Buku sebagai Teman Sejati
Ada orang-orang yang sangat mencintai membaca. Salah satunya adalah Bung Hatta, yang begitu cinta dengan buku hingga rela dibuang ke Digul, Papua Selatan, pada tahun 1935 oleh pemerintah kolonial Belanda. Ia meminta untuk membawa buku-bukunya yang jumlahnya sebanyak 16 peti. Dalam perjalanan hidupnya, Bung Hatta menunjukkan bahwa buku bisa menjadi teman sejati yang selalu menyertai dalam segala situasi.
Selain Bung Hatta, Presiden Amerika Serikat ke-44, Barack Husein Obama, juga memiliki cinta mendalam terhadap membaca. Meskipun sibuk sebagai pemimpin negara, ia tetap menyisihkan waktu untuk membaca. Pagi hari, ia mulai dengan membaca The Wall Street Journal dan surat kabar lainnya. Malam hari, ia masih menyisihkan satu jam untuk larut dalam bukunya. Bahkan saat liburan, ia tidak ragu membawa kumpulan buku sebagai sahabatnya.
Dalam setiap jeda libur, Gedung Putih sering membagikan daftar bacaan pilihan Obama. Daftar tersebut tidak hanya menunjukkan minatnya terhadap literatur, tetapi juga memberikan wawasan tentang visi Amerika ke depan. Kesenangan membaca membuat Obama mampu berkomunikasi dengan baik dan memahami berbagai perspektif.
Membaca dan Kehidupan
Membaca adalah aktivitas yang semakin jarang dilakukan di era modern ini. Banyak orang menganggapnya sebagai pekerjaan berat dan melelahkan. Saat ini, orang lebih terbiasa dengan berita singkat dan informasi cepat yang tersedia di internet. Akibatnya, membaca buku yang membutuhkan fokus dan imajinasi menjadi aktivitas yang tidak asyik atau bahkan sulit dilakukan.
Namun, membaca bukan sekadar menggerakkan mata pada kata-kata. Ini melibatkan jiwa untuk memahami, merenungkan, dan menyambungkan makna dari apa yang telah dibaca. Jika tidak dijaga, buku dan membaca akan menjadi hal yang asing dalam kehidupan manusia.
Program ‘Reading Hour’ di SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe
Sekolah memiliki peran penting dalam menumbuhkan kebiasaan membaca. Di SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe, program ‘Reading Hour’ telah menjadi bagian dari rutinitas siswa. Setiap hari Kamis pagi, selama 90 menit, siswa dan guru berkumpul di area selasar sekolah untuk membaca. Mereka membagi diri ke dalam kelompok-kelompok melingkar dan ditemani oleh wali kelas.
Sebelum membaca, siswa harus mengisi ‘reading log’ yang berisi beberapa paragraf tentang apa yang telah dibaca. Setelah itu, dua atau tiga siswa maju ke depan untuk berbagi pengalaman mereka. Program ini tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga memperluas daya cipta dan kreativitas siswa.
Jumat Berbagi Inspirasi
Selain ‘Reading Hour’, ada program lain bernama Jumat Berbagi Inspirasi. Setiap Jumat pagi, para guru dan karyawan berkumpul dalam lingkaran besar untuk berbagi apa yang telah mereka baca. Mulai dari novel Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer hingga Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela, berbagai buku disajikan dalam sesi ini.
Kegiatan ini tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan antusiasme untuk belajar. Di SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe, buku-buku menjadi balok-balok yang saling menyusun pikiran dan membuka sudut pandang baru. Para karyawan saling menginspirasi, menunjukkan bahwa membaca adalah cara untuk terus tumbuh sebagai manusia yang berpikir, merasa, dan mengerti dunia dengan lebih dalam.
Membacalah!
Bung Hatta dan Obama adalah dua sosok yang menjadikan buku sebagai teman sejati. Dari membaca, mereka menemui arah, menyalakan gagasan, dan mendirikan semangat perubahan. Maka, mulailah membaca agar terbiasa. Mulailah dengan hal-hal sederhana dan ringan untuk dibaca. Setelah kebiasaan membaca mulai menjalar, tingkatan membaca akan melambung dengan sendirinya.
Semua pihak harus bahu-membahu untuk memelihara spirit membaca ini. Rumah harus dipenuhi buku-buku menarik yang akan mengikat siswa, dan sekolah memelihara bara api literasi sehingga terus menyala sepanjang masa.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”












