Serangan Iran Terhadap Aset AS dan Israel
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim bahwa sebuah hotel di Dubai dihantam oleh pesawat tak berawak kamikaze dalam serangan yang menargetkan unsur-unsur AS di wilayah tersebut. Pernyataan ini disampaikan oleh Kantor Berita Tesnim, yang semi-resmi, tentang gelombang ke-84 operasi “True Promise-4”. Menurut laporan tersebut, enam kapal pendaratan AS (tipe LCU) di Pelabuhan Shuwaikh di Kuwait juga menjadi sasaran. Korps Garda Revolusi Islam mengklaim bahwa tiga kapal tenggelam dan tiga lainnya mengalami kerusakan parah dalam serangan itu, yang menurut mereka melibatkan rudal Qadir 380 dengan jangkauan 1.000 kilometer.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa pasukan AS di negara-negara Teluk telah meninggalkan pangkalan mereka dan berlindung di hotel-hotel, serta meminta hotel-hotel untuk tidak menampung para tentara tersebut. Iran telah membalas serangan AS dan Israel terhadap wilayahnya dengan gelombang serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan.
Peringatan Trump terhadap Iran
Presiden AS Donald Trump menuntut Iran membuka kembali Selat Hormuz, sekaligus mengkritik keras sekutu NATO Eropa karena menolak untuk bergabung dalam kampanye tersebut. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa Iran sangat ingin bernegosiasi. “Mereka memohon untuk membuat kesepakatan. Mereka sudah benar-benar menyerah,” katanya. Trump juga menyatakan bahwa pasukan AS menghancurkan gudang senjata, pabrik rudal dan drone, serta membongkar basis industri pertahanan Iran.
Trump juga melontarkan kritik paling kerasnya kepada sekutu-sekutu Eropa. Ia menyebut Prancis, Jerman, dan Inggris sebagai negara-negara yang dimintanya untuk membantu membentuk koalisi guna membuka kembali Selat Hormuz, dan yang menurutnya malah memberikan alasan. “Mereka mengatakan kepada saya: ‘Ini bukan perang kita.’ Nah, Ukraina bukan perang kita, tetapi kita membantu mereka,” katanya, yang terdengar seperti peringatan langsung tentang komitmen Washington di masa depan terhadap pertahanan Eropa.
Ancaman terhadap Kuba
Dalam momen yang langsung menarik perhatian, Trump memperingatkan: “Kuba selanjutnya, omong-omong.” Kemudian dia meminta media untuk mengabaikan pernyataan itu, hanya untuk mengulanginya. Ancaman ini menambah ancaman operasi militer yang menangkap mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro awal tahun ini, yang juga digambarkan Trump selama pidatonya.
Serangan Balasan Iran
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan akan melancarkan aksi balasan dengan prinsip “mata ganti mata” setelah fasilitas sipil dan infrastruktur vital mereka dihantam serangan udara Amerika Serikat dan Israel. Peringatan keras ini muncul menyusul serangan udara pada Jumat lalu yang menargetkan pusat-pusat industri strategis Iran. Dua produsen baja terbesar, Mobarakeh Steel Company di Isfahan dan Khouzestan Steel Company, mengalami kerusakan serius. Koalisi AS-Israel juga dilaporkan menyerang pembangkit listrik nuklir sipil di wilayah Yazd dan Arak.
Komandan Angkatan Dirgantara IRGC, Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi, menegaskan bahwa serangan musuh telah melampaui batas merah. Sebagai bentuk balasan, IRGC kini membidik pabrik-pabrik dan perusahaan di seluruh kawasan Timur Tengah yang memiliki keterkaitan modal atau afiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel. “Kali ini, persamaannya bukan lagi mata balas mata. Tunggu saja!” tegas Mousavi dalam pesan singkatnya.
Eskalasi Konflik
Di tengah upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang tampak ingin segera mengakhiri perang yang tidak populer ini, eskalasi justru terus meningkat. Sejumlah media Iran melaporkan bahwa aliansi AS-Israel kembali melancarkan serangan terbaru yang kini menyasar reaktor riset nuklir air berat dan pabrik pengolahan yellowcake atau uranium pekat pada Jumat malam.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengecam keras serangan tersebut melalui media sosial dan menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap tenggat diplomasi yang ditawarkan Amerika Serikat. Araqchi menegaskan bahwa serangan tersebut bertentangan dengan perpanjangan tenggat waktu diplomasi oleh POTUS atau Presiden Amerika Serikat, dan Iran akan menuntut harga yang mahal atas kejahatan Israel.
Pihak Teheran saat ini dilaporkan sedang mempertimbangkan lima belas poin proposal perdamaian yang dikirimkan Amerika Serikat melalui Pakistan dua hari lalu. Proposal tersebut dikabarkan mencakup tuntutan yang sangat berat, mulai dari pembongkaran program nuklir dan rudal Iran hingga penyerahan kendali atas rute perdagangan energi paling penting di dunia. Namun, seorang pejabat senior Iran menyatakan kepada Reuters bahwa melakukan serangan berkelanjutan di saat Amerika Serikat sedang mengupayakan pembicaraan diplomasi adalah hal yang tidak dapat ditoleransi.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”












