Pengumuman Awal Ramadan 1447 Hijriyah
Sidang Isbat telah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriyah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan ini menjadi momen penting bagi umat Islam di Indonesia dalam menyambut bulan suci yang penuh makna dan kesucian.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak masyarakat untuk tetap menjaga kerukunan meskipun terdapat perbedaan dalam memulai puasa. Ia berharap keputusan ini dapat menjadi momentum kebersamaan bagi seluruh umat Islam dalam merayakan Ramadan.
“Apabila umat Islam ada yang memulai puasa berbeda, tolong jaga kerukunan. Indonesia memiliki keberagaman yang indah. Jika ada perbedaan, mari kita terima sebagai kekayaan khazanah keberagaman Indonesia,” ujarnya dengan tegas.
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Iskandar, menekankan pentingnya persatuan umat Islam di tengah perbedaan yang bersifat teknis. Ia menilai bahwa perbedaan tersebut bisa menjadi bagian dari harmoni yang indah jika dikelola dengan baik.
“Bangsa kita ini terdiri dari berbagai latar belakang, bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan itu sifatnya teknis, bisa kita pahami dan maklumi. Tetapi yang paling penting adalah keutuhan sebagai umat Islam,” katanya.
Anwar juga menegaskan bahwa perbedaan tidak boleh menjadi sumber perpecahan selama tidak menyentuh persoalan akidah. Ia menilai bahwa perbedaan justru bisa menjadi bagian dari kekayaan ilmu pengetahuan dan tradisi intelektual Islam.
“Perbedaan akan menjadi harmoni yang indah dan menjadi hal penting untuk persatuan Indonesia dan stabilitas nasional. Kita harus menguatkan ibadah dan meningkatkan takwa kita, itu yang paling utama,” tambahnya.
Dalam kehidupan berbangsa yang demokratis, masyarakat perlu membiasakan diri untuk menyikapi perbedaan secara dewasa. Selama tidak menyentuh prinsip dasar keimanan, perbedaan justru dapat menjadi bagian dari kekayaan ilmu pengetahuan dan tradisi intelektual Islam.
Anwar menyebut bahwa kondisi tersebut diharapkan mampu memperkuat sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun masa depan bangsa yang lebih baik. Ia juga mengajak umat Islam untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum peningkatan kualitas ibadah dan ketakwaan.
“Mari kita berusaha sekuat tenaga menyempurnakan ibadah selama bulan Ramadan ini agar kualitas iman dan takwa kita semakin meningkat,” pesannya.
Kepada masyarakat nonmuslim, ia turut mengimbau untuk bersama-sama menjaga suasana saling menghormati, khususnya terhadap umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa, agar Ramadan berlangsung dengan khusyuk dan penuh kedamaian.
Anwar mengingatkan umat agar menjaga perilaku selama berpuasa, tidak melakukan tindakan yang dapat menyakiti orang lain, menyebarkan fitnah, ataupun membuat kegaduhan, termasuk melalui tulisan di media sosial.
“Secara syariat, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perbuatan yang tidak dibenarkan agama. Jangan sampai secara lahir puasa, tetapi secara hakikat ternodai oleh sikap yang merusak persaudaraan,” pesannya.
Proses Sidang Isbat yang Matang
Ketua Komisi VIII DPR, Marwan Dasopang, menyampaikan bahwa keputusan Sidang Isbat yang menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 19 Februari 2026 telah dijalankan dengan baik melalui proses yang matang dan dapat dipertanggungjawabkan.
Menurutnya, sidang isbat bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan forum yang melibatkan pertimbangan kaidah agama dan kaidah ilmiah secara bersamaan. Seluruh proses, kata dia, telah melalui diskusi mendalam dengan para ahli sebelum menghasilkan keputusan.
“Hasil pembahasan menunjukkan bahwa posisi hilal masih berada di bawah ufuk atau minus, sehingga secara ilmiah belum memungkinkan untuk dirukyat,” ujarnya.
Marwan menambahkan bahwa ke depan para pemangku kepentingan akan terus berupaya mempertemukan berbagai pendekatan, termasuk wacana kalender Hijriah global, agar tercapai keselarasan yang lebih luas dalam penentuan awal bulan kamariah.
Ia juga mencatat bahwa di sejumlah negara, termasuk Turki, hilal juga belum terlihat pada waktu yang sama.
Sebagai Ketua Komisi VIII, ia menegaskan dukungan terhadap keputusan pemerintah dan mengajak umat Islam menyambut Ramadan dengan sikap yang positif.
“Mari kita beribadah dengan khusyuk, menjalankan puasa dengan ikhlas dan jujur, sehingga Ramadan benar-benar membawa perbaikan bagi diri kita,” terangnya.
Data Hisab dan Rukyat yang Dibahas
Hasil pemaparan data hisab dan laporan rukyat dari 96 titik pemantauan di seluruh Indonesia dibahas dalam sidang isbat. Secara astronomis, ketinggian hilal di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih berada di bawah ufuk, dengan rentang antara -2° 24‘ 43“ (-2,41°) hingga -0° 55‘ 41“ (-0,93°).
Sementara itu, sudut elongasi hilal berada pada kisaran 0° 56‘ 23“ (0,94°) hingga 1° 53‘ 36“ (1,89°). Dengan posisi tersebut, hilal belum memenuhi kriteria visibilitas hilal (imkanur rukyat) yang disepakati negara-negara anggota MABIMS.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."












