Emas Barcelona, AGH Ambo Dalle untuk Jenderal Tri Sutrisno

Kehidupan dan Perjalanan Karier Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno

Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden ke-6 Indonesia dari tahun 1993 hingga 1998, meninggal dunia pada Senin (2/3/2026) pagi di usia 90 tahun. Ia wafat dengan tenang, meninggalkan banyak kenangan indah dalam sejarah bangsa.

Presiden Prabowo Subianto memimpin Apel Persada di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, selepas zuhur untuk menghormati sosok yang pernah menjadi Panglima ke-9 ABRI antara tahun 1988 hingga 1993. Meski kini telah tiada, pengaruh dan jejaknya masih terasa dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia.

Kenangan tentang Try Sutrisno di Sulawesi Selatan

Di Sulawesi Selatan, sosok Try Sutrisno dikenang sebagai pribadi yang rendah hati dan murah senyum. Salah satu kenangan yang tak terlupakan adalah hadiah tasbih dari pendiri Darul Dakwah wal Irsyad (DDI), Anre Gurutta Haji (AGH) Abdul Rahman Ambo Dalle. Tasbih ini diberikan oleh Gurutta sekitar akhir 1987 di Pondok Pesantren Manahilil Ulum DDI Kaballangang, Pinrang, sekitar 206 km utara Kota Makassar.

HM Aksa Mahmud, anggota dewan pembina Mustasyar PB DDI, mengungkapkan bahwa saat itu, Try Sutrisno belum menjadi Panglima ABRI, sementara Pak Palaguna menjadi Wakil Gubernur setelah menjabat Bupati Pinrang. Di momen tersebut, Try Sutrisno didaulat menjadi “anak angkat” Gurutta. Ia meminta doa agar bisa mengemban amanat bangsa dan negara.

Beberapa bulan kemudian, Try Sutrisno ditunjuk oleh Presiden Soeharto menjadi Panglima Angkatan Bersenjata RI (ABRI) ke-15. Ia mulai menjabat Panglima TNI pada 27 Februari 1988 hingga 19 Februari 1993. Di masa jabatannya, ia juga merangkap sebagai Ketua Umum Persatuan Bulutangkis Indonesia (PBSI).

Peran dan Prestasi di Dunia Bulu Tangkis

Bulu tangkis pada masa itu menjadi salah satu olahraga paling populer dan menciptakan banyak prestasi internasional. Try Sutrisno menjabat Ketua Umum ke-6 PBSI selama dua periode, yaitu 1985–1989 dan 1989–1993. Di bawah kepemimpinannya, bulu tangkis Indonesia mengalami masa kejayaan.

Indonesia berhasil memenangkan Piala Sudirman di Jakarta pada 1989, dan Susi Susanti menjuarai tunggal putri All England pada 1990, 1991, dan 1993. Bahkan, medali emas pertama Indonesia di Olimpiade diraih dari cabang bulu tangkis. Susi Susanti dan Alan Budikusuma meraih dua emas di Olimpiade Barcelona 1992, dan mereka lalu dijuluki “pengantin olimpiade Barcelona.”

Tasbih sebagai Simbol Spiritual

Aksa bercerita bahwa saat Olimpiade 1992, Try Sutrisno selalu membawa tasbih yang diberikan oleh Gurutta. Olimpiade digelar mulai 25 Juli hingga 9 Agustus 1992. Di final tunggal putri, Susi melawan Bang Soo Hyun dari Korea Selatan. Perjuangan berat dimulai di babak kedua, dengan poin yang saling kejar-kejaran. Saat itu, Try Sutrisno hanya terus memegang tasbih yang diberikan oleh Gurutta.

Sebelumnya, sekitar 1995 hingga 1996, Gurutta Ambo Dalle pernah menceritakan hal ini kepada Aksa saat proses pengobatan rutin di Makassar. Aksa menyebut bahwa bersama Gubernur Sulsel HZB Palaguna, dia mendapat tanggung jawab untuk menemani masa pengobatan Gurutta selama di Makassar. Try Sutrisno juga sering mengontrol kesehatan Gurutta melalui Pak Palaguna.

Penghargaan dan Keberhasilan di Olimpiade

Setelah memastikan dua emas dari cabang badminton, Try Sutrisno langsung menelpon Gurutta Ambo Dalle di Pinrang. Bagi Indonesia, emas dari pengantin olimpiade Barcelona itu sangat monumental dan bersejarah. Indonesia pertama kali mengikuti Olimpiade di Helsinki, Finlandia tahun 1952, namun medali diraih setelah 40 tahun partisipasi.

Perjuangan Indonesia meraih emas itu juga disaksikan melalui siaran langsung TVRI di Tanah Air. Setahun setelah raihan emas dan prestasi membanggakan itu, Try Sutrisno disetujui oleh Soeharto menjadi Wakil Presiden ke-6 Indonesia.

Momen Silaturahmi dengan AGH Ambo Dalle

Sekitar empat bulan setelah dilantik menjadi Wakil Presiden RI, Try Sutrisno menyempatkan diri bertemu langsung dengan Anregurutta. Momen itu terjadi pada Selasa 3 Agustus 1993. Acara tersebut dikemas dalam acara silaturahmi dengan alim ulama Sulsel di Balai Kemanunggalan ABRI-Rakyat, Jl Jenderal Sudirman, Makassar.

Secara khusus, sepanjang acara, Try Sutrisno duduk berdampingan dengan AGH Abdul Rahman Ambo Dalle, yang saat itu sudah berusia 103 tahun.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?