3 Kisah Haru Lolos SNBP 2026, Alvira Peserta Termuda Unair Berusia 14 Tahun: Nekat dan Pilihan Tunggal

Perjuangan dan Keberhasilan Siswa dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026

Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 telah selesai dilaksanakan, dan hasilnya telah diumumkan. Sebanyak 155.543 peserta dinyatakan lulus dalam seleksi ini, yang merupakan langkah awal bagi para siswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri. Di balik angka tersebut, terdapat kisah-kisah haru yang menggambarkan perjuangan para siswa dalam meraih mimpi mereka.

Berikut adalah tiga kisah inspiratif dari para siswa yang berhasil lolos SNBP 2026:

1. Fitri Rahayu: Dari Panti Asuhan Menuju Fakultas Hukum UIN Ar-Raniry

Fitri Rahayu, yang saat ini menjadi anak asuh di UPTD Rumoeh Seujahtera Aneuk Nanggroe (RSAN) Dinas Sosial Aceh, berhasil meraih kesuksesan dengan diterima di Fakultas Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry. Tangis haru dan rasa syukur menyelimuti momen pengumuman SNBP 2026, terutama ketika Fitri mengetahui bahwa ia telah diterima di jurusan yang diinginkannya.

Fitri berasal dari Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya, sebelum akhirnya pindah ke panti asuhan untuk melanjutkan pendidikannya. Ia menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Darul Imarah, Aceh Besar. Dalam wawancara, Fitri mengungkapkan rasa bahagia dan sedih sekaligus karena ia tidak menyangka akan diterima di universitas impian.

Perjalanannya menuju SNBP bukanlah hal mudah. Di tengah keterbatasan fasilitas dan rutinitas sebagai anak panti, ia harus pandai membagi waktu antara belajar, kegiatan harian, serta doa. Namun, dukungan dari para pengasuh panti, terutama Kepala Panti RSAN, Michael Octaviano, menjadi motivasi utamanya.

Fitri memiliki cita-cita menjadi hakim. Baginya, hukum bukan sekadar ilmu, tetapi jalan untuk membela mereka yang seringkali tidak punya suara. Ia ingin membantu orang-orang kurang mampu yang menghadapi masalah hukum namun sulit mendapatkan keadilan.

2. Alvira Nur Azizah: Peserta Termuda Lolos SNBP Unair

Alvira Nur Azizah adalah salah satu siswa yang berhasil lolos SNBP 2026. Ia menjadi peserta termuda yang diterima di Universitas Airlangga (Unair) dengan usia 14 tahun. Pengumuman SNBP membuat hatinya berdebar kencang, dan ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagia setelah mengetahui bahwa ia diterima di jurusan Farmasi.

Alvira mengungkapkan bahwa ia sangat nekat dalam memilih jurusan Farmasi sebagai pilihan tunggal. Hal ini dilakukan karena minatnya yang besar terhadap bidang tersebut sejak SMK. Ia juga menjelaskan bahwa ia memilih kuliah daripada bekerja karena ingin melanjutkan studi yang sudah dimulainya.

Perjalanan sekolah Alvira tidak mudah. Ia masuk Taman Kanak-Kanak pada usia 3 tahun, kemudian melanjutkan ke Sekolah Dasar (SD) pada usia 5 tahun. Selama proses pendidikannya, ia tidak pernah mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran maupun bersosialisasi dengan teman-temannya.

Orang tua Alvira selalu memberikan nasihat agar ia fokus pada pelajaran dan mempelajari materi yang diberikan. Mereka juga mendukung penuh keinginan Alvira untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

3. Keyziyah Saqiyah Shalsabilah: Lulus SNBP Unhas

Keyziyah Saqiyah Shalsabilah, siswa SMA Islam Ranu Harapan Makassar, berhasil mewujudkan keinginannya untuk masuk perguruan tinggi negeri favorit. Ia diterima di Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok (S1) Universitas Hasanuddin (Unhas), salah satu perguruan tinggi terkemuka di Sulawesi Selatan.

Kisah perjuangan Keyziyah tidak hanya tentang prestasi akademik, tetapi juga didukung oleh metode unik yang diterapkan oleh sekolahnya. Menurut ibunya, Mismaya Al Khaerat, kelulusan Keyziyah tidak hanya berasal dari bimbingan luar, tetapi juga dari lingkungan sekolah yang menekankan suasana kekeluargaan antara siswa dan guru.

Di sekolah tersebut, ada program Tahfidz yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar Al-Qur’an. Selain itu, pada hari Rabu, siswa difokuskan untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi, sehingga tidak perlu mengikuti bimbingan belajar ekstra.

Mismaya mengungkapkan bahwa kehadiran guru-guru yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi sahabat bagi siswa, sangat membantu proses belajar putrinya. Orang tua siswa juga merasa terbantu dengan adanya komunikasi langsung melalui guru, karena anak-anak lebih mudah menerima nasihat dari mereka yang dianggap seperti teman.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?