Ketersediaan Pangan Nasional Aman Hingga Tahun Depan
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengungkapkan bahwa stok pangan nasional dalam kondisi aman dan cukup untuk kebutuhan masyarakat hingga setahun ke depan, menjelang perayaan Idul Fitri 2026. Hal ini disampaikannya saat ditemui di Kantor DPP PAN, Jakarta, pada Kamis (12/3/2026).
Menurut Zulhas, secara umum harga pangan masih stabil, bahkan beberapa komoditas seperti cabai mengalami penurunan. Ia menjelaskan bahwa harga cabai yang sebelumnya mencapai Rp150 ribu per kg kini turun menjadi sekitar Rp90 ribu per kg.
“Pangan kita stok cukup, harga terjangkau. Bahkan menjelang seminggu atau 10 hari menjelang lebaran ini justru cenderung turun seperti cabai ya. Memang telur agak naik tapi masih dalam batas harga acuan,” ujar Zulhas kepada wartawan.
Ia juga menegaskan bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah tidak berdampak signifikan pada pasokan pangan Indonesia. Hal ini karena Indonesia tidak melakukan impor pangan dari wilayah tersebut. Sebaliknya, beberapa komoditas utama seperti beras, jagung, ayam, dan ikan sudah diproduksi secara mandiri di dalam negeri.
“Kita swasembada beras, swasembada jagung, ayam, ikan sudah ya. Yang kita impor gandum, gandum tidak dari Timur Tengah tapi dari Eropa dan Kanada ya,” kata dia.
Zulhas menyebut bahwa ketersediaan stok pangan nasional saat ini mencukupi untuk kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang. “(Stok) cukup (untuk) setahun ya,” tambahnya.
Dampak Konflik Timur Tengah pada Ekonomi Indonesia
Sebelumnya, Perang Israel-Amerika Serikat (AS) vs Iran memberikan dampak negatif ke sejumlah negara, termasuk Indonesia. Masyarakat Indonesia menghadapi potensi kenaikan harga barang impor, melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM), dan akhirnya harga bahan pokok menjadi lebih mahal.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, memanasnya tensi di Timur Tengah imbas serangan Israel-AS ke Iran memicu kenaikan harga energi. Harga minyak Brent telah menyentuh US$ 73 per barel dari yang sebelumnya sempat di US$ 65 per barel di awal Februari.
“Bisa jadi harga minyak global akan menyentuh US$ 120 per barel sama seperti ketika Rusia melakukan invasi ke Ukraina,” tutur Nailul dikutip dari Kontan, Senin (2/3/2026).
Selat Hormuz menjadi salah satu jalur pelayaran tersibuk dan paling strategis bagi perdagangan energi dan barang global. Jalur ini telah ditutup dan kapal-kapal komersial dilarang mendekat. Selain itu, potensi keterlibatan kelompok Houthi di Laut Merah juga membuka risiko gangguan di Bab el-Mandab.
Jika jalur itu terganggu, arus perdagangan yang melewati Terusan Suez dan Mesir terancam tersendat. Kapal-kapal terpaksa memutar lewat Afrika, memicu kenaikan ongkos logistik global dan harga barang.
Risiko Kenaikan Harga Minyak Mentah
Nailul mengingatkan lonjakan harga minyak akan membebani fiskal. Kenaikan harga minyak mentah dan barang impor akan memperbesar subsidi energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM). “Anggaran kita akan jebol apabila tidak ada realokasi anggaran ke subsidi BBM,” katanya.
Ia pesimistis bahwa pemerintah bisa mengandalkan penerimaan negara di tengah ketidakpastian global. Opsi penambahan utang dinilai tidak mudah, mengingat lembaga pemeringkat seperti Moody’s dan S&P sebelumnya menyoroti kualitas pengelolaan fiskal Indonesia.
Nailul juga menyebut, kenaikan harga energi akan mendorong biaya freight dan premi asuransi. Dampaknya akan dirasakan oleh pelaku usaha berorientasi ekspor maupun yang bergantung pada bahan baku impor. “Harga impor akan naik dan bisa menyebabkan imported inflation,” katanya.












