Habib Jafar Ajak Berbagi Kebaikan di Ramadan, Bukan Ukur Kekayaan Materi

Pentingnya Menjadi Muslim Kaya Hati di Tengah Masyarakat Modern

Habib Jafar, seorang penulis dan pendakwah muda yang dikenal dengan panggilan Husein Jafar Al Hadar, menyampaikan pesan penting dalam acara Ramadan Baik Bersama Katadata di Taman Literasi Blok M. Acara ini digelar menjelang waktu berbuka puasa pada hari Kamis (26/2/2026). Dalam tausiahnya bertajuk “Jadi Muslim Kaya Hati, Bukan Cuma Kaya Materi”, ia menyoroti pentingnya menjadi manusia yang kaya hati, bukan hanya kaya materi.

Ramadan sebagai Momentum untuk Empati Sosial

Ramadan sering kali dipahami sebagai bulan yang mengajarkan kita untuk menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Namun, dalam realitas sosial, terkadang justru terjadi peningkatan konsumsi dan gaya hidup yang tidak sejalan dengan semangat kesederhanaan. Habib Jafar menegaskan bahwa puasa seharusnya menjadi ruang latihan empati sosial. “Puasa membuat kita merasakan lapar dan haus. Dari situ empati tumbuh. Kita jadi paham betapa beratnya menjadi orang yang kekurangan, dan karena itu kita diajak untuk tidak membiarkan orang lain merasakannya sendirian,” ujarnya.

Mengubah Pandangan tentang Rezeki

Habib Jafar juga mengkritisi cara pandang sempit terhadap rezeki. Ia menekankan bahwa rezeki tidak melulu soal harta atau kepemilikan materi. Kesehatan, waktu luang, keluarga yang utuh, hingga iman adalah bentuk rezeki yang nilainya jauh lebih tinggi. Dalam konteks kehidupan urban yang serba cepat, kehadiran bahkan menjadi kemewahan yang sering terabaikan.

“Banyak keluarga bahagia bukan karena diberi uang, tapi karena diberi waktu. Kehadiran itu rezeki yang paling dibutuhkan hari ini,” katanya. Pernyataan ini sekaligus menjadi kritik sosial terhadap pola kerja dan ambisi ekonomi yang kerap mengorbankan relasi personal dan kualitas kebersamaan.

Kekayaan Mental dan Kekayaan Hati

Habib Jafar juga menyentil fenomena membandingkan diri dengan orang lain sebagai sumber kecemasan modern. Ia menyebut, masalah sering kali bukan terletak pada jumlah harta, melainkan pada mentalitas yang belum siap mengelola kepemilikan. Kekayaan tanpa kedewasaan batin berpotensi melahirkan kegelisahan, dorongan pamer, hingga perlombaan status yang melelahkan.

“Sering kali masalahnya bukan pada harta tetapi pada mentalnya. Kekayaan sejati itu kekayaan mental, kekayaan hati,” ujarnya. Ramadan, lanjut dia, menjadi momentum untuk menata ulang standar sukses dan cukup agar manusia tidak terjebak pada ukuran semu yang dibentuk oleh tekanan sosial maupun media.

Peran Zakat dalam Membangun Masyarakat

Di kesempatan yang sama, Heri Susanto, Chief Commercial Officer Katadata, menegaskan bahwa tema “kaya hati” diangkat sebagai refleksi atas kecenderungan masyarakat modern yang mengidentikkan nilai diri dengan angka pencapaian ekonomi. Ia mengingatkan bahwa Ramadan mengajarkan pergeseran orientasi dari memiliki menjadi memaknai, dari mengumpulkan menjadi memberi.

Heri juga mengutip Surah Al-Baqarah ayat 245 untuk menegaskan bahwa sedekah dan zakat bukanlah bentuk kehilangan. Menurutnya, ukuran seorang muslim tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimiliki, tetapi oleh seberapa besar manfaat yang dibagikan kepada sesama dan dampak sosial yang dihasilkan dari kepemilikan tersebut.

Tren Digital dalam Zakat dan Donasi

Jamalianuri, Manajer Databoks, memaparkan tren peningkatan pencarian informasi terkait zakat dan donasi digital setiap Ramadan. Data menunjukkan bahwa kanal digital semakin menjadi pilihan, khususnya di kalangan generasi muda yang mengutamakan kemudahan akses, transparansi, dan fleksibilitas waktu dalam menunaikan kewajiban sosialnya.

Ivan Triyogo Priambodo, VP Finance and Business Development Katadata, menambahkan bahwa zakat memiliki potensi besar sebagai instrumen dampak sosial berkelanjutan. Menurutnya, ketika dikelola secara profesional dan transparan, zakat tidak sekadar kewajiban individual, tetapi dapat berfungsi sebagai investasi sosial yang memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.

Kesimpulan: Proses Membangun Mentalitas Cukup dan Empati

Rangkaian diskusi di Taman Literasi Blok M itu menegaskan bahwa “kaya hati” bukan tujuan instan, melainkan proses membangun mentalitas cukup, empatik, dan hadir bagi sesama. Ramadan, sebagaimana disampaikan Habib Jafar, menjadi titik awal untuk menata pikiran dan niat, karena dari sanalah perubahan sosial yang lebih luas dapat bertumbuh.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?