Sejarah Singkat dan Fakta Menarik Tentang Antakya, Kota Bersejarah di Turki
Antakya adalah salah satu kota bersejarah yang terletak di bagian selatan Turki, dekat perbatasan dengan Suriah. Kota ini memiliki sejarah panjang yang melibatkan banyak peradaban, termasuk Yunani, Romawi, dan Arab. Selain Istanbul, Antakya juga menjadi destinasi wisata populer karena kekayaan budaya, sejarah, serta pemandangan alam yang menarik.
Artikel ini akan membahas beberapa fakta sejarah tentang Antakya, sebuah kota yang telah ada selama lebih dari 2000 tahun. Mari kita simak penjelasannya!
1. Awal Mula Pemukiman di Antakya
Ketika Alexander the Great meninggal pada 323 SM, ia belum sempat menunjuk pewaris tahtanya. Para jenderal dan kerabatnya saling berebut wilayah yang dikuasai oleh Alexander. Salah satu jenderal yang terlibat dalam persaingan ini adalah Seleucus I Nicator. Setelah serangkaian konflik, Seleucus I Nicator mendirikan Kerajaan Seleukia pada 306 SM. Awalnya, ibukota kerajaan ini adalah Seleukia di tepian Sungai Tigris, tetapi kemudian dipindahkan ke Antakya, sebuah daerah di tepian Sungai Orontes.
Nama Antakya diambil dari nama ayah Seleucus I, yaitu Antiochus. Pemindahan ibukota ini dilakukan sebagai strategi untuk mendapatkan dukungan dari bangsa Yunani. Lokasi Antakya yang berdekatan dengan Laut Mediterania membuatnya lebih mudah diakses oleh penduduk asli Yunani dibandingkan kawasan Seleukia di Babylonia.
2. Antakya Di Bawah Kekaisaran Romawi

Selama lebih dari dua abad, Antakya berada di bawah kekuasaan Kerajaan Seleukia. Kota ini menjadi titik akhir jalur perdagangan dari Asia sebelum menyeberangi Laut Mediterania. Pada 64 SM, Republik Romawi mengambil alih Antakya dari Kerajaan Seleukia. Di bawah pimpinan Pompey the Great, Antakya menjadi ibukota dari Provinsi Syria-Romawi.
Meskipun Republik Romawi runtuh dan digantikan oleh Kekaisaran Romawi, Antakya tetap menjadi kota penting. Bahkan, kota ini menjadi salah satu kota romawi termaju setelah Roma dan Alexandria. Kemajuan Antakya dapat dilihat dari pembangunan aneka kuil megah, kolam pemandian, bendungan, serta amfiteater.
3. Gempa Bumi yang Mengguncang Antakya

Meskipun menjadi salah satu kota maju di masa itu, Antakya tidak bisa menghindari gempa bumi. Kota ini terletak di persimpangan tiga lempeng tektonik, yaitu lempeng Arab, Afrika, dan Anatolia. Gempa pertama tercatat pada 115 M, saat pemerintahan Kaisar Trajan. Pada 526 M, Antakya kembali diguncang gempa besar yang menghancurkan pelabuhan dan bangunan publik.
Sejarah mencatat bahwa gempa bumi juga terjadi pada masa pemerintahan Kaisar Tiberius, Caligula, Hadrian, dan Diocletian. Gempa bumi ini memberikan dampak besar terhadap perkembangan kota.
4. Asal Usul Istilah “Christian”

Antakya merupakan tempat penting dalam sejarah awal agama Kristen. Konon, kota ini menjadi tujuan eksodus para pengikut Yesus dari Yerusalem. Santo Petrus dianggap sebagai tokoh penting dalam penyebaran agama Kristen di Antakya.
Agama Kristen diperkirakan sudah ada di kota ini antara tahun 29-40 M. Kata “Christian” pertama kali muncul di sini, merujuk pada pengikut Yesus Kristus. Kata ini berasal dari kombinasi kata “Christos” (dari bahasa Yunani) yang berarti juru selamat, dan akhiran “-ian” yang bermakna pengikut.
5. Saint Peter Church sebagai Saksi Perjuangan Agama Kristen

Santo Petrus dan pengikutnya harus beribadah secara sembunyi-sembunyi karena Antakya didominasi oleh kaum pagan. Mereka menjadikan gua sebagai tempat berkumpul. Saint Peter Church di Antakya dikenal sebagai salah satu gereja tertua dalam sejarah Kekristenan.
Pada masa Kaisar Constantine the Great, Kristen mulai diakui sebagai agama resmi. Antakya menjadi kota penting dalam perkembangan Kekristenan, termasuk adanya School of Antiochia, sebuah institusi teologi Kristen terkemuka.
Gempa bumi besar pada tahun 2023 kembali mengguncang Antakya, menghancurkan banyak bangunan dan situs bersejarah. Saat ini, banyak warga masih tinggal di rumah kontainer sementara proses pemulihan kota sedang berlangsung.












