Connie Bakrie Bongkar Strategi Iran, Drone Murah Lawan Rudal Mahal AS Picu Kekacauan Ekonomi

Tensi Geopolitik di Timur Tengah Memicu Analisis dari Pengamat Militer

Tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menjadi sorotan dunia setelah munculnya berbagai serangan balasan yang melibatkan fasilitas militer dan objek strategis di sejumlah negara sekutu Amerika Serikat. Rentetan peristiwa ini memicu berbagai analisis dari para pengamat militer mengenai strategi yang digunakan oleh Iran dalam menghadapi kekuatan militer Amerika Serikat dan sekutunya.

Salah satu analisis datang dari pengamat pertahanan Indonesia, Connie Rahakundini Bakrie. Ia menilai bahwa serangan balasan yang dilakukan Iran tidak sekadar merupakan aksi militer biasa, melainkan bagian dari strategi yang dirancang secara sistematis untuk mengguncang kekuatan ekonomi dan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Dalam wawancara khusus di Studio Tribunnews, Jakarta, Kamis (5/3/2026), Connie Bakrie memaparkan pandangannya terkait cara Iran menjalankan strategi perang modern yang mengutamakan efisiensi biaya. Ia menyebut bahwa Iran memanfaatkan pendekatan yang disebut cost-effective warfare, yakni strategi militer yang memaksimalkan dampak serangan dengan biaya yang relatif kecil.

Pendekatan tersebut menurutnya menjadi salah satu faktor yang membuat strategi Iran cukup efektif dalam menimbulkan efek kejut terhadap negara-negara sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk Arab.

Strategi Iran Disebut Dirancang Secara Presisi

Menurut Connie Bakrie, rentetan serangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah tidak dilakukan secara acak. Ia menilai langkah tersebut telah dirancang dengan perhitungan matang oleh Iran untuk memberikan dampak strategis yang luas. Target serangan yang dipilih pun bukan hanya instalasi militer semata, tetapi juga wilayah yang memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas ekonomi regional.

Kawasan seperti Dubai di Uni Emirat Arab misalnya, disebut menjadi salah satu titik yang merasakan dampak signifikan dari eskalasi konflik tersebut. Dubai selama ini dikenal sebagai salah satu pusat ekonomi global di kawasan Timur Tengah. Kota tersebut memiliki pelabuhan laut internasional, bandara besar, serta menjadi pusat perdagangan dan keuangan bagi berbagai negara.

Karena itu, gangguan terhadap wilayah tersebut dapat memicu efek domino terhadap stabilitas ekonomi regional bahkan global. Connie menyebut strategi ini sebagai upaya Iran untuk menciptakan economic shock atau kejutan ekonomi. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika sebuah peristiwa secara tiba-tiba memicu gangguan besar terhadap sistem ekonomi, baik melalui lonjakan harga komoditas, gangguan distribusi perdagangan, maupun kepanikan pasar.

Dengan menargetkan pusat ekonomi dan logistik, Iran dinilai berusaha menekan negara-negara sekutu Amerika Serikat secara tidak langsung.

Drone Murah Melawan Rudal Mahal

Dalam analisisnya, Connie Bakrie menyoroti bagaimana Iran mampu membalikkan logika perang modern melalui penggunaan teknologi yang relatif murah namun efektif. Ia menjelaskan bahwa Iran menggunakan drone atau pesawat tanpa awak dengan biaya produksi yang jauh lebih rendah dibandingkan sistem pertahanan yang digunakan oleh Amerika Serikat.

“Iran is a smart guy. Dia tahu kalau lawan ke pangkalan militer capek, mending pakai drone murah meriah seharga 50 ribu US Dollar. Melawannya pakai rudal 10 juta US Dollar. Lihat efektifnya, Dubai langsung kena sentra port laut dan airport-nya,” ujar Connie dalam wawancara khusus dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra di Studio Tribunnews, Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Drone yang dimaksud merupakan unmanned aerial vehicle (UAV) atau kendaraan udara tanpa awak yang dapat dikendalikan dari jarak jauh. Dalam perang modern, drone sering digunakan untuk pengintaian, serangan presisi, hingga operasi militer dengan risiko rendah bagi personel militer.

Biaya produksi drone yang relatif murah memungkinkan penggunaannya dalam jumlah besar. Hal ini menciptakan situasi yang menyulitkan sistem pertahanan lawan, karena setiap drone yang datang harus dihadapi dengan sistem pertahanan yang jauh lebih mahal. Perbandingan biaya antara drone seharga 50 ribu dolar AS dengan rudal pertahanan yang bisa mencapai 10 juta dolar AS menunjukkan kesenjangan biaya yang sangat besar.

Situasi tersebut menurut Connie membuat Amerika Serikat dan sekutunya menghadapi dilema dalam mempertahankan sistem pertahanan mereka.

Kesalahan Strategis Negara-Negara Teluk

Selain menyoroti strategi Iran, Connie Bakrie juga menilai negara-negara sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk Arab melakukan kesalahan strategis. Ia menyebut negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain melakukan blunder atau kesalahan besar karena mengizinkan Amerika Serikat menggunakan wilayah mereka untuk mengerahkan alutsista tempur.

Alutsista sendiri merupakan singkatan dari alat utama sistem senjata, yaitu seluruh peralatan militer yang digunakan dalam operasi pertahanan, seperti pesawat tempur, kapal perang, hingga sistem rudal. Menurut Connie Bakrie, keputusan tersebut justru membuat wilayah mereka menjadi target potensial serangan balasan dari Iran.

Ketika negara-negara tersebut mengizinkan penggunaan wilayahnya sebagai pangkalan operasi militer, maka secara otomatis mereka terlibat dalam konflik yang lebih luas. Hal inilah yang kemudian memicu ketegangan keamanan di kawasan tersebut.

Guncangan Ekonomi di Dubai

Salah satu dampak paling nyata dari situasi ini disebut terjadi di Dubai. Kota yang sebelumnya dikenal sebagai pusat ekonomi dan pariwisata dunia itu mengalami tekanan besar akibat meningkatnya ketidakpastian keamanan. Connie menjelaskan bahwa situasi tersebut membuat banyak orang mulai meninggalkan wilayah tersebut untuk mencari tempat yang lebih aman.

Fenomena ini dikenal dengan istilah eksodus, yaitu perpindahan besar-besaran penduduk dari suatu wilayah akibat kondisi tertentu, seperti konflik atau ancaman keamanan. “Dia (Iran) mau bikin lawan itu capek secara ekonomi. Harga minyak di Selat Hormuz bahkan melonjak tajam hingga 20 persen dalam hitungan hari,” jelas Connie.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur laut strategis yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia. Setiap gangguan di kawasan ini dapat memicu lonjakan harga minyak secara global. Lonjakan harga hingga 20 persen dalam waktu singkat menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Ketahanan Industri Pertahanan AS Dipertanyakan

Di akhir analisisnya, Connie juga menyoroti ketahanan industri pertahanan Amerika Serikat. Menurutnya, konflik yang berkepanjangan dapat menguji kemampuan industri militer Amerika Serikat dalam memproduksi kembali berbagai sistem persenjataan yang digunakan dalam operasi militer.

Produksi alutsista membutuhkan waktu, sumber daya, serta rantai pasokan industri yang kompleks. Ketika konsumsi rudal dan amunisi di medan tempur sangat tinggi, kemampuan industri untuk mengganti stok tersebut menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan operasi militer. “Amerika itu endurance industri pertahannya sanggup enggak secepat itu mengisi? Dia bantuin Ukraina saja sudah habis-habisan dan posisinya kalah,” tandas Connie.

Pernyataan tersebut merujuk pada dukungan militer Amerika Serikat kepada Ukraina dalam konflik melawan Rusia, yang selama ini telah menguras sebagian stok persenjataan Amerika. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa besar kapasitas industri pertahanan Amerika Serikat dalam menghadapi konflik di lebih dari satu kawasan sekaligus.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?