Bincang Khusus: Ketua DPRD Sanggau Dorong Tiga Langkah Tingkatkan Ekonomi Perbatasan

Potensi Ekonomi di Wilayah Perbatasan Kabupaten Sanggau

Kabupaten Sanggau, yang berada di Kalimantan Barat, memiliki wilayah perbatasan langsung dengan Malaysia. Salah satu titik penting yang menjadi pintu masuk dan keluar barang serta manusia adalah PLBN Entikong. Keberadaan PLBN ini sudah cukup lama dan kini menjadi jalur lalu lintas yang sangat ramai. Dengan posisi geografis yang strategis, daerah perbatasan ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam sebuah bincang spesial di Studio Tribun Pontianak, Jumat 27 Februari 2026, Ketua DPRD Kabupaten Sanggau, Hendrikus Hengki, membahas tentang peluang yang ada di wilayah perbatasan. Bincang spesial ini dipandu oleh Pemred Tribun Pontianak, Safruddin. Dalam sesi tersebut, Hengki menyampaikan bahwa Entikong memiliki keistimewaan karena letaknya yang berbatasan langsung dengan Malaysia. “Itu merupakan pintu gerbang, baik itu arus barang maupun manusia,” katanya.

Namun, meskipun memiliki potensi ekonomi yang besar, beberapa desa di Kecamatan Entikong masih menghadapi tantangan dalam mengeluarkan hasil pertanian akibat infrastruktur yang belum memadai. “Di Entikong ini peluangnya sangat besar, karena memang arus barang dan manusia keluar masuk disini. Itu berarti ada geliat ekonomi yang luar biasa. Peluang yang sangat baik bagi masyarakat, bukan hanya Entikong sebenarnya tapi termasuk daerah penyangga dari daerah perbatasan,” ujarnya.

Selain itu, Hengki juga menyampaikan bahwa pengelolaan PLBN Entikong dari pemerintah pusat membuat jarak rentang administrasi semakin jauh. Contohnya, saat ini sudah ada terminal barang internasional (TBI) di Kecamatan Entikong. Namun, pembangunan TBI ini belum difungsikan secara maksimal karena adanya regulasi dan peta lahan yang belum terselesaikan. “Sudah berapa tahun ini dibangun, tapi sampai hari ini belum difungsikan maksimal. Ini sangat disayangkan, sudah berapa banyak uang negara yang keluar untuk membangun TBI,” jelasnya.

Hengki menilai bahwa jika ada hal-hal yang perlu diselesaikan, maka harus segera diselesaikan agar bisa difungsikan dengan maksimal. Harapannya, jangan sampai administrasinya berbelit-belit. Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa pemekaran Kabupaten Sekayam Raya juga menjadi prioritas. “Pemekaran Kabupaten Sekayam Raya ini juga termasuk lama. Sampai hari ini juga belum terselesaikan. Kita tahu jarak antar Kecamatan ke Kabupaten yang cukup jauh dan luasnya Kabupaten Sanggau,” ujarnya.

Dengan pemekaran, harapan adalah pembangunan bisa cepat merata. “Maka masyarakat dari pedalaman di Entikong misalnya, bisa membawa hasil buminya untuk dibawa ke Negara tetangga. Kalau kita bicara ekonomi, kan infrastruktur penopangnya. Makanya beberapa waktu lalu ada kejadian masyarakat yang menggotong mayat, karena mobil ambulans tak bisa lewat karena jalan licin,” ujarnya.

Jika mengandalkan APBD Kabupaten, tentu sangat sulit untuk menyelesaikan persoalan infrastruktur di beberapa desa di perbatasan ini. Terlebih lagi saat ini adanya pemangkasan transfer pusat ke daerah. Dalam hal ini, Hengki menyoroti pentingnya fungsi TBI di Entikong. “Jika TBI di Entikong belum difungsikan dengan maksimal maka akan terkendala. Terlebih juga saat ini pasar modern di Kecamatan Entikong yang dibangun era Presiden Jokowi, juga sepi,” ujarnya.

Dari Komisi II DPRD Sanggau juga sudah beberapa kali menyuarakan hal ini, termasuk juga dari Provinsi. Cuman disitu masih ada persoalan lahan yang sampai saat ini masih berproses. “Ketika itu belum selesai, seharusnya segera di selesaikan. Jadi pemerintah jangan menggantung permasalahan, supaya ketika bangunan itu terbangun dengan baik maka bisa berfungsi dengan baik juga,” tuturnya.

Oleh karenanya, Hengki berharap agar daerah perbatasan ini menjadi prioritas untuk pemekaran menjadi Kabupaten Sekayam Raya. Saat ini bahkan sudah masuk Prolegnas, namun terkendala moratorium maka tidak bisa. Pada closing stetmen, Hengki menyampaikan harapannya untuk daerah perbatasan agar pertumbuhan ekonomi baik dan kemajuan di daerah perbatasan. Untuk daerah perbatasan yang pertama yang harus difungsikan dulu terminal barang internasional, ketika sudah berfungsi dengan baik maka otomatis berdampak pada pertumbuhan ekonomi sekitar.

Kemudian kedua, mudah-mudahan pemerintah pusat segera memekarkan kabupaten Sekayam Raya, supaya rentang jarak birokrasi antar Kabupaten yang induk dengan calon Kabupaten baru lebih dekat. Ketiga diharapkan infrastruktur di sekitar perbatasan itu menjadi baik, supaya tidak ada kecemburuan sosial antara masyarakat Indonesia dengan Malaysia. Hengki kembali menyampaikan beberapa waktu lalu ada kejadian warga tandu jenasah lantaran ambulans tak bisa melewati jalan yang licin di desa Suruh Tembawang, Kecamatan Entikong. “Kasihan ada masyarakat yang harus memikul, menandu orang yang sakit, karena terkendala infrastruktur. Ini sangat sedih, ini yang menjadi persoalan kita. Jika infrastrukturnya baik, TBI nya baik dan rentang jarak birokrasinya juga baik, otomatis pertumbuhan ekonomi itu, saya yakin sangat maju untuk daerah perbatasan,” pungkasnya.


Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?