Budaya  

Makam Belanda di TPU Puncak Sekuning, Jejak Sejarah Kebun Tionghoa Palembang

Sejarah dan Perkembangan TPU Puncak Sekuning di Palembang

TPU Puncak Sekuning merupakan salah satu kompleks pemakaman tertua di Kota Palembang yang menyimpan jejak sejarah perkembangan kota dari masa kolonial hingga era modern. Wilayah ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemakaman, tetapi juga menjadi saksi bisu perubahan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Palembang.

Asal Usul Nama Puncak Sekuning

Nama Puncak Sekuning berasal dari dua kata, yaitu “puncak” dan “sekuning”. Kata “puncak” merujuk pada kondisi geografis wilayah tersebut yang berada di dataran tinggi dibandingkan dengan kawasan sekitarnya. Meskipun oleh masyarakat setempat tidak dianggap terlalu tinggi, posisi ini membuat wilayah ini menjadi lokasi yang strategis.

Sementara itu, istilah “sekuning” diyakini berasal dari kondisi masa lalu ketika kawasan ini dipenuhi bunga kuning yang tumbuh secara alami. Berdasarkan peta lama abad ke-19, nama Puncak Sekuning belum tercatat secara resmi. Pada peta tahun 1897, wilayah tersebut masih digambarkan sebagai kawasan hutan belukar. Namun, pada peta tersebut sudah muncul penamaan seperti Talang Bukit dan Talang Kebon, yang menunjukkan bahwa kawasan ini mulai dikenal sebagai wilayah perkebunan dan permukiman awal.

Permukiman Awal dan Jejak Komunitas Tionghoa

Tanah di kawasan ini dikenal cukup subur. Masyarakat pertama yang menetap di wilayah Puncak Sekuning disebut merupakan keturunan Tionghoa yang berprofesi sebagai pekebun. Kelompok ini dikenal oleh masyarakat Palembang dengan sebutan “Cina Talang”. Jejak sejarah tersebut menjelaskan mengapa hingga kini kawasan di sekitar Puncak Sekuning masih dihuni oleh sejumlah warga keturunan Tionghoa.

Pemindahan Pemakaman pada Masa Kolonial

Keberadaan TPU Puncak Sekuning berkaitan erat dengan sejarah pemakaman di Palembang pada masa lalu. Dahulu, kawasan pemakaman di kota ini membentang cukup luas, mulai dari sekitar Masjid Agung Palembang hingga kawasan Cinde Market, yang pada masa lalu dikenal sebagai wilayah Candi Welang.

Pada tahun 1916, pemerintah kolonial Belanda melakukan penataan kota dengan membuka sejumlah lokasi pemakaman baru. Hampir seluruh pemakaman lama di kawasan pusat kota dipindahkan ke beberapa tempat, termasuk ke kawasan Puncak Sekuning. Pada masa awal pembangunannya, area pemakaman ini dibuat secara sederhana dan dipagari dengan kawat pembatas. Karena itu masyarakat Palembang saat itu menyebutnya sebagai “pemakaman kandang kawat.” Namun karena penyebutan tersebut dianggap terlalu panjang dan kurang praktis dalam percakapan sehari-hari, warga kemudian lebih sering menyebutnya dengan nama kawasan tempatnya berada, yaitu Puncak Sekuning.

Jejak Makam Tua Bergaya Kesultanan

Pegiat sejarah Palembang Mang Dayat menjelaskan bahwa di kawasan ini masih dapat ditemukan perbedaan antara makam lama dan makam yang lebih baru. Menurutnya, makam-makam tua memiliki ciri khas berupa penggunaan huruf Melayu atau huruf Arab gundul pada batu nisan. Selain itu terdapat ornamen bergaya Kesultanan Palembang, yang memperlihatkan kuatnya pengaruh budaya lokal dalam tradisi pemakaman masyarakat Palembang pada masa lampau.

Perkembangan Kawasan Hingga Masa Modern

Memasuki tahun 1930, kawasan Puncak Sekuning mulai berkembang sebagai wilayah terbuka. Pemerintah kolonial Belanda membangun kompleks perumahan di sekitar Jalan Barito. Namun pada masa pendudukan Jepang tahun 1942–1945, kawasan perumahan tersebut difungsikan sebagai kamp interniran bagi warga Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah kemudian mengembangkan kawasan Bukit Besar sebagai pusat pendidikan. Sejak periode 1958–1959 hingga sekarang, wilayah Puncak Sekuning terus berkembang menjadi kawasan strategis yang berada tidak jauh dari pusat Kota Palembang.

Lebih dari Sekadar Tempat Pemakaman

Sebagai fasilitas pelayanan publik yang dikelola pemerintah daerah, TPU Puncak Sekuning bukan sekadar tempat pemakaman. Kawasan ini menjadi saksi perjalanan panjang Kota Palembang, mulai dari masa hutan belukar, era perkebunan masyarakat Tionghoa, pemindahan makam pada masa kolonial, hingga perkembangan kota modern. Keberadaannya hari ini tidak hanya menyimpan nilai historis, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas dan memori kolektif masyarakat Palembang.


Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?