Kisah Nenek 82 Tahun yang Sukses Membangun Pabrik Dodol Keranjang
Di tengah keramaian Kota Tegal, ada sosok yang mungkin jarang diketahui oleh banyak orang. Mindayani Wirjono, seorang nenek berusia 82 tahun, kini menjadi produsen dodol keranjang yang sukses. Ia membangun usaha ini dari nol, dengan modal awal yang sangat sederhana dan bantuan dari orang-orang terdekat.
Mindayani merintis usaha sejak tahun 1980-an, di bawah dorongan pembantu tetangganya. Saat itu, ia hanya memiliki dapur sederhana yang terbuat dari gedebok pisang, yang bahkan pernah ambruk akibat guyuran hujan deras. “Dulu saja tidak punya dapur, pakainya gedebok. Sudah seperti itu terus kehujanan ambruk, saya sampai nangis,” kenangnya.
Kini, usaha yang dimulai dari bawah ini telah berkembang pesat. Produk dodol keranjangnya, yang diberi nama merek ‘Sido Makmur’, laris manis hingga ke kota-kota besar seperti Bandung, Semarang, Solo, Pekalongan, dan Karawang. Produksi harian mencapai dua hingga tiga kuintal, dengan bantuan mesin modern yang digunakan untuk mengadon adonan dodol.
Namun, situasi ekonomi yang sedang melemah membuat permintaan produknya menurun. Pada perayaan Imlek tahun Kuda Api 2026, pesanan turun hingga 50 persen, terutama di wilayah Karawang. “Faktornya mungkin ekonomi melemah,” ujar Mindayani.
Proses Jatuh Bangun dalam Berwirausaha
Keberhasilan Mindayani tidak datang begitu saja. Ia harus melewati berbagai tantangan sejak awal berwirausaha. Pada masa awal, ia bersama pembantu tetangganya yang kini sudah meninggal dunia, Wa Nyamin, memulai usaha tersebut. Wa Nyamin memberikan dukungan penuh kepada Mindayani karena melihat kondisi keluarganya yang sulit.
Minda juga sempat merasa ragu saat mengawali usaha dodol keranjang karena tidak memiliki modal dan keahlian. Namun, ia akhirnya yakin setelah didorong oleh Wa Nyamin, yang bersedia membantu. Awalnya, ia hanya mampu memproduksi dodol keranjang sebanyak 20 kilogram per hari. Semua proses dilakukan secara manual, tanpa bantuan mesin.
Lantaran harga bahan pokok yang naik, Mindayani terpaksa menaikkan harga jual dagangannya. Misalnya, tepung ketan yang sebelumnya Rp 175 ribu kini menjadi Rp 190 ribu. Hal ini juga memengaruhi produksi dan omzet usahanya.
Pengurangan Jumlah Karyawan
Akibat penurunan permintaan, Mindayani terpaksa mengurangi jumlah karyawan. Sebelumnya, usahanya memiliki 50 karyawan, namun kini hanya tersisa 20 orang. “Untuk karyawan lebih sedikit, sekarang cuman 20 orang. Kalau tahun kemarin kan 50,” tuturnya.
Proses pengolahan dodol keranjang ini dimulai dari tepung ketan yang ditakar sesuai ukuran. Tepung kemudian dicampur dengan air dan gula menggunakan mesin, lalu diaduk selama beberapa jam. Setelah adonan kalis, para karyawan memasukkan adonan ke dalam cetakan yang dilapisi plastik. Untuk memasukkan adonan ke dalam kompor oven raksasa, mereka menggunakan alat bantu dongkrak.
Setelah direbus selama beberapa jam, dodol keranjang siap dipasarkan ke berbagai kota besar. Meskipun prosesnya cukup rumit, Mindayani tetap optimis dan berharap kondisi ekonomi akan segera membaik.
Keberhasilan yang Tak Terduga
Meski usianya sudah tua, Mindayani masih aktif mengelola usahanya. Ia mengaku sangat bersyukur atas semua yang telah diraihnya. Dari sebuah dapur sederhana, kini usahanya telah berkembang menjadi pabrik dodol keranjang yang diminati oleh banyak orang.
Kisah hidupnya menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama bagi para pengusaha muda yang ingin memulai bisnis dari nol. Dengan ketekunan dan semangat pantang menyerah, Mindayani telah membuktikan bahwa usaha bisa sukses jika dilakukan dengan tekad dan kerja keras.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."












