Pihak Sekolah Tidak Copot Guru Diduga Lakukan Pelecehan di SMA Pekanbaru
Kepala sekolah SMA di Pekanbaru tidak membenarkan adanya kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang guru terhadap siswinya. Namun, keputusan tersebut membuat pihak sekolah menjadi sorotan media sosial.
Pihak sekolah mengungkapkan bahwa mereka telah melakukan mediasi antara guru dan siswa terkait dugaan pelecehan. Dalam mediasi tersebut, guru yang diduga pelaku AS mengaku khilaf dan meminta maaf kepada korban. Meskipun demikian, kepala sekolah tidak mengambil tindakan lebih lanjut terhadap guru tersebut.
Alasan Sekolah Mempertahankan Guru Terduga Pelaku
Menurut Kepala Sekolah SMA di Pekanbaru, Wan Roswita, pihak sekolah sedang mengalami kekurangan guru Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, guru yang diduga melakukan pelecehan masih dipertahankan di sekolah. Meski begitu, Wan menegaskan bahwa perbuatan AS tidak dibenarkan dan sudah dilaporkan ke Dinas Pendidikan Provinsi Riau.
“Kami sudah memberikan teguran dan surat peringatan tertulis kepada guru tersebut. Dia berjanji tidak mengulangi perbuatannya,” ujar Wan saat diwawancarai.
Penanganan Kasus oleh Pihak Kepolisian
Kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan guru terhadap siswi SMA negeri Pekanbaru kini ditangani pihak kepolisian. Kasus tersebut sebelumnya dilaporkan oleh korban ke Polda Riau, namun penanganan lebih lanjut dilakukan oleh Polres Bengkalis karena lokasi kejadian berada di Kecamatan Duri, Kabupaten Bengkalis.
Kapolres Bengkalis, AKBP Fahrian Saleh Siregar, menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan terhadap laporan tersebut. “Kami membentuk tim penyelidik dan memeriksa saksi-saksi,” kata Fahrian melalui sambungan telepon.
Pengakuan Korban dan Bantuan dari LSM
Seorang siswi kelas 2 SMA negeri di Kota Pekanbaru, Riau, mengaku menjadi korban pelecehan seksual oleh gurunya sendiri. Dalam pengaduannya ke Cipta Gerakan Masyarakat (Germas) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Riau, siswa berinisial PI (17) ini mengungkap bahwa pelaku adalah gurunya sendiri, berinisial AS.
Keluarga korban meminta pendampingan dari LSM PPA Riau. Wakil Ketua Umum Cipta Germas PPA Riau, Rika Parlina, menyampaikan bahwa pihaknya menerima laporan dari korban dan keluarganya yang meminta bantuan. Setelah melihat bukti berupa video, pihaknya merasa sangat prihatin atas perbuatan asusila oknum guru tersebut.
“Sangat miris melihat tenaga pendidik seperti itu. Kami meminta Dinas Pendidikan segera bertindak. Kasus ini juga sudah dilaporkan ke Polda Riau,” ujar Rika saat diwawancarai.
Kronologi Pelecehan Menurut Korban
Berdasarkan pengakuan korban, pelaku diduga melakukan pelecehan seksual. Pelaku juga sering menghubungi korban hingga larut malam. Pelecehan dialami korban saat mengikuti kegiatan sekolah di wilayah Duri, Kabupaten Bengkalis, beberapa waktu lalu.
Korban waktu itu istirahat di dalam mobil karena kelelahan dan tertidur seorang diri. AS masuk ke dalam mobil dan melakukan pelecehan. Pelaku merekam video saat melakukan perbuatan tidak pantas itu. Namun, video tersebut kemudian diketahui oleh salah seorang murid yang meminjam ponsel AS untuk keperluan dokumentasi kegiatan.
Tanggapan Keluarga Korban
Rika menyebut bahwa pihaknya sudah datang ke sekolah korban, tetapi tanggapan pihak sekolah dinilai tidak berpihak kepada korban. “Kepala sekolah menyebut ini hanya khilaf dan guru tersebut merasa bersalah. Kami sesalkan karena yang dipikirkan justru kondisi gurunya, bukan trauma korban,” ungkap Rika.
Keluarga korban, kata dia, berharap proses hukum berjalan transparan dan memberikan keadilan bagi korban, sekaligus menjadi efek jera agar kasus serupa tidak kembali terjadi di lingkungan pendidikan.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."












