Perjalanan Diskusi di Sudut Rumah Kopi
Selasa yang basah di Manado (24/3/2026). Di sebuah sudut rumah kopi yang pengap oleh asap dan aroma robusta, saya duduk berhadapan dengan seorang teman. Awalnya, kami hanya bicara tentang hal-hal remeh. Tentang hidup yang begini-begini saja. Namun, ketenangan itu mendadak robek ketika ia menyodorkan sebuah pertanyaan yang “agak lain.” Ia membawa sosok Benyamin Netanyahu ke atas meja, tepat di samping cangkir kopi kami yang mulai mendingin.
Ia menanyakan pendapat saya mengenai ucapan Perdana Menteri Israel itu tentang Yesus yang viral lantas memicu pro kontra. “Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan atas Genghis Khan. Karena jika Anda cukup kuat, cukup kejam, cukup berkuasa, kejahatan akan mengalahkan kebaikan. Agresi akan mengalahkan moderasi,” ujarnya. Meski sebal, saya harus menjawabnya. Agar fair, saya menjawab sesuai dengan pendapat masyarakat, baik yang membela maupun mengutuk Netanyahu.
Pandangan Pro Netanjah
Netanyahu disebut mengutip buku “The Lessons of History” karya sejarawan ternama Will Durant. Netanhayu, kata mereka, bukan bicara tentang teologi, tapi filosofi sejarah. Ia tidak sedang merendahkan Yesus. Malah Netanyahu secara tersirat mengakui bahwa Yesus merupakan sosok yang paling baik, sedang Khan adalah evil.
Tapi realitas dunia begitu pahit. Dalam sejarah, orang baik bisa dimusnahkan oleh orang yang kejam bila tak punya cara membela diri. Ini yang diingatkan Netanyahu. Ia tengah mengkritik kenaifan, bahwa sebuah negara dapat kuat hanya dengan moral semata. Sebuah negara musti punya militer yang kuat agar tidak tersapu penguasa bengis macam Jengis Khan. Netanyahu seolah sedang berbisik pada dunia yang naif. “Moral takkan bisa menyelamatkanmu dari serbuan para penakluk.”
Pandangan Kontra Netanjah
Di sela-sela kepulan asap kopi, saya membeber pandangan mereka yang kontra. Bagi mereka yang mengimani Sang Guru dari Nazaret, pandangan Netanyahu adalah kegagalan menangkap hakikat. Pemikiran Netanyahu adalah iman Yahudi. Mereka menganggap Yesus gagal menjadi Mesias karena enggan menjadi raja dan mengusir tentara Romawi. Padahal ia punya kekuatan surgawi, yang bisa mengguncang Kerajaan Romawi hanya dengan sekali berfirman.
Mereka tak mau menerima seorang Mesias yang lemah, yang musti menjalani penghinaan dan mati bak penjahat terkutuk. Netanyahu tidak tahu bahwa Yesus datang bukan untuk mendirikan kerajaan politik. Ia datang untuk mendirikan kerajaan Allah. Kerajaan ini tanpa senjata atau rudal, tentaranya adalah wanita-wanita pemberani yang menghadapi pembunuhnya dengan senyum dan mendoakan mereka. Inilah kekuatan yang mampu menaklukkan segala peradaban, dari Romawi, Eropa, Amerika, Asia hingga Afrika.
Sedang Jengis Khan adalah sebuah tragedi. Ia seperti kata Yesus, “siapa yang hidup dari pedang akan mati dengan pedang”. Dan, lanjut saya, janji suci Tuhan pada Israel tak berlaku untuk negara Israel modern. Itu janji yang tersedia untuk Israel spiritual yang ditebus oleh darah Yesus. Kebangkitan negara Israel lebih pada keberhasilan sebuah negara sekuler, yang tidak harus dinilai dalam konteks janji Tuhan dalam Alkitab.
Tantangan Modern
Negara Israel tidak hidup seperti di era perjanjian lama, di mana mereka bebas menghancurkan apa saja demi mematuhi perintah Tuhan. Tapi hidup dalam aturan modern. Dimana tidak dibenarkan sebuah negara menyerang negara lainnya tanpa alasan jelas. Mendengar itu, muka teman saya langsung masam. Memang di Konoha ini, banyak orang yang lebih Israel dari orang Israel. Sebagaimana orang yang lebih Palestina dari orang Palestina.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."












