Profil Mokhamad Rizkyanto: Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa yang Menginspirasi
Mokhamad Rizkyanto, seorang mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) angkatan 2023, berasal dari Kediri. Ia dikenal sebagai sosok yang aktif dalam berbagai kegiatan organisasi sejak masa SMA. Selain itu, ia juga menjadi Putera Sejarah Jawa Timur Intelegensia 2025, serta sering diundang sebagai pemateri dalam berbagai acara.
Latar Belakang dan Prinsip Hidup
Lahir dari keluarga sederhana bukanlah halangan bagi Rizkyanto untuk meraih pendidikan tinggi. Ia percaya bahwa siapa pun berhak mengenyam pendidikan tinggi, terlepas dari latar belakang ekonomi. Hal ini diwujudkannya melalui penerimaan beasiswa KIP kuliah, yang memberinya kesempatan untuk fokus pada studi dan pengembangan diri.
“Alhamdulillah saya merupakan penerima beasiswa KIP kuliah, dengan adanya beasiswa tersebut saya sangat terbantu dan dapat membuktikan bahwa orang dari keluarga yang sederhana bisa dan berhak mengenyam pendidikan tinggi,” ujarnya.
Pengembangan Diri di Luar Akademik
Selain menjadi mahasiswa, Rizkyanto juga aktif dalam lingkungan non akademik. Ia pernah bergabung dengan Korp Sukarelawan PMI Kabupaten Kediri, Himpunan Mahasiswa Kediri (Himawari), serta terlibat dalam dunia public speaking sebagai MC, Moderator, dan Pemateri di berbagai acara.
Kemampuannya juga ia salurkan melalui bisnis “Riztrainer”, yang melayani jasa dalam bidang pemateri, pelatihan ekstrakulikuler Pramuka dan PMR. Dia tidak mematok tarif dalam usahanya dan menyantumkan pernyataan “Bayar Seikhlasnya”.
Motivasi Terjun dalam Dunia Pendidikan
Motivasi Rizkyanto terjun dalam dunia pendidikan berasal dari rasa prihatin terhadap kurangnya tenaga pendidik mata pelajaran Bahasa Jawa. Ia ingin membantu memperbaiki kondisi tersebut dan menjadi bagian dari solusi.
“Selain itu beasiswa KIP Kuliah yang saya dapatkan menjadi penyemangat saya untuk meneruskan pendidikan saya hingga perguruan tinggi. Ketika saya mendapatkan kesempatan untuk memperoleh beasiswa ini, kenapa tidak saya manfaatkan karena kesempatan emas tidak akan datang dua kali,” ucapnya.
Proses Pengembangan Diri
Dalam dunia public speaking, Rizkyanto memulai dengan pelatihan online. Awalnya, ia merasa kurang percaya diri, minder, gugup, dan malu. Namun, ia berusaha mengatasi rasa takut tersebut dengan fokus pada satu sudut dan berlatih mengobrol dengan siapa saja.
“Alhamdulillah sejak saat itu sekarang aku sering dipercaya mengisi pelatihan atau Diklat gitu, trus dipercaya juga untuk menjadi narasumber untuk memotivasi adik-adik di SMAN 1 Purwoasri Kediri,” ujarnya.
Manajemen Waktu
Walaupun begitu padat aktivitasnya, Rizkyanto mampu mengatur waktu dengan baik. Untuk hari Senin-Jumat, ia fokus pada kuliah. Sementara pekerjaan tambahan hanya ia lakukan di hari Sabtu dan Minggu. Ia juga mengajar di beberapa sekolah.
“Hari Sabtu itu aku pegang 2 SD (SDN Kuwik 1 & SDN Jantok1), 1 SMP (SMPN 1 Purwoasri ) dan 1 SMK (SMKN 1 Purwoasri). Alhamdulillah tetap berjalan baik walau kadang kala keteteran karena jarak antar sekolah jauh,” lanjutnya.
Menjadi Putera Sejarah Jawa Timur 2025
Keikutsertaannya dalam program Putera Puteri Sejarah Jawa Timur 2025 berawal dari keisengannya yang berakhir lolos ditahap administrasi. Di tahap wawancara, ia mengangkat program advokasi History Goes To School (HSG) yang membawanya meraih gelar Putera Sejarah Jawa Timur Intelegensia 2025.
Namun, ada tantangan seperti kesulitan belajar berjalan di catwalk dan make-up. Ia juga menghadapi banyak saingan yang kompetitif. Tapi, ia selalu mempercayakan diri sendiri dan didukung oleh teman-temannya dari Himawari.
“Tapi aku selalu buat mempercayakan diriku sendiri, dibantu support temen-temenku Himawari yang selalu support aku,” imbuhnya.
Pesan dan Harapan
Menurut Rizkyanto, stigma bahwa menjadi duta harus memenuhi standart kesempurnaan tidak benar. Ia ingin menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk mempelajari sejarah lokal di masing-masing daerah.
“Jangan pernah menyerah ketika usahamu selalu gagal, karna kegagalan merupakan jalan Tuhan untuk meraih kemenangan. Ketika gagal jangan pernah merasa Tuhan tidak adil ke kita, Tuhan menggagalkan kita, karena Tuhan sayang kita,” tutupnya.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."












