang mencari dirimu sendiri. Karena cinta itu tidak perlu dicari, ia sudah ada di dalam diri manusia.”

Ungkapan ini dinyatakan oleh Jalaluddin Rumi, seorang penyair sufi ternama dari Persia yang kini berubah nama menjadi Iran. Dalam salah satu syairnya, ia menyampaikan pesan yang mendalam tentang makna cinta.

“Tujuanmu bukanlah mencari cinta, melainkan menemukan dan menghancurkan semua penghalang dalam dirimu sendiri yang telah kamu bangun untuk menentangnya,” kata Rumi.

Pesan ini bisa diinterpretasikan bahwa cinta sesungguhnya sudah ada di dalam diri setiap manusia. Oleh karena itu, manusia tidak perlu mencari cinta dengan keluar dari dirinya sendiri. Cinta adalah fitrah, sifat asli yang sudah tertanam di dalam hati manusia.

Menurut pandangan Syā’irul Hubb (Penyair Cinta), cinta sejati sering dikaitkan dengan mahabah, yaitu kecintaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Hal ini menunjukkan bahwa cinta tidak hanya terbatas pada hubungan antar manusia, tetapi juga mencakup hubungan dengan Tuhan.

Rumi mengibaratkan kalbu sanubari manusia seperti cermin yang terprogram untuk memantulkan cahaya illahi. Jika cermin tersebut bersih dan bebas dari kotoran penghalang, maka ia mampu menggapai tajalli, pencerahan spiritual, dengan merasakan adanya pantulan cahaya ilahi di dalam dirinya.

Penghalang Cahaya Cinta



Dalam pandangan tasawuf Jalaluddin Rumi, keterikatan berlebihan terhadap dunia fana seperti harta, kedudukan, dan kenikmatan fisik menjadi penghalang utama. Dunia seolah menjadi penjara bagi kalbu sanubari, sehingga manusia tidak dapat menghadapi keinginan yang tak pernah berkesudahan.

Penghalang lainnya adalah kesombongan dan keegoisan. Ketika manusia merasa dirinya paling benar, mereka menutup hatinya dari kebenaran pihak lain. Akibatnya, mereka merasa tidak membutuhkan Tuhan.

Akal seperti lentera di tangan, sedangkan spiritualitas seperti cahaya bintang di langit malam. Lentera digunakan untuk menerangi jalan setapak nan gelap, sedangkan cahaya bintang memberi petunjuk arah yang lebih luas.

Agar tidak menjadi penghalang yang menutupi kalbu sanubari untuk memantulkan cahaya illahi, manusia perlu memanfaatkan akal secara maksimal dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan.

Kasih Sayang



Cinta atau kasih sayang merupakan kebutuhan universal umat manusia. Dalam perspektif psikologis, biologis, dan sosiologis, cinta dan kasih sayang berada dalam ranah kebutuhan dasar manusia.

Bagi kalangan Islam moderat, kasih sayang tidak dibatasi oleh agama, ras, atau budaya. Mereka mengambil pandangan inklusif dan kontekstual dalam menyikapi Hari Kasih Sayang.

Islam moderat menjadikan perilaku kasih sayang sebagai gaya hidup, sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Teladan kasih sayang Rasulullah terlihat dalam perilaku lembut, pemaaf, dan perhatian besar kepada keluarga, anak yatim, umat, dan bahkan orang yang berseberangan secara frontal.

Aktivitas Sosial



Kalangan Islam moderat dalam banyak kesempatan mendorong pergeseran fokus dari perayaan yang bersifat seremonial ke arah aktivitas sosial riil. Mereka berpandangan bahwa nilai kasih sayang tidak hanya duduk manis sebagai simbolisme semata, tetapi harus diterjemahkan menjadi wujud tindakan nyata.

Beberapa contoh aktivitas sosial yang dilakukan antara lain:

Pembagian makanan sehat dan bahan pokok di panti asuhan, panti jompo, atau kawasan permukiman yang kurang beruntung.

Kerja bakti membersihkan tempat ibadah dan fasilitas umum.

Kunjungan ke rumah singgah anak-anak penyandang disabilitas, pasien kanker, atau pengungsi.

Penyelenggaraan kegiatan sumbang darah secara massal.

Mendonasikan buku cerita, alat tulis, atau mengajar secara sukarela di sekolah-sekolah yang kekurangan.

Diskusi santai yang melibatkan tokoh-tokoh atau pemuda-pemuda dengan latar belakang berbeda-beda, fokus pada kesamaan perspektif dalam memanifestasikan kasih sayang.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?