Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Minta Tarik Pasukan Damai

Kehilangan Seorang Prajurit TNI dalam Misi Perdamaian di Lebanon

Praka Farizal Rhomadhon, seorang prajurit TNI, meninggal dunia dalam misi perdamaian UNIFIL di Lebanon akibat serangan artileri di wilayah Adshit al-Qusyar. Insiden ini terjadi di tengah eskalasi konflik antara Israel dan Hizbullah yang semakin memanas sejak serangan ke Iran pada Februari lalu.

Serangan tersebut juga menyebabkan tiga prajurit lain mengalami luka, dengan satu di antaranya, Praka Rico Pramudia, harus dievakuasi ke RS St George Beirut karena luka berat. PBB menegaskan bahwa serangan terhadap peacekeepers dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum internasional dengan konsekuensi serius.

Praka Farizal merupakan bagian dari Satgas TNI Kontingen Garuda (Konga) UNIFIL 2025, yang bertugas menjaga stabilitas di wilayah konflik. Ia berasal dari Batalyon Infanteri 113 Jaya Sakti, satuan yang bermarkas di Kabupaten Bireuen di bawah Kodam Iskandar Muda.

Gugurnya Praka Farizal memicu respons dari DPR RI. Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, meminta pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penugasan pasukan Indonesia di wilayah tersebut. Menurut Dave, kondisi keamanan di Lebanon yang terus diwarnai konflik bersenjata perlu menjadi perhatian serius. Ia menilai, situasi yang tidak kondusif berpotensi membahayakan keselamatan prajurit yang bertugas dalam misi penjaga perdamaian.

“Ini juga menjadi kesempatan untuk melakukan koreksi ataupun juga melihat apakah keberadaan prajurit kita ini benar-benar berfungsi atau tidak,” kata Dave saat ditemui di Gedung DPR RI, Senin (30/3/2026). “Dengan adanya serangan yang tidak berhenti, yang terus berlanjut, bahkan sampai menewaskan prajurit kita, ini apakah keberadaan kita ini berguna untuk menjaga perdamaian atau justru malah menjadi target,” sambungnya.

Menurut Dave, jika kondisi di lapangan tidak memungkinkan untuk menjalankan misi perdamaian, pemerintah perlu mempertimbangkan langkah evaluasi, termasuk kemungkinan penarikan pasukan. “Bilamana kondisinya ini memang tidak aman, sebaiknya pemerintah melakukan penarikan atau juga evaluasi terhadap keberadaan prajurit kita di Lebanon,” ucapnya. Meski begitu, Dave menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah.

Sebab, pemerintah memiliki data dan informasi lengkap mengenai situasi di lapangan. “Kita serahkan itu kepada pemerintah yang mengetahui persis kondisinya seperti apa. Bilamana pemerintah menyampaikan keputusan, nah itu yang sudah melalui pertimbangan yang mendalam,” kata dia.

Selain itu, Dave juga mendorong adanya investigasi menyeluruh atas insiden serangan yang mengenai markas pasukan TNI tersebut. Dia menilai, investigasi penting untuk memastikan pihak yang bertanggung jawab sekaligus memberikan keadilan bagi keluarga korban. “Harus ada investigasi mendalam karena ini kan berkaitan dengan keadilan kepada keluarga prajurit. Ini serangannya itu dari mana, siapa yang menyerang, titiknya itu mau nyerang ke mana hingga akhirnya ada korban kita,” tegas Dave.

Selain itu, hasil investigasi juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki prosedur operasional standar (SOP) dalam penugasan ke depan.

Latar Belakang Praka Farizal Rhomadhon

Sebelumnya, seorang prajurit TNI dari Kodam Iskandar Muda (IM), Praka Farizal Rhomadhon, gugur saat menjalankan misi perdamaian dunia di Lebanon, Senin (30/3/2026). Praka Farizal merupakan bagian dari Satgas TNI Kontingen Garuda (Konga) UNIFIL 2025, yang bertugas menjaga stabilitas di wilayah konflik. Ia berasal dari Batalyon Infanteri 113 Jaya Sakti, satuan yang bermarkas di Kabupaten Bireuen di bawah Kodam Iskandar Muda.

Kepala Penerangan Kodam IM, Teuku Mustafa Kamal, membenarkan kabar duka tersebut. Ia menyebutkan bahwa almarhum merupakan bagian dari satuan tugas yang hampir menyelesaikan masa penugasan di Lebanon. “Iya, anggota kita asal satuannya dari Batalyon 113 Jaya Sakti yang sedang Satgas di sana,” ujarnya saat dikonfirmasi Serambinews.com.

Profil Praka Farizal Rhomadhon

Praka Farizal Rhomadhon merupakan seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari satuan Batalyon Infanteri (Yonif) 113/Jaya Sakti, di bawah naungan Brigif 25/Siwah, Kodam Iskandar Muda. Dalam perjalanan karier militernya, ia terakhir menjabat sebagai Taban Provost 1 Ru Provost Kima, posisi jabatan operasional untuk menjaga disiplin dan tata tertib di lingkungan Kompi Markas satuan Yonif.

Lahir di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 3 Januari 1998, Praka Farizal tumbuh menjadi sosok prajurit muda yang berdedikasi. Ia tercatat pernah menerima tanda kehormatan berupa Satyalancana Dharma Nusa (SL Dharma Nusa) serta Satyalancana Kesetiaan VIII Tahun. Bintang Jasa itu sebagai bentuk penghargaan atas loyalitas, disiplin, dan pengabdian tanpa cacat dalam menjalankan tugas sebagai prajurit TNI.

Semangat pengabdian itu membawanya mendapat kepercayaan menjalankan misi internasional sebagai penjaga perdamaian dunia. Pada April 2025, ia ditugaskan dalam misi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang tergabung dalam pasukan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon. Penugasan tersebut menjadi bentuk kehormatan sekaligus tanggung jawab besar sebagai bagian dari kontribusi Indonesia dalam menjaga stabilitas dan perdamaian global.

Praka Farizal menjadi Anggota Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S UNIFIL. Namun, pengabdian itu harus berakhir tragis. Praka Farizal Rhomadhon meninggal dunia pada usia 28 tahun akibat serangan militer Israel di Lebanon yang mengenai kontingen Indonesia di dekat wilayah Adchit Al Qusayr.

Kepergiannya menjadi duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi institusi TNI dan bangsa Indonesia. Di balik tugasnya sebagai prajurit, Praka Farizal adalah seorang suami dan ayah yang penuh kasih. Ia menikah dengan Fafa Nur Azila pada 4 Juli 2023, dan dari pernikahan tersebut dikaruniai seorang putri bernama Shanaya Almahyra Elshanu yang lahir pada 6 Mei 2024.

Keluarga kecilnya selama ini tinggal di Asrama Militer Kima Yonif 113/Jaya Sakti di Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Aceh. Kepergian Praka Farizal meninggalkan luka mendalam bagi istri dan anaknya yang masih kecil. Namun, dedikasi dan pengorbanannya sebagai prajurit penjaga perdamaian akan selalu dikenang sebagai bagian dari pengabdian terbaik untuk bangsa dan dunia.




Amanda Almeirah

Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?