Penutupan Sementara Operasional Dapur SPPG Susulaku
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kamillus Elu, S. H telah menandatangani surat pemberhentian sementara operasional Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Susulaku. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk melindungi generasi muda dan masyarakat Kabupaten TTU dari risiko kesehatan yang mungkin terjadi akibat penyajian makanan yang tidak memenuhi standar.
Investigasi Lapangan Dilakukan
Untuk memastikan penyebab dari kasus ini, Satgas MBG TTU telah mengirimkan petugas dari ketahanan pangan untuk melakukan investigasi di lapangan. Tujuan utama dari investigasi ini adalah untuk mengecek kondisi bahan baku yang digunakan di Dapur SPPG Susulaku. Dengan demikian, solusi yang diberikan dapat meminimalkan risiko serupa di masa depan.
Kondisi Makanan yang Disajikan
Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kabupaten TTU, gading ayam yang disajikan oleh Dapur SPPG Susulaku pada Selasa, 3 Maret 2026, tidak matang sempurna. Daging ayam tersebut terlihat kemerahan dan belum menunjukkan tanda-tanda matang. Selain itu, sayur-sayuran yang disajikan juga sudah basi. Hal ini menjadi alasan utama penutupan sementara operasional dapur tersebut.
Dinas Kesehatan Kabupaten TTU telah mengambil sampel makanan dari SPPG Susulaku pada tanggal 3 Maret 2026 dan mengirimkannya ke Kupang untuk diperiksa di laboratorium provinsi NTT.
Pengelolaan Makanan yang Perlu Diperhatikan
Kamillus Elu menegaskan bahwa program MBG sangat baik, namun pengelola Dapur SPPG Susulaku diduga lalai dalam menjalankan tugasnya. Ia menyampaikan beberapa usulan kepada SPPI Kabupaten TTU dan para pengelola dapur sebelumnya, termasuk pentingnya menggunakan bahan segar dan memastikan proses pengolahan makanan sesuai standar higienis.
Di Kabupaten TTU, penyajian MBG pernah mengalami beberapa kasus seperti makanan berulat dan keracunan makanan. Dari pengalaman ini, SPPI dan pemilik Dapur SPPG harus lebih waspada dalam mengelola proses penyajian makanan.
Kasus Keracunan Siswa SMA Negeri 1 Insana
Pada Rabu, 4 Maret 2026, sebanyak 10 siswa SMA Negeri 1 Insana dilarikan ke Puskesmas Oelolok setelah mengeluhkan gejala seperti lemas, muntah, diare, dan sakit perut. Dari jumlah tersebut, 7 orang siswa mendapatkan penanganan medis, termasuk pemberian infus dan terapi obat.
SPPG Susulaku memberikan pelayanan kepada 542 siswa-siswi SMA Negeri 1 Insana dengan total sasaran sebanyak 2566 orang. Dalam beberapa kali rapat Satgas MBG TTU, Kamillus Elu telah memberikan teguran kepada Korwil SPPI Kabupaten TTU, SPPI, dan pemilik Dapur SPPG agar lebih hati-hati dalam menyajikan makanan.
Penyangkalan dari Pihak SPPG Susulaku
Sebelumnya, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Timor Tengah Utara Insana Susulaku, Petrus Renoldy Kii, membantah informasi tentang ratusan siswa yang diduga mengalami keracunan. Menurutnya, jumlah ratusan siswa tersebut belum dapat diverifikasi kebenarannya. Namun, ia mengakui bahwa data yang disampaikan oleh Puskesmas Oelolok perihal 10 siswa lebih valid karena mereka yang menangani langsung pasien.
Proses Penanganan dan Evaluasi
Setelah menerima informasi dari guru-guru SMA Negeri 1 Insana, Petrus Renoldy Kii langsung menuju ke Puskesmas Oelolok untuk memastikan informasi tersebut. Dari hasil evaluasi, diketahui bahwa sebanyak 7 siswa mengalami sakit perut dan mules. Empat orang di antaranya dirawat jalan, sedangkan tiga orang lainnya menjalani rawat inap.
Menu makanan yang disajikan pada tanggal 3 Maret 2026 mencakup nasi putih, ayam woku, tempe saos tiram, tumis labu, dan lengkeng. Dinas Kesehatan Kabupaten TTU telah mengambil sampel makanan tersebut untuk diperiksa di laboratorium.
Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”












