Serangan Udara di Sekolah Dasar Putri di Iran
Serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap beberapa wilayah di Iran pada hari Sabtu (28/2/2026) menimbulkan kekhawatiran besar. Salah satu insiden yang paling mencolok adalah serangan udara yang menargetkan sekolah dasar putri di Minab, Hormozgan, Iran Selatan. Akibat serangan ini, sebanyak 108 orang meninggal dunia dan 63 lainnya luka-luka.
Juru bicara militer Letnan Kolonel Nadav Shoshani dari Israel mengungkapkan bahwa militer mereka tidak mengetahui adanya serangan terhadap sekolah tersebut. Dalam konferensi pers, ia menyatakan bahwa operasi militer dilakukan dengan sangat presisi. Pernyataan ini diberikan setelah munculnya laporan tentang korban jiwa yang cukup besar.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) juga memberikan pernyataan terkait insiden ini. Juru bicara CENTCOM, Tim Hawkins, mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan penyelidikan atas laporan tersebut. Ia menekankan bahwa keselamatan warga sipil menjadi prioritas utama dalam agresi gabungan AS-Israel. “Kami menanggapi laporan ini dengan serius,” ujarnya.
Menurut laporan Mizan News Agency, jumlah korban tewas dalam serangan tersebut mencapai 148 orang. Sekolah tersebut berada sekitar 600 meter dari pangkalan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang sebelumnya menjadi target serangan Israel dan AS.
Di sisi lain, kantor berita Iran Mehr melaporkan setidaknya dua siswa tewas akibat serangan Israel lain yang menghantam sebuah sekolah di sebelah timur Teheran. Insiden ini memicu reaksi cepat dari Iran, yang langsung menuding AS dan Israel sebagai pelaku serangan.
Berdasarkan data Bulan Sabit Merah Iran, total korban tewas dalam serangan udara di Iran mencapai 201 orang, dengan 747 lainnya terluka sejak Sabtu (28/2/2026). Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut insiden ini sebagai “tindakan barbar” dan “halaman hitam lain dalam catatan kejahatan yang tak terhitung jumlahnya”.
Setelah serangan di sekolah, Palang Merah dan Bulan Sabit Merah di Jenewa memobilisasi tim tanggap darurat untuk bertolak ke lokasi serangan. Seorang pejabat di sekolah dasar putri di Kota Minab mengungkap bahwa sekolah tersebut telah “menjadi sasaran tiga serangan rudal”.
Tragedi di dua sekolah tersebut terjadi ketika AS dan Israel melancarkan gelombang demi gelombang serangan udara terhadap target di sejumlah kota di Iran sepanjang hari Sabtu kemarin. Serangan masih berlanjut pada hari Minggu, menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara, bersama dengan putri, menantu, dan cucunya.
Pemerintah Iran menyatakan 40 hari berkabung nasional dan tujuh hari libur nasional atas meninggalnya Ayatollah Ali Khamenei. Menyusul serangan yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, Presiden AS Donald Trump dalam video pengumumannya di platform Truth Social menyatakan bahwa tindakan ini dilakukan untuk “membela rakyat Amerika dari ancaman rezim Iran” dan mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
Di sisi lain, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyatakan tujuan serangan ini adalah untuk menghilangkan “ancaman eksistensial” dari rezim Iran terhadap Israel. Banyak pejabat senior politik dan militer Iran juga dilaporkan tewas dalam serangan AS-Israel, termasuk:
- Ali Shamkhani, penasihat senior Ayatollah Ali Khamenei
- Mohammad Pakpour, Panglima IRGC
- Aziz Nasirzadeh (atau Amir Aziz Nasirzadeh), Menteri Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata Iran
- Abdolrahim Mousavi (atau Sayyid Abdolrahim Mousavi), Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran
Iran langsung melakukan serangan balasan dengan meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke Israel. Sebanyak 27 pangkalan militer AS di Timur Tengah (termasuk di Bahrain, Kuwait, Qatar, UAE, dan lainnya) juga menjadi target serangan balasan Iran.
Dalam pernyataan terbarunya, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Korps Garda Revolusi Iran berjanji akan melakukan serangan pembalasan. IRGC mengumumkan dimulainya “operasi ofensif paling dahsyat dalam sejarah Republik Islam Iran”.
Lebih lanjut, serangan AS-Israel terhadap Iran juga berdampak lebih luas, di mana sejumlah negara di Timur Tengah menutup wilayah udaranya. Penutupan wilayah udara terjadi di Israel, Qatar, Suriah, Iran, Irak, Kuwait, Bahrain, hingga Uni Emirat Arab (UEA).
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."












