Budaya  

Festival Ronthek Pacitan, Tradisi Malam yang Bangkitkan Wisata dan Ekonomi Kreatif

Sejarah dan Perkembangan Festival Ronthek

Festival Ronthek merupakan sebuah tradisi budaya yang berasal dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Awalnya, festival ini dimulai dari kegiatan ronda sahur dengan menggunakan kentongan bambu. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi sebuah festival tahunan yang besar dan menarik perhatian banyak orang.

Sejak 2011, Ronthek mulai dikemas dalam bentuk festival yang lebih besar. Dalam perkembangannya, festival ini menggabungkan musik tradisional, karnaval kreatif, serta pertunjukan seni kolosal. Hal ini membuat Ronthek tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai bagian dari pariwisata dan ekonomi kreatif.

Prestasi yang diraih oleh Festival Ronthek sangat mencolok. Pada tahun 2018, festival ini berhasil memecahkan rekor MURI Indonesia. Selain itu, pada tahun 2025, Festival Ronthek Pacitan sukses meraih penghargaan Karisma Event Nusantara (KEN) 2025 dari Kementerian Pariwisata. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa festival ini mampu mengangkat seni budaya lokal ke panggung nasional.

  • Festival Ronthek menjadi salah satu event terbaik nasional selama tiga tahun berturut-turut.
  • Festival ini melibatkan ratusan seniman lokal dan mampu menarik ribuan penonton dari berbagai daerah.
  • Festival Ronthek juga memberikan ruang bagi pelaku UMKM dan kreator lokal untuk memamerkan produk mereka.

Awal Mula dan Makna Kata “Ronthek”

Menurut sumber informasi, kata “ronthek” berasal dari gabungan dua kata, yaitu “ronda” dan “thethek”. Kedua kata tersebut memiliki arti alat musik bambu berlubang yang dipukul. Awalnya, ronthek digunakan saat ronda malam di bulan Ramadan untuk membangunkan warga agar sahur.

Bunyi kentongan yang khas, berpadu dengan gong, saron, dan kenong, menjadi penanda kebersamaan warga dalam menjaga keamanan kampung. Namun, seiring waktu, tradisi ini berkembang. Ronthek yang awalnya hanya dimainkan menggunakan kentongan bambu, kini berkembang dengan tambahan berbagai alat musik tradisional lain.

Dengan begitu, Ronthek menghasilkan irama yang lebih meriah dan penuh semangat. Selain itu, Festival Ronthek Pacitan pun rutin menghadirkan pertunjukan yang menarik. Setiap kecamatan di Pacitan menampilkan kreasi ronthek terbaiknya, lengkap dengan karnaval artistik, tiruan kapal, kereta, hingga instalasi kreatif lainnya.

Prestasi dan Pengakuan Nasional

Festival Ronthek tahun 2018 menjadi salah satu yang terbesar sepanjang sejarah. Acara tersebut dihadiri oleh Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono bersama almarhumah Ani Yudhoyono. Festival kala itu melibatkan sekitar 5.000 peserta serta 2.500 siswa dalam mozaik 3D. Selain itu, Festival Ronthek tahun 2018 juga berhasil memecahkan Rekor MURI Indonesia.

Momentum tersebut semakin mengukuhkan ronthek sebagai ikon budaya asli Pacitan yang patut dibanggakan. Di tahun 2025, Festival Ronthek Pacitan berhasil mencetak sejarah dengan meraih penghargaan prestisius Karisma Event Nusantara (KEN) 2025 dari Kementerian Pariwisata.

Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Borobudur, Agustin Peranginangin, menyebut festival ini sebagai wujud nyata pengembangan pariwisata berbasis budaya. Hal ini menunjukkan bahwa Festival Ronthek mampu memadukan seni dan budaya dengan pariwisata serta ekonomi kreatif secara selaras.

Dukungan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas membuka langsung Festival Ronthek 2025 di Alun-Alun Pacitan. Ia menegaskan bahwa ronthek bukan hanya warisan budaya, tetapi juga peluang ekonomi kreatif yang mampu menyejahterakan masyarakat.

“Mari kita jaga seni budaya ronthek agar tidak pernah padam oleh zaman,” ujarnya. Festival ini juga menjadi ruang spiritual dan sosial, menghadirkan kebahagiaan, kreativitas, serta semangat kebersamaan masyarakat Pacitan.

Pembukaan Festival Ronthek 2025 turut dihadiri tokoh nasional dan daerah. Perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Pacitan memimpin doa sebagai simbol dukungan terhadap pelestarian budaya yang sarat nilai spiritual. Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji, menerima penghargaan atas keberhasilan Pacitan masuk 100 event terbaik nasional versi KEN 2025.

Warisan Budaya yang Terus Berkembang

Festival Ronthek Pacitan membuktikan bahwa tradisi lokal dapat bertransformasi menjadi event nasional tanpa kehilangan akar budayanya. Dari bunyi kentongan ronda malam hingga panggung festival megah yang menyedot ribuan penonton, Ronthek kini menjadi simbol kreativitas, kebersamaan, dan kebanggaan masyarakat Pacitan.

Di tengah modernisasi, Tradisi Ronthek terus mengiringi langkah Pacitan menuju kemajuan pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis budaya.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?