Budaya  

Kisah Cinta Nabi dan Aisyah di Langit Madinah

Cinta yang Menguatkan di Kala Sakit

Pada masa awal hijrah ke Madinah, wabah demam menyerang banyak sahabat Nabi, termasuk ayah Aisyah, yaitu Abu Bakar. Dengan penuh kasih sayang, Aisyah muda menjenguk mereka dan melaporkan kondisi mereka kepada Rasulullah. Allah menjaga Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam sehingga beliau tidak terserang wabah penyakit demam. Abu Bakar, Amir bin Fuhairah, dan Bilal tinggal dalam satu rumah dan semuanya terjangkit demam tinggi. Peristiwa ini terjadi sebelum perintah hijab diberlakukan.

Melihat kekhawatiran Aisyah, Nabi berdoa agar Allah Subhanallahu Wata’ala menumbuhkan rasa cinta di hati mereka terhadap Madinah, sebagaimana mereka mencintai Makkah. Doa ini lahir dari interaksi hangat dengan sang istri.

Ujian Berat dan Kabar Gembira dari Langit

Momen paling emosional dalam hubungan Nabi dan Aisyah adalah peristiwa Haditsul Ifk (hoaks). Saat Aisyah difitnah, ia sangat merindukan kelembutan Nabi yang biasanya menyapa, “Bagaimana keadaanmu?” Di tengah tangisannya yang seolah tak kunjung usai, wahyu turun menyucikan nama Aisyah. Nabi dengan wajah berseri-seri seperti rembulan mendatangi Aisyah. Seraya mengusap keringat dari keningnya, Nabi bersabda: “Bergembiralah wahai Aisyah, Allah telah menurunkan ayat tentang kesucian dirimu.”

Aisyah langsung berkata “alhamdulillah”, dan Nabi keluar menemui orang-orang, lalu berkhutbah di hadapan mereka serta membacakan ayat Al Qur’an yang diturunkan Allah kepada beliau tentang masalah ini. Setelah itu, Nabi meminta dipanggilkan Misthah bin Atsatsah, Hassan bin Tsabit, dan Hamnah binti Jahys yang telah ikut menyebarluaskan berita bohong tentang Aisyah.

Kelembutan Nabi di Haji Wada’

Sisi romantis Nabi juga tampak pada saat Haji Wada’. Ketika Aisyah menangis karena tidak bisa menjalankan umrah akibat haid, Nabi menenangkannya dengan lembut. Aisyah mengatakan: “Ketika itu aku sedang haid dan menangis. Nabi lalu menemuiku dan bersabda: ‘Wahai Aisyah, ada apa? Apakah engkau sedang haidh?’ Aku menjawab: ‘Ya. Demi Allah, kalau terus begini rasanya aku tidak bisa melanjutkan perjalanan bersama kalian.'”

Nabi bersabda: “Janganlah pesimis. Engkau tetap berhaji, hanya saja engkau tidak boleh melakukan thawaf di sekitar Baitullah.” Tak sampai di situ, setelah haji selesai, Nabi secara khusus meminta saudara Aisyah, Abdurrahman bin Abu Bakar, untuk mengantarkannya ke At-Tan’im agar Aisyah bisa menunaikan umrah sebagai pengganti rasa sedihnya. Beliau sangat menjaga perasaan istrinya agar tidak merasa kurang dalam ibadah.

Nafas Terakhir di Pangkuan Sang Kekasih

Puncak dari kisah cinta ini terjadi saat ajal menjemput Nabi. Atas izin istri-istrinya yang lain, Beliau memilih untuk dirawat di rumah Aisyah. Di detik-detik terakhirnya, Aisyah membantu melembutkan siwak dengan giginya sendiri sebelum diberikan kepada Nabi—sebuah gestur kecil namun sangat intim. Akhirnya, Nabi mengembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan dan di atas pangkuan Aisyah.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?