Trump Dalam Tekanan Hebat, Iran Klaim Menang Perang

Iran Mengklaim Kemenangan dalam Konflik dengan AS dan Israel

Iran terus menerus menghadapi serangan dari Amerika Serikat (AS) dan Israel, namun hal itu tidak membuat negara tersebut menyerah. Justru sebaliknya, Negeri Persia ini berani menyatakan bahwa kini mereka berada di posisi sebagai pemenang.

Iran sedang mempersiapkan strategi untuk membalikkan situasi dan menyelesaikan perang dengan kemenangan. Kepercayaan diri yang dimiliki Iran tidak lepas dari beberapa syarat yang diajukan kepada AS dan Israel untuk menghentikan konflik. Sikap percaya diri ini terlihat dari tuntutan-tuntutan yang diajukan Iran sebagai syarat berakhirnya perang.

Salah satu poin penting adalah ambisi Iran untuk mengubah status Selat Hormuz. Jalur pelayaran internasional yang menjadi urat nadi minyak dunia ini rencananya akan dijadikan “pos penagihan tarif tol” oleh Teheran. Anggota Dewan Kebijaksanaan Iran sekaligus penasihat pemimpin tertinggi bidang ekonomi, Mohammad Mokhber, mengungkapkan rencana untuk menetapkan status baru di sana yang mengharuskan setiap kapal yang melintas membayar biaya kepada Iran.

“Iran akan mengubah posisinya dari negara yang dijatuhi sanksi menjadi kekuatan yang lebih besar di kawasan dan dunia,” ujar Mokhber kepada kantor berita Mehr. “Kami akan menjatuhkan sanksi kepada kekuatan arogan yang haus dominasi tersebut,” lanjutnya.

Meskipun AS dan Israel mengeklaim telah menghancurkan banyak peluncur dan stok rudal, Iran terbukti masih memiliki kemampuan untuk meluncurkan puluhan rudal balistik dan drone setiap hari ke berbagai penjuru Timur Tengah. Bahkan, intensitas serangan Iran dilaporkan meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Serangan tersebut menyebabkan kerusakan parah pada instalasi energi di Qatar, Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab, sementara ekspor minyak Iran sendiri justru tetap melonjak. Kondisi ini memberikan tekanan besar bagi Presiden AS Donald Trump untuk segera mengakhiri perang, terutama karena lonjakan harga minyak dan gas mulai membebani ekonomi global.

Analisis dari Dina Esfandiary, seorang pakar tentang Iran, menyebutkan bahwa Teheran merasa mendapatkan pelajaran penting. “Mereka bisa menyebabkan banyak kerusakan dan gangguan dengan cara yang relatif mudah dan murah. Sekarang, mereka ingin seluruh dunia mempelajari pelajaran itu juga,” ungkapnya.

Di sisi lain, AS dan Israel memberikan sinyal yang beragam. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa perang akan berakhir jauh lebih cepat dari yang diperkirakan orang. Senada dengan itu, Trump menyebut konflik akan selesai dalam waktu dekat, meski di saat yang sama Pentagon mengirim ribuan personel tambahan Marinir ke Timur Tengah.

Jason Greenblatt, mantan utusan khusus Gedung Putih untuk Timur Tengah, menilai sikap Iran sebagai bentuk kesombongan yang berbahaya. Trump sendiri menegaskan melalui unggahan di Truth Social bahwa membuka kembali Selat Hormuz adalah manuver militer sederhana dengan risiko kecil. Namun, para ahli militer memperingatkan bahwa di era drone dan rudal antikapal, merebut kembali kendali selat tersebut tidaklah sesederhana itu, meski bukan hal yang mustahil.

Di sisi lain, analis meragukan keberlanjutan ambisi Iran. Sanam Vakil dari Chatham House menilai bahwa membiarkan Iran menguasai jalur strategis tersebut akan menjadi kegagalan kategoris bagi AS. Sementara itu, Robin Mills dari Qamar Energy menyebut kontrol Iran atas energi global tidak akan bisa diterima oleh negara-negara pelanggan besar seperti China, India, dan Jepang.

Pengamat dari Middle East Institute, Alex Vatanka, mengingatkan sejarah kaku Iran dalam berdiplomasi. Dia mencontohkan bagaimana Iran baru menyetujui gencatan senjata dengan Irak pada 1988, enam tahun setelah mereka berhasil membebaskan wilayahnya, yang mengakibatkan kehancuran dan korban jiwa yang jauh lebih besar. “Sisi Iran memiliki sejarah tidak mengambil peluang, baik di garis depan diplomasi maupun militer,” kata Vatanka.

Di tengah kecamuk perang, pengamat dari Sciences Po, Nicole Grajewski, mengingatkan bahwa konflik ini juga digunakan rezim untuk memperkuat posisi domestik.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?