Budaya  

Pesan Damai Uskup Maumere di Malam Takbiran Idul Fitri 1447 Hijriah

Tradisi Takbiran yang Menjadi Simbol Persaudaraan di Kabupaten Sikka

Gema takbir dan cahaya ratusan obor yang digenggam para Remaja Masjid (Remas) Kabupaten Sikka, Jumat malam (20/3/2026), menjadi penanda datangnya Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Di antara ratusan Remaja Masjid yang memulai pawai obor di Masjid Al-Muhajirin Perumnas Maumere, ada wajah-wajah Orang Muda Katolik (OMK) Stasi Perumnas, Paroki Katedral Santo Yoseph Maumere yang berjalan beriringan dengan Remaja Masjid.

Kebersamaan dalam tradisi takbiran ini memasuki tahun keempat. Dalam acara tersebut, RD Yakobus Donisius Migo, yang hadir mewakili Uskup Maumere, menyampaikan pesan persaudaraan di hadapan umat Muslim dan pemuda lintas agama yang bersiap melaksanakan pawai obor.

Pesan Persaudaraan dari Tokoh Agama

Dalam sambutannya, Romo Doni menegaskan bahwa gema takbir yang berkumandang merupakan ungkapan iman yang luhur dan menjadi jembatan perjumpaan antarumat beragama. Ia menekankan bahwa dalam perspektif iman Katolik, Tuhan yang disembah adalah sumber kasih bagi seluruh kemanusiaan. Oleh karena itu, gema takbir malam dimaknai sebagai panggilan bersama:

  • Pertama, bahwa dalam perbedaan, kita tidak berdiri saling berhadapan, melainkan berjalan berdampingan.
  • Kedua, bahwa iman tidak memisahkan, melainkan justru mendorong kita untuk saling merangkul.
  • Ketiga, bahwa keberagaman bukan merupakan ancaman, melainkan rahmat yang memperkaya kehidupan bersama.

Ia juga menambahkan bahwa bagi masyarakat Flores, khususnya di Kabupaten Sikka, keberagaman bukanlah sebuah ancaman, melainkan rahmat yang memperkaya kehidupan bersama. “Kiranya pawai takbiran malam ini menjadi tanda nyata bahwa persaudaraan lebih kuat daripada perbedaan,” ucapnya.

Simbol Persaudaraan Sejati

Lebih lanjut, Romo Doni mengajak seluruh warga untuk merawat persaudaraan yang tidak hanya berhenti pada kata-kata, tetapi terwujud dalam tindakan nyata seperti saling menghormati dan melindungi. Ia membacakan pesan Uskup Maumere yang menyerukan agar gema takbiran menjadi suara hati yang memanggil kita berjalan bersama membangun damai, merawat kehidupan, dan menghadirkan kasih Tuhan di tengah dunia.

Menutup sambutannya, RD Doni Migo mengucapkan selamat merayakan Idulfitri 1447 Hijriah dan mohon maaf lahir batin kepada seluruh umat Muslim mewakili umat Katolik Keuskupan Maumere.

Kerja Sama Lintas Agama yang Terus Berlanjut

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Al-Muhajirin Perumnas Maumere, Haji Supardi Wahab, mengapresiasi semangat kolaborasi antara Remaja Masjid (Remas) dan Orang Muda Katolik (OMK) dalam menyemarakkan malam takbiran Idulfitri 1447 H, Jumat (20/3/2026). Supardi mengungkapkan, keterlibatan aktif pemuda lintas agama di Kabupaten Sikka dalam kegiatan hari besar Islam bukanlah hal baru, melainkan tradisi yang terus dirawat.

“Kerja sama antara OMK atau Mudika dengan Remaja Masjid ini sudah berulang kali terjadi. Bagi kami, ini bukan hal baru, tapi sesuatu yang selalu kami motivasi agar terus berlanjut ke generasi penerus,” ujar Supardi saat ditemui di Masjid Al-Muhajirin, Jumat malam.

Persiapan Matang dan Silaturahmi

Menurut Supardi, gema takbir tahun ini merupakan tahun keempat yang dikoordinasikan oleh Remaja Masjid se-Kabupaten Sikka. Ia mengaku terkesan dengan inisiatif para pemuda yang membangun komunikasi sejak jauh hari. Tiga hari sebelum hari raya, perwakilan OMK dari Stasi Santa Maria Perumnas mendatangi Masjid Al-Muhajirin untuk bersilaturahmi dan berkoordinasi mengenai teknis pelaksanaan pawai obor.

“Kami sebagai orang tua sangat terkesan. Mereka datang bersilaturahmi, bertemu dengan remaja masjid untuk membicarakan apa yang akan dilaksanakan pada malam hari ini,” tambahnya.

Dukungan Penuh dari Keuskupan

Selain kehadiran fisik para pemuda Katolik, dukungan moral juga datang langsung dari pimpinan Gereja Katolik setempat. “Dua hari lalu saya dihubungi pihak Keuskupan Maumere. Bapak Uskup menyatakan kesiapannya untuk memberikan sambutan pada acara pelepasan takbiran malam ini,” ungkap Supardi.

Terkait adanya perbedaan waktu perayaan Idul Fitri tahun ini di tengah masyarakat, Supardi menegaskan hal tersebut tidak menjadi persoalan bagi warga Sikka. Fokus utama mereka adalah menjaga kebersamaan dan memberikan semangat kepada generasi muda untuk terus merawat toleransi.

“Harapan kami, hubungan anak muda lintas agama ini tetap terjaga. Inilah gambaran bagaimana kita memberikan motivasi kepada generasi penerus,” pungkasnya.


Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?