Silaturahmi Pasca Idulfitri 1447 H: Konsolidasi dan Semangat Kebersamaan di Paguyuban Pasundan
Kantor Paguyuban Pasundan, Jalan Sumatera No. 41, Kota Bandung menjadi tempat berkumpulnya lebih dari 1.000 anggota Keluarga Besar Paguyuban Pasundan dari berbagai daerah. Acara ini digelar sebagai silaturahmi pasca Idulfitri 1447 H, yang tidak hanya menjadi momen kebersamaan tetapi juga ajang konsolidasi bagi seluruh elemen organisasi.
Acara ini dihadiri oleh para tokoh penting, termasuk Dewan Pangaping seperti Mayjen (Purn) Dr. Tb. Hasanuddin, S.E., M.M.; Komjen Pol. (Purn.) Dr. Drs. H. Mochamad Iriawan, S.H., M.M., M.H.; KH. Habib Syarief Muhammad Alaydrus; Mayjen TNI (Purn.) Deni K. Irawan; serta Ustadz Dr. Aam Amirudin, M.Si. Hadir pula pengurus wilayah dan cabang, pimpinan Yayasan Pendidikan Tinggi (YPT) dan Yayasan Pendidikan Dasar Menengah (YPDM), para Rektor serta Civitas Akademika dari Universitas Pasundan (Unpas), STIE, STKIP, dan STH Pasundan, hingga Direktur Rumah Sakit Pasundan dan GM KSPPS Pasundan.
Pesan Penting dari Ketua Umum PB Paguyuban Pasundan
Dalam sambutannya, Ketua Umum PB Paguyuban Pasundan, Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, M.Si, menekankan bahwa esensi Ramadan yang baru saja dilewati harus menjadi pondasi kuat bagi kemajuan umat. “Puasa sejatinya menjadi bekal untuk melahirkan hamba Allah yang memiliki ilmu yang tinggi, membentuk karakter pejuang, pemberani, petarung, dan pantang menyerah,” kata Prof. Didi.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan ibadah di bulan suci seharusnya memberikan dampak nyata bagi kebangkitan umat Islam. “Ramadan semestinya memberikan efek luar biasa kepada seorang muslim dan umat Islam secara keseluruhan, yaitu berupa kemauan untuk meraih kembali kemuliaan Islam dan umatnya,” ujarnya.
Acara ini juga menjadi ajang konsolidasi bagi seluruh elemen Paguyuban Pasundan, mulai dari guru, dosen, hingga tenaga kependidikan, untuk mempererat tali persaudaraan dalam memajukan pendidikan dan kesejahteraan di Jawa Barat. Ia juga meminta agar para anggotanya saling tolong bantu dan jangan terpengaruh oleh upaya adu domba antara Sunni dengan Syiah.
“Kita doakan semoga bangsa Palestina, dan bangsa Persia (Iran) selamat dari ujian yang sangat berat ini,” paparnya. Lebih lanjut ia meminta para pimpinan di lingkungan Paguyuban Pasundan jangan menjadi pimpinan yang menyesatkan, karena akan membahayakan kelangsungan dan eksistensi Paguyuban Pasundan.
“Celup anak-anak, para Mahasiswa dengan celupan keIslaman yang kuat dan budaya lokal,” jelasnya.
Peran Dewan Pangaping dalam Sinergi Paguyuban Pasundan
Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pangaping Paguyuban Pasundan, Mayjen (Purn) Dr. Tb. Hasanuddin, S.E., M.M., menekankan pentingnya sinergi antara pengurus pusat dengan daerah dan cabang. Ia meminta agar setiap konsep dan kebijakan dari pusat benar-benar diimplementasikan di lapangan sehingga manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Paguyuban tidak boleh menjadi pimpinan yang menyesatkan. Kita harus memperkuat jati diri Sunda melalui jalur pendidikan, pelestarian budaya, dan semangat gotong royong yang nyata,” tegas Tb. Hasanuddin.
Senada dengan hal tersebut, Komjen Pol. (Purn.) Dr. Drs. H. Mochamad Iriawan, S.H., M.M., yang juga anggota Dewan Pangaping, mengapresiasi kontribusi historis Paguyuban Pasundan. Ia bahkan menyandingkan eksistensi organisasi ini dengan Persib Bandung sebagai simbol kebanggaan warga Jawa Barat.
“Paguyuban Pasundan tidak hanya menjaga tradisi, tapi juga mendorong kemandirian dan martabat masyarakat Sunda agar mampu bersaing secara global. Kita harus adaptif dan inovatif tanpa meninggalkan kearifan lokal seperti tata krama dan keseimbangan hidup,” ujar sosok yang akrab disapa Iwan Bule tersebut.
Dukungan dari Para Pakar dan Tokoh
Dukungan juga datang dari Dewan Pakar Paguyuban Pasundan, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D. Melalui tayangan video streaming, ia menyampaikan ucapan maaf lahir batin serta harapan agar organisasi terus konsisten berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara.
Acara inti ditutup dengan tausiah dari Ustadz Dr. Aam Amirudin. Dalam ceramahnya, ia mengupas makna silaturahmi pasca-Idul Fitri sebagai momentum untuk memperbaiki hubungan sosial (ukhuwah) serta menyelaraskan nilai-nilai keislaman dengan kebudayaan Sunda.
Kegiatan yang berlangsung khidmat ini diakhiri dengan sesi saling memaafkan antar pengurus dan anggota. Panitia berharap semangat kebersamaan ini dapat terus dihidupkan melalui program-program konkret yang selaras dengan cita-cita luhur para pendiri Paguyuban Pasundan.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."












