Antusiasme Jemaah Memadati Masjid Negara IKN untuk Salat Idul Fitri
Pagi hari di kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Masjid Negara IKN, Sabtu (21/3), terasa penuh semangat. Ribuan jemaah memadati masjid sejak dini hari untuk mengikuti Salat Idul Fitri 1447 Hijriah yang menjadi yang pertama kali dilaksanakan di tempat tersebut. Momen ini tidak hanya menjadi momen keagamaan, tetapi juga simbol awal perpindahan ibu kota secara fisik dan spiritual.
Kedatangan Jemaah yang Terus Mengalir
Sejak pukul 04.00 WITA, arus kedatangan jemaah mulai meningkat. Mayoritas dari mereka datang bersama keluarga dan menggunakan kendaraan roda empat yang memadati akses menuju kawasan masjid. Kepadatan terlihat sejak gerbang utama hingga area parkir yang telah disiapkan. Petugas gabungan dari TNI, Polri, dan Otorita IKN tampak sigap mengatur lalu lintas serta mengarahkan kendaraan agar tetap rapi dan tidak mengganggu akses masuk.
Di area pintu masuk, petugas aktif memberikan arahan terkait pembagian saf antara laki-laki dan perempuan. Setiap jemaah juga diberikan kantong plastik untuk menyimpan alas kaki agar tetap aman dan tertib saat dibawa ke dalam masjid.
Suasana di Dalam Masjid
Di dalam masjid, suasana sudah dipadati ribuan jemaah yang memenuhi setiap sudut ruangan. Lantai satu didominasi jemaah laki-laki di sisi kanan, sementara jemaah perempuan menempati sisi kiri. Saf salat tersusun rapi hingga ke lantai dua dan tiga. Beberapa pejabat Otorita IKN turut hadir dan mengisi saf terdepan, seperti Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono, Deputi Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Alimuddin, serta Direktur Pelayanan Dasar Suwito.
Salat Idul Fitri dijadwalkan dipimpin oleh Ustaz Prof. Dr. H. M. Abzar Duraesa sebagai imam, sementara khatib dipercayakan kepada Ustaz Dr. Ahmad Muzakir. Hingga pukul 06.50 WITA, pelaksanaan salat masih menunggu jemaah yang terus berdatangan.
Pengalaman Personal yang Berkesan
Antusiasme warga begitu terasa. Banyak jemaah mengabadikan momen bersejarah ini dengan ponsel mereka, menjadikannya pengalaman yang tak hanya spiritual, tetapi juga personal. Dari sudut jemaah, momen ini menjadi pengalaman yang penuh kesan.
Rahmat (42), warga Balikpapan, mengaku sengaja datang lebih pagi bersama keluarganya demi bisa merasakan suasana di dalam masjid. “Ini pengalaman luar biasa, bisa Salat Id pertama di Masjid Negara IKN. Kami datang dari subuh supaya bisa dapat tempat di dalam,” ujarnya.
Siti Aminah (35), warga Samarinda, yang datang bersama anak-anaknya, melihat momen ini sebagai pengalaman baru bagi keluarga. “Masjidnya sangat megah dan tertata rapi. Anak-anak juga senang bisa ikut merasakan suasana berbeda dari biasanya,” katanya.
Ahmad Fauzi (28), warga Penajam Paser Utara, menyoroti kesiapan petugas di lapangan yang membuat jemaah merasa nyaman sejak kedatangan. “Tadi sempat khawatir macet, tapi ternyata petugas sigap sekali. Parkiran juga tertata, jadi kami merasa nyaman,” tuturnya.
Ribuan Jemaah Tumpah Ruah hingga Lantai 3
Pelaksanaan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah perdana di Masjid Negara Ibu Kota Nusantara (IKN) berlangsung aman, tertib, dan penuh khidmat. Ribuan jemaah dari berbagai daerah memadati kawasan masjid sejak dini hari. Arus kedatangan yang terus mengalir membuat jadwal salat yang semula direncanakan pukul 06.30 WITA mundur menjadi pukul 06.50 WITA.
Seluruh area masjid, mulai dari lantai dasar hingga lantai atas, dipenuhi jemaah yang mengikuti ibadah dengan khusyuk.
Dimaknai sebagai Awal Perpindahan Spiritual Ibu Kota
Pelaksanaan Salat Idul Fitri di Masjid Negara IKN tidak sekadar menjadi momen ibadah tahunan, tetapi juga dimaknai sebagai tonggak penting perpindahan ibu kota yang bersifat fisik sekaligus spiritual. Ribuan jemaah dari berbagai daerah seperti Balikpapan, Samarinda, hingga Bontang hadir untuk mengikuti Salat Id perdana di pusat pemerintahan baru Indonesia.
Ibadah berlangsung khusyuk dengan imam Ustaz Prof. Dr. H. M. Abzar Duraesa dan khatib Ustaz Dr. Ahmad Muzakir. Kehadiran sejumlah tokoh turut menambah kekhidmatan suasana.
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menyebut momen ini sebagai awal yang baik bagi kehidupan di ibu kota baru. “Alhamdulillah kita bisa menyelenggarakan Salat Idul Fitri di masjid negara ini. Antusiasme masyarakat sangat besar, dari berbagai daerah datang. Ini menjadi awal yang baik,” ujarnya.
Menurut Basuki, pelaksanaan ini mencerminkan bahwa kehidupan di IKN mulai tumbuh, tidak hanya dari sisi infrastruktur, tetapi juga sosial dan keagamaan. “Seperti yang disampaikan dalam khutbah tadi, perpindahan ibu kota ini bukan hanya fisik, tetapi juga spiritual. Ini yang sedang kita bangun bersama di IKN,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan berbagai rumah ibadah untuk mencerminkan keberagaman di IKN. Pembangunan gereja, klenteng, dan vihara dirancang dilakukan secara bertahap. Momentum Salat Id perdana ini menjadi simbol awal terbentuknya ekosistem kehidupan beragama di IKN, fondasi penting menuju ibu kota yang inklusif, harmonis, serta kuat secara moral dan spiritual.












