20 Negara Siap Jaga Keamanan Laut di Selat Hormuz Pasca Penutupan Iran

20 Negara Bersatu untuk Menjaga Keamanan Selat Hormuz

Selat Hormuz, jalur pelayaran kritis bagi pasokan energi global, kini menjadi fokus utama dari koalisi internasional yang terdiri dari 20 negara. Mereka berkomitmen untuk menjaga stabilitas energi dunia dengan mengamankan jalur tersebut. Koalisi ini dipimpin oleh Inggris, Prancis, dan Jepang, serta didukung oleh 17 negara lainnya.

Koalisi ini menuntut moratorium terhadap segala bentuk serangan terhadap instalasi minyak dan gas di wilayah tersebut. Blokade Iran terhadap Selat Hormuz telah menyebabkan kenaikan harga bahan bakar secara signifikan, karena suplai LPG terhenti. Krisis ini muncul setelah serangan pada 28 Februari 2026 yang merusak infrastruktur penting.

Inisiatif Awal dan Perluasan Aliansi

Inisiasi awal dari koalisi ini dilakukan pada Kamis (19/3/2026), ketika enam negara pelopor seperti Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang merilis pernyataan bersama. Mereka menegaskan kebutuhan untuk memastikan keamanan navigasi internasional di Selat Hormuz. Pernyataan tersebut menyatakan bahwa mereka siap berkontribusi dalam langkah-langkah yang diperlukan.

Pada Sabtu (21/3/2026), aliansi ini semakin kuat dengan bergabungnya 14 negara baru. Negara-negara tersebut mencakup Kanada, Korea Selatan, Selandia Baru, Norwegia, Swedia, Finlandia, Denmark, dan Republik Ceko. Kehadiran negara-negara Skandinavia dan Eropa Timur menunjukkan bahwa krisis di Teluk tidak lagi hanya isu regional, tetapi ancaman bagi ekonomi global.

Misi Moratorium dan Dampak Ekonomi

Koalisi 20 negara ini menyerukan implementasi “moratorium komprehensif dan segera” untuk menghentikan segala bentuk serangan terhadap infrastruktur sipil, termasuk instalasi minyak dan gas. Mereka memperingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur kunci bagi suplai minyak dan LPG dunia, merupakan ancaman nyata bagi perdamaian global.

Krisis ini bermula dari serangan gabungan AS-Israel ke Teheran pada akhir Februari 2026, yang memicu aksi balasan Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat dan wilayah Israel. Penutupan total Selat Hormuz sebagai respons Iran telah menyebabkan kenaikan tajam harga bahan bakar di berbagai belahan dunia.

Ultimatum Trump terhadap Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan ultimatum selama 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jika dalam waktu dua hari Iran tetap memblokade jalur distribusi 20 juta barel minyak per hari, militer AS akan melumpuhkan jaringan listrik di seluruh negeri. Trump secara spesifik mengincar fasilitas pembangkit listrik utama sebagai target awal serangan udara.

“Jika Iran tak membuka sepenuhnya Selat Hormuz tanpa ancaman, dalam waktu 48 jam dari saat ini, Amerika Serikat akan menghantam dan menghancurkan sejumlah pembangkit listrik, yang dimulai dari yang terbesar,” tulis Trump pada pukul 19.44 waktu setempat.

Ultimatum ini berlaku hingga Senin malam (23/3/2026). Meski Trump sebelumnya ingin menghindari target di Teheran demi meminimalisir trauma warga sipil, ancaman terbaru ini menunjukkan pergeseran retorika ke arah perang total.

Respons Keras Teheran dan Guncangan Global

Ancaman ini merupakan respons langsung atas sikap Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menegaskan Iran tidak akan tinggal diam jika infrastruktur strategisnya diganggu. Teheran berjanji akan memberikan balasan tanpa pengekangan terhadap aset-aset AS di kawasan Teluk.

Sejak penutupan Selat Hormuz dimulai pasca-serangan 28 Februari, pasar energi global berada dalam kondisi kritis. Jalur ini merupakan titik rawan paling vital di dunia; penyumbatannya telah memicu lonjakan harga minyak mentah yang tidak terkendali. Jika Trump benar-benar mengeksekusi penghancuran pembangkit listrik Iran, dunia diprediksi akan menghadapi krisis energi dan ekonomi yang jauh lebih destruktif.

Update Perang di Timur Tengah

Situasi di Timur Tengah masih dihantui kekhawatiran akan ledakan dari rudal serangan antara Iran kontra Amerika Serikat dan Israel. Perang itu telah memasuki minggu keempat tepatnya hari ke-23, yang dimulai sejak 28 Februari 2026. Perang itu setidaknya menewaskan lebih dari 1.400 orang di Iran, sementara jumlah korban tewas di pihak Amerika Serikat dan Israel masih simpang siur.

Serangan balasan pun dilakukan Iran terhadap Amerika Serikat dan Israel. Iran terus menyerang Israel dan pangkalan AS sebagai balasan, termasuk tadi malam Iran menyerang lokasi nuklir Israel di Dimona dan Arad, dan dilaporkan 100 orang terluka namun tak ada laporan korban jiwa.

Sementara jutaan warga Iran merayakan Idul Fitri dan Nowruz di bawah bayang-bayang perang. Secara terpisah, AS mengatakan sedang mempertimbangkan untuk “mengakhiri” konflik sambil menolak kemungkinan gencatan senjata. Inggris telah mengizinkan AS untuk menggunakan pangkalan militer untuk melakukan serangan terhadap situs rudal Iran.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?