Pernyataan Duta Besar Iran di PBB: 1.332 Warga Tewas Akibat Serangan AS dan Israel
Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangna (PBB), Amir Saeid Iravani, menyampaikan pernyataan mengenai korban jiwa akibat serangan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap warga Iran. Menurutnya, setidaknya 1.332 orang tewas dalam serangan tersebut, sementara ribuan lainnya mengalami luka-luka. Pernyataan ini disampaikan dalam sidang PBB di New York pada Jumat (6/3/2026).
Iravani menjelaskan bahwa korban tewas mencakup laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Ia menambahkan bahwa lebih dari 180 anak di Iran telah meninggal akibat serangan AS dan Israel. Selain itu, banyak fasilitas publik di Iran juga rusak akibat serangan tersebut sejak 28 Februari 2026 lalu. Salah satu yang menjadi korban adalah sekolah, dengan lebih dari 20 sekolah yang hancur akibat serangan tersebut.
Penyesalan atas Serangan ke Warga Sipil dan Fasilitas Publik
Di sidang PBB, Iravani menyampaikan penyesalan terhadap tindakan AS dan Israel yang menyerang warga sipil dan fasilitas publik di Iran. Menurutnya, tindakan tersebut melanggar hukum internasional karena rakyat sipil dan fasilitas publik tidak boleh menjadi target dalam konflik militer.
Iran, dalam melakukan serangan balasan, juga tidak menyasar warga sipil dan fasilitas publik. Menurut Iravani, Iran hanya menargetkan markas militer AS yang berada di negara-negara sekutu seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait. Oleh karena itu, ia membantah keras tuduhan AS yang mengklaim Iran menyerang rakyat sipil di negara-negara tersebut.
“Penilaian awal kami menunjukkan bahwa beberapa insiden ini mungkin diakibatkan oleh pencegahan atau gangguan oleh sistem pertahanan Amerika Serikat yang dapat mengalihkan sasaran dari target militer yang dimaksud,” ujar Iravani.
Perang AS-Israel dengan Iran Berjalan Satu Pekan
Saat ini, konflik antara AS, Israel, dan Iran sudah berlangsung selama satu pekan. Namun, hingga saat ini, AS dan Israel masih terus melakukan serangan terhadap Iran, membuat situasi konflik di Timur Tengah semakin memanas.
Perang kini juga menyebar ke negara-negara Timur Tengah lainnya seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Lebanon. Lebanon terseret dalam konflik karena diduga milisi Hizbullah membantu Iran melawan AS dan Israel. Akibatnya, pasukan Israel juga melakukan serangan ke Lebanon.
Hingga saat ini, Israel masih menyerang Lebanon. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan Israel mencapai 217 orang, sementara korban luka mencapai 798 orang.

Donald Trump Minta Iran Segera Menyerah
Untuk mengakhiri serangan-serangan tersebut, Presiden AS, Donald Trump, meminta Iran segera menyerah. Jika tidak, Trump mengancam akan terus melanjutkan serangan ke Iran.
Dalam pernyataannya, Trump juga mendesak Iran untuk segera mengangkat pemimpin baru setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei. Namun, Trump ingin ikut campur dalam pemilihan pemimpin Iran, dengan alasan ia menganggap AS memiliki hak untuk menentukan siapa pemimpin Iran berikutnya.
Namun, permintaan tersebut ditolak oleh Iran. Iravani menegaskan bahwa pemilihan pemimpin baru Iran sepenuhnya berada di tangan pemerintah dan rakyat, bukan di tangan pihak asing seperti AS.
“Pemilihan pemimpin Iran akan berlangsung sepenuhnya sesuai dengan prosedur konstitusional kami dan semata-mata atas kehendak rakyat Iran tanpa campur tangan asing,” tegas Iravani.

Ultimatum Trump Usai Dapat Tantangan
Trump memberikan ultimatum kepada Iran setelah mendapat tantangan. Ia menegaskan bahwa serangan AS bisa menjadi lebih telak jika diperlukan.
Presiden Iran juga memberikan janji bahwa negaranya tidak akan lagi menyerang negara tetangga. Selain itu, presiden Iran meminta maaf karena negara-negara Teluk ikut menjadi sasaran serangan.












