Kekerasan yang Membahayakan
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kian memanas, memicu kekhawatiran dunia akan pecahnya konflik berskala besar yang sulit dikendalikan. Di tengah situasi genting tersebut, sejumlah analis menilai ada satu sosok yang memiliki pengaruh moral dan politik cukup kuat untuk meredam eskalasi, yakni Paus Leo XIV.
Pemimpin Gereja Katolik yang juga berasal dari Amerika Serikat itu dinilai memiliki kedekatan psikologis dan simbolik dengan Presiden Donald Trump. Hubungan unik ini bahkan disebut-sebut membuat Paus Leo menjadi salah satu figur yang “didengar” oleh Donald Trump di tengah kerasnya kebijakan luar negeri Washington.
Dalam beberapa pernyataan terakhir, Paus Leo secara terbuka mendesak penghentian serangan dan mengedepankan jalur diplomasi dibanding kekuatan militer. Seruan tersebut muncul saat ancaman perang terbuka terhadap Iran semakin nyata dan berpotensi menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam krisis lebih luas.
Meski demikian, respons Trump kerap menunjukkan sikap keras, sehingga menimbulkan pertanyaan besar: sejauh mana pengaruh Paus dapat benar-benar mengubah arah kebijakan AS. Kini, dunia menanti apakah suara moral dari Vatikan mampu menjadi penentu atau sekadar gema di tengah riuhnya genderang perang.
Harapan yang Menjadi Titik Balik
Di tengah kecamuk perang yang kian liar antara poros kekuatan Amerika Serikat-Israel melawan Iran, muncul secercah harapan diplomasi yang mengejutkan. Pengamat hubungan internasional dari President University, Jeanne Francoise alias Jean, melontarkan analisis tajam bahwa kunci perdamaian dunia saat ini tidak lagi berada di tangan para jenderal atau politisi, melainkan di Vatikan.
Dalam sebuah diskusi di Sapa Indonesia Malam di TV One, Minggu (22/3/2026) mengenai nation building dan konflik Timur Tengah, Jean menegaskan bahwa sosok Presiden AS, Donald Trump, yang dikenal arogan, pragmatis, dan “pebisnis tulen,” hampir tidak mendengarkan masukan dari pemimpin dunia mana pun. Namun, ada satu pengecualian besar.
“Saya yakin satu-satunya orang yang didengar Trump saat ini adalah Paus Leo,” ujar Jean Francoise dengan nada penuh keyakinan. Keberanian Turun Tangan ke Lapangan Analisis Jean bukan tanpa dasar. Karakter Trump yang meletakkan kepentingan nasional Amerika di atas hukum internasional memerlukan pendekatan personal yang melampaui sekat politik formal.
Paus Leo, dengan otoritas moral universalnya, dianggap memiliki celah unik untuk menyentuh sisi kemanusiaan Trump. Meskipun sebelumnya Paus telah mengeluarkan seruan umum untuk perdamaian dari Vatikan, Jean berharap pemimpin umat Katolik dunia itu bersedia melakukan langkah yang lebih berani.
“Tadinya kan hanya seruan di umum ya di Vatikan. Dan saya berharap Paus akan turun langsunglah gitu untuk betul-betul mendamaikan,” tambahnya. Harapan ini menonjolkan sisi human interest yang mendalam; di mana nasib jutaan nyawa sipil di Iran dan Israel kini bergantung pada keberanian seorang pemimpin spiritual untuk berdialog langsung dengan sosok pemimpin dunia yang paling sulit diprediksi.
Soliditas Iran yang Mengejutkan
Di sisi lain, diskusi juga menyoroti mengapa operasi militer Amerika dan Israel sejauh ini belum berhasil menumbangkan Teheran. Prof. Ali Munhanif, pengamat Timur Tengah dari UIN Jakarta, menjelaskan bahwa Iran adalah negara dengan level soliditas yang sangat tinggi.
Adalah keliru jika Pentagon menempatkan skenario Arab Spring seperti yang terjadi di Libya, Irak, atau Mesir untuk melakukan regime change di Iran. “Di Iran, dari pimpinan sampai rakyat itu betul-betul solid sebagai sebuah functioning state. Penetrasi negaranya sangat dalam,” jelas Prof. Ali.
Faktor inilah yang membuat operasi darat oleh AS hampir mustahil dilakukan dalam waktu dekat, karena mereka akan berhadapan dengan rakyat yang siap bergerilya di kota hingga gunung-gunung yang mengelilingi Iran. Maka, ketika kekuatan militer menemui jalan buntu dan tekanan domestik AS belum cukup kuat mengubah arah kebijakan Trump, diplomasi spiritual dari Paus Leo kini menjadi tumpuan harapan terakhir dunia untuk mencegah bencana kemanusiaan yang lebih besar di Timur Tengah.
Tolak Gencatan Senjata
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara tegas menutup pintu dialog dan gencatan senjata dalam perang Iran yang kian memanas. Pernyataan ini muncul sebagai respons langsung terhadap seruan pemimpin spiritual umat Katolik dunia, Paus Leo XIV, yang mendesak penghentian kekerasan demi kemanusiaan.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa militer Amerika Serikat tidak akan menarik pelatuknya sebelum memastikan lawan benar-benar lumpuh secara permanen. “Anda tidak melakukan gencatan senjata ketika Anda sedang menghancurkan pihak lain,” ujar Trump dengan nada dingin saat menjawab pertanyaan koresponden EWTN News, Owen Jensen.
Vatikan Desak Dialog, Gedung Putih Pilih Pemusnahan Sebelumnya, pada 15 Maret, Paus Leo XIV mengeluarkan imbauan menyentuh hati agar pihak-pihak yang terlibat “menghentikan tembakan dan membuka kembali jalan dialog.” Namun, bagi Trump, diplomasi bukan lagi pilihan di meja saat ini.
Trump mengeklaim bahwa kekuatan militer Teheran telah berada di titik nadir. Menurutnya, Iran kini tidak lagi memiliki angkatan laut, angkatan udara, maupun sistem radar yang berfungsi. “Pemimpin mereka telah tewas di setiap tingkatan,” tambah presiden dari Partai Republik tersebut, merujuk pada tewasnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS-Israel sejak 28 Februari lalu.
Nasib Warga Sipil dan Peziarah di Zona Perang
Di balik adu argumen politik ini, tragedi kemanusiaan terus membayangi. Konflik yang meletus sejak akhir Februari tersebut tidak hanya menghancurkan infrastruktur militer, tetapi juga mengacaukan jalur ziarah keagamaan. Ribuan umat Katolik dan warga sipil dilaporkan terjebak dan harus berebut mengevakuasi diri dari zona merah saat serangan balasan Iran menghantam pangkalan-pangkalan AS dan Israel.
Trump memberikan sinyal bahwa AS tidak akan membiarkan Iran memiliki celah untuk bangkit kembali. Berbicara kepada MS Now pada 20 Maret, ia mengindikasikan bahwa operasi militer akan terus berlanjut hingga Iran kehilangan kemampuan untuk membangun kembali kekuatannya dalam waktu dekat. “Jika kita pergi sekarang, mereka butuh 10 tahun untuk membangun kembali. Tapi mereka tetap akan membangun kembali. Saya ingin memastikan itu tidak pernah terjadi,” pungkas Trump.












