Pengarahan Militer terhadap Iran oleh Komandan CENTCOM
Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, telah memberikan pengarahan terkait tindakan militer terhadap Iran kepada Presiden Donald Trump. Pengarahan ini dilakukan pada Kamis (26/2/2026) dan fokus pada berbagai pilihan untuk tindakan militer terhadap negara tersebut.
Sebelumnya, Trump telah memerintahkan pengerahan militer besar-besaran AS di kawasan Timur Tengah. Kini, ia tengah mempertimbangkan untuk memerintahkan kampanye militer yang lebih luas terhadap Iran. Dalam pertemuan tersebut, hadir juga Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine. Menurut laporan, ada beberapa fokus utama yang dibahas dalam pengarahan ini.
Pertama, memastikan kesiapan senjata penembus bunker untuk menetralisir fasilitas pengayaan uranium bawah tanah. Kedua, menyiapkan serangan presisi terhadap lokasi peluncuran rudal yang mengancam pangkalan militer AS. Ketiga, opsi untuk melakukan blokade total atau penghancuran armada kapal cepat Iran di Teluk.
Seorang pejabat tinggi yang mengetahui isi pertemuan tersebut menyatakan bahwa Trump tidak lagi tertarik pada “pesan diplomatik yang halus”. Presiden, katanya, ingin menunjukkan setiap gangguan terhadap kepentingan AS akan dibayar dengan kerugian yang berkali-kali lipat lebih besar.
Hingga berita ini diturunkan, pihak CENTCOM masih menolak berkomentar terkait pengarahan tersebut.
Perundingan Nuklir di Jenewa Berakhir Tanpa Kesepakatan Mendalam
Putaran ketiga perundingan nuklir antara AS dan Iran di Jenewa, Swiss, telah berakhir pada Kamis (26/2/2026). Meskipun kedua belah pihak mengklaim adanya “kemajuan” dalam upaya meredakan ketegangan nuklir, pertemuan tersebut berakhir tanpa pengumuman poin-poin kesepakatan yang mendalam, menyisakan tanda tanya besar bagi komunitas internasional.
Setelah perundingan berakhir, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembicaraan teknis lebih lanjut akan diadakan minggu depan di Wina, Austria. “Ini adalah pembicaraan yang paling serius dan paling lama,” kata Araghchi, mengutip Al Jazeera.
Kedua pihak telah berselisih mengenai isu-isu penting, termasuk pengayaan uranium dan rudal. Washington telah berulang kali menekankan bahwa mereka tidak akan menerima pengayaan nuklir apa pun yang terjadi di wilayah Iran, bahkan pada tingkat penggunaan sipil yang disepakati selama kesepakatan nuklir 2015 yang disetujui Iran dengan kekuatan dunia.
Trump secara sepihak meninggalkan kesepakatan itu pada tahun 2018. Menjelang perundingan Jenewa, para pejabat AS semakin fokus pada program rudal balistik Iran. Mereka mengatakan rudal-rudal tersebut mengancam pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah serta Israel.
Iran menolak untuk membahas senjata konvensionalnya. Para pejabat Iran, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian, telah berulang kali mengatakan mereka tidak akan pernah mengembangkan senjata nuklir.
Saat berbicara dengan para pejabat setempat selama kunjungan ke provinsi tersebut, Pezeshkian juga menanggapi pernyataan Trump soal Iran adalah “sponsor teror nomor satu di dunia”. Pezeshkian mengatakan sejumlah pejabat Iran dan ilmuwan nuklir telah dibunuh selama beberapa dekade, terutama setelah revolusi Islam tahun 1979 di negara itu.
“Jika kenyataan dilihat secara adil, akan menjadi jelas bahwa Iran bukan hanya bukan pendukung terorisme, tetapi salah satu korban utama teror di kawasan ini dan di seluruh dunia,” kata Pezeshkian.
Kantor berita IRNA milik pemerintah Iran mengatakan bahwa proposal Teheran diharapkan dapat mengukur “keseriusan” AS dalam pembicaraan, karena berisi tawaran “saling menguntungkan”.
Para pejabat Iran belum secara terbuka membahas semua detail proposal mereka. Tetapi diyakini proposal tersebut mencakup pengenceran sebagian uranium yang diperkaya 60 persen milik negara itu dan menyimpan uranium tersebut di dalam negeri. Otoritas Iran membayangkan hal itu dapat dipadukan dengan peluang ekonomi bagi AS yang terkait dengan minyak dan gas Iran serta pembelian pesawat terbang.












