Kritik terhadap Akses Beasiswa LPDP yang Tidak Merata
Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI, Muhammad Sarmuji, menyoroti pentingnya akses beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang merata bagi seluruh kalangan masyarakat. Ia menekankan bahwa LPDP tidak boleh hanya dinikmati oleh kalangan orang kaya. Hal ini menjadi respons atas sorotan publik terhadap seorang Warga Negara Indonesia (WNI) penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, yang menuai kecaman warganet setelah mengunggah video mengenai kebahagiaannya saat anak keduanya resmi menjadi warga negara Inggris melalui proses naturalisasi.
Sarmuji pernah menyampaikan hal ini dalam rapat kerja dengan Kementerian Keuangan pada awal tahun 2022. Ia menilai bahwa tanpa penekanan dan afirmasi yang jelas, LPDP akan menjadi lingkaran yang dinikmati oleh orang kaya saja.
Persoalan Struktur Kebijakan LPDP
Menurut Sarmuji, persoalan ini bukan semata soal pilihan pribadi seseorang, melainkan tentang desain kebijakan yang harus berpihak pada keadilan sosial. Ia menegaskan bahwa struktur persyaratan LPDP secara faktual lebih mudah dipenuhi oleh kelompok yang sudah kuat secara sosial-ekonomi.
“Kalau tidak ada afirmasi, yang akan menikmati hanya orang kaya, karena syarat-syarat itu berat sekali. TOEFL bahasa Inggris-nya sekian-sekian. Dan orang yang bisa memenuhi kriteria ini rata-rata pasti orang kaya,” ujarnya.
Ia menilai bahwa yang paling penting dari sebuah program beasiswa negara adalah potensi akademik penerima untuk mampu mengikuti pembelajaran yang berat di perguruan tinggi kelas dunia. Standar akademik memang harus dijaga, tetapi hambatan bahasa, khususnya bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu, seharusnya bisa dibantu dan ditingkatkan melalui program persiapan atau afirmasi yang memadai.
Akses Pendidikan Luar Negeri yang Tidak Merata
Sarmuji juga menyoroti bahwa kemampuan memenuhi standar akademik dan bahasa asing sangat dipengaruhi oleh latar belakang sosial-ekonomi. Anak-anak dari keluarga mampu memiliki akses pada sekolah berkualitas dan kursus bahasa Inggris yang memadai, sementara anak-anak dari keluarga kurang mampu menghadapi keterbatasan besar.
“Orang kaya yang bisa menyekolahkan anaknya di sekolah yang bagus. Orang kaya yang bisa mengursuskan anaknya bahasa Inggris di tempat yang bagus. Kalau orang miskin tidak bisa. Mau gimana orang sekolahnya sambil jualan pentol. Tidak bisa. Sulit sekali kalau sekolahnya, kuliahnya, sambil jualan pentol, bahkan enggak sempat dia belajar secara intensif,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kelompok masyarakat mampu pada dasarnya memiliki lebih banyak alternatif. Ketika satu pilihan tidak tersedia, mereka relatif lebih mudah mencari opsi lain, termasuk peluang pendidikan atau karier di luar negeri tanpa harus kembali ke Tanah Air.
Akses Alumni Pesantren untuk Lolos LPDP
Sarmuji juga secara khusus menyoroti akses alumni pondok pesantren terhadap beasiswa LPDP. Menurutnya, tanpa kebijakan afirmatif, peluang alumni pesantren untuk lolos LPDP akan sangat kecil.
“Misalkan pondok pesantren. Kalau tidak mendapatkan perhatian dari negara, alumni pondok pesantren akan sulit untuk memperoleh beasiswa LPDP. Pesantren-pesantren yang memang pelajarannya harus dibagi antara ilmu keagamaan dan ilmu umum, tanpa afirmasi ini akan sulit mendapatkan LPDP,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa meskipun ada pesantren modern dengan kurikulum yang sudah mapan, jumlahnya masih terbatas. Jika ada alumni pesantren yang berhasil memperoleh LPDP, menurutnya itu merupakan capaian yang luar biasa.
Harapan untuk Evaluasi Kebijakan
Sarmuji berharap polemik yang berkembang di publik tidak berhenti pada kecaman personal, tetapi menjadi momentum evaluasi kebijakan agar dana abadi pendidikan benar-benar dirasakan oleh anak-anak bangsa dari berbagai latar belakang sosial.
“Dana abadi pendidikan itu berasal dari pajak rakyat. Maka semangatnya harus keadilan sosial. Jangan sampai tanpa kita sadari, yang menikmati secara berulang hanya kelompok sosial tertentu. Negara harus hadir memberi afirmasi agar yang lemah juga punya tangga untuk naik,” tutur Sarmuji.
Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”












