Paus Leo XIV: Figur yang Dapat Membawa Perdamaian di Timur Tengah
Paus Leo XIV, yang memiliki latar belakang sebagai misionaris dan ahli hukum kanon, dikenal sebagai sosok moderat yang mampu merangkul berbagai kalangan. Ia dianggap sebagai satu-satunya figur yang bisa didengar oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dalam menghadapi konflik antara AS dan Iran. Pengamat Hubungan Internasional dari Presiden University, Jeanne Francoise, menyatakan bahwa Paus Leo memiliki kekuatan besar untuk memengaruhi pendapat Trump.
Menurut Jeanne Francoise, Trump cenderung meletakkan kepentingan nasional di atas hukum internasional. Oleh karena itu, pendekatan personal yang melampaui sekat politik formal diperlukan. Paus Leo, dengan perannya sebagai pemimpin spiritual, dapat menyentuh sisi kemanusiaan Trump. Meskipun sebelumnya Paus telah mengeluarkan seruan umum untuk perdamaian dari Vatikan, Jeanne berharap ia akan melakukan langkah yang lebih berani.
Pernyataan Paus Leo XIV
Paus Leo XIV mengeluarkan pernyataan keras terkait situasi panas yang terjadi di Timur Tengah. Ia menyebut perang yang sedang berlangsung di sana sebagai “skandal bagi seluruh keluarga umat manusia”. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Paus dalam doa Angelus mingguannya di Lapangan Santo Petrus. Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan rasa cemas dan “ngeri” saat mengikuti perkembangan konflik yang terus memakan korban jiwa.
Paus Leo XIV menekankan bahwa dunia tidak boleh tinggal diam melihat penderitaan orang-orang yang tidak bersalah. Ia menyebut mereka sebagai korban konflik yang tidak berdaya. Bagi Paus, rasa sakit yang dialami para korban tersebut sebenarnya menyakiti seluruh kemanusiaan secara kolektif. “Kita tidak bisa berdiam diri menghadapi penderitaan begitu banyak orang, para korban tak berdaya dari konflik-konflik ini,” ujarnya.
Desakan Gencatan Senjata dan Diplomasi
Tidak sekadar merasa prihatin, Paus Leo XIV kembali memperbarui tuntutannya untuk segera dilakukan gencatan senjata. Ia meminta semua pihak untuk terus berupaya dalam doa agar jalan menuju perdamaian bisa terbuka lebar. “Saya dengan tegas memperbarui seruan saya agar kita tekun berdoa, sehingga permusuhan dapat berhenti dan jalan menuju perdamaian akhirnya dapat dibuka,” tegas Paus Leo.
Meskipun Paus Leo selama ini dikenal dengan gaya bicaranya yang diplomatis, belakangan ini ia terlihat lebih agresif dalam menyerukan penghentian perang di Iran. Hal ini menandakan kegentingan situasi di lapangan yang menurutnya sudah tidak bisa ditoleransi lagi dari sisi kemanusiaan.
Sosok Paus Leo
Robert Francis Prevost lahir pada 14 September 1955 di Chicago, menjadi tokoh yang kini dikenal sebagai paus pertama dari AS. Sebelumnya, Prevost dikenal dengan pekerjaan misionarisnya di Peru, yang membuatnya memiliki pemahaman mendalam tentang situasi sosial dan spiritual di luar Roma. Pengalaman tersebut tidak hanya membentuk dirinya sebagai misionaris, tetapi juga memberinya pengetahuan tajam mengenai cara kerja internal Gereja Katolik.
Sebagai penduduk asli Chicago, Prevost dipercaya memimpin Departemen Uskup yang berperan penting dalam memberi nasihat kepada paus terkait pengangkatan uskup baru. Tugas ini menunjukkan seberapa besar kepercayaan yang dimiliki Fransiskus terhadapnya, mengingat Departemen Uskup merupakan salah satu yang memiliki pengaruh besar di Vatikan.
Perjalanan Karier Prevost
Setelah menyelesaikan pendidikan teologi dan hukum kanon, Prevost memulai misi pertamanya di Peru pada 1985 bersama Ordo St Augustine. Ia menghabiskan hampir satu dekade di negara tersebut, sebelum kembali ke Chicago pada 1999 dan memegang posisi sebagai prior provinsial di Midwest, AS. Selanjutnya, ia juga menjadi prior jenderal Ordo St Augustine di seluruh dunia.
Pada 2014, Paus Fransiskus memanggilnya kembali ke Peru, kali ini sebagai administrator apostolik Keuskupan Chiclayo. Pengangkatan ini terjadi setelah pengunduran diri Kardinal Kanada Marc Ouellet, yang sebelumnya menjabat sebagai pemimpin keuskupan, menyusul tuduhan kekerasan seksual terhadapnya. Kendati demikian, Vatikan akhirnya membatalkan kasus terhadap Ouellet karena bukti yang tidak mencukupi.
Prevost kemudian diangkat secara resmi sebagai kepala keuskupan tersebut pada 2023, menandai puncak dari perjalanan kariernya di Gereja Katolik. Selain itu, Prevost juga dikenal sebagai Presiden Komisi Kepausan untuk Amerika Latin, posisi yang semakin menguatkan perannya sebagai figur penting dalam Gereja Katolik global.
Peluang Besar Sebelum Konklaf
Menjelang konklaf, nama Prevost semakin diperhitungkan dalam perbincangan mengenai calon paus masa depan. Para pengamat Vatikan menilai peluangnya cukup besar, mengingat kecenderungan pastoralnya yang kuat, pandangan global yang luas, serta kemampuannya dalam menavigasi birokrasi Vatikan yang rumit. Surat kabar Italia La Repubblica bahkan menyebutnya “orang Amerika yang paling tidak Amerika” karena gaya berbicaranya yang tenang dan rendah hati (soft spoken), mencerminkan pendekatan moderat yang dimilikinya.
Selain itu, Prevost memiliki pemahaman mendalam tentang hukum kanon, menjadikannya sosok meyakinkan bagi para kardinal konservatif yang mencari paus dengan perhatian lebih terhadap aspek teologis gereja. Dalam wawancara dengan Vatican News, Prevost menyatakan bahwa gereja harus terus berkembang dan beradaptasi dengan dunia yang terus berubah.












