Pandangan Anggun C. Sasmi tentang Kerasukan di Indonesia dan Luar Negeri
Anggun C. Sasmi mengakui bahwa ia percaya pada fenomena kerasukan. Namun, menurutnya, konsep ini tidak bisa dilihat hanya dari satu sudut pandang saja. Ia menjelaskan bahwa kerasukan bukan hanya soal hal-hal mistis yang sering dibicarakan dalam budaya Indonesia, tetapi juga memiliki berbagai lapisan yang berbeda-beda.
“Kalau secara personal, aku percaya banget. Hipnotisme juga termasuk kerasukan, kan?” ujar Anggun dengan nada serius. Ia memberikan contoh pengalamannya menonton sebuah dokumenter Prancis tentang hipnotisme yang digunakan untuk operasi orangtua yang tidak bisa dibius. Menurut cerita dalam dokumenter tersebut, metode ini memungkinkan pasien tetap sadar, tetapi seperti hilang kesadaran.
Menurut Anggun, hal ini pun termasuk ke dalam bentuk kerasukan. Ia menekankan bahwa pemahaman tentang kerasukan seharusnya tidak bersifat one-dimensional. Menurutnya, ada banyak kultur di dunia yang memiliki praktik serupa, tapi sering kali hanya sisi negatifnya saja yang terekspos.
“Jadi buat aku, sebenarnya yang kita tahu di sini, kita terlalu latah bilang kerasukan setan. Ternyata tidak, ada banyak sekali lapisannya itu. Yang aku suka adalah ini memberi tahu kita bahwa sesuatu itu tidak hanya one-dimensional. Kita harus bisa belajar juga melihat ada sisi-sisi lain, yang mungkin malah justru positif. Tapi tergantung bentuknya, tergantung motivasinya,” tambahnya.
Fenomena Kerasukan dalam Film Para Perasuk Menurut Anggun C. Sasmi

Sebagai pemeran karakter Guru Asri dalam film garapan Wregas Bhanuteja, Anggun C. Sasmi mengaku awalnya sempat terjebak dengan judul Para Perasuk yang ia kira merupakan film horor. Namun sebenarnya, judul tersebut bukan seperti yang terlihat.
“Aku terjebak kayak banyak orang, terjebak title-nya,” kata Anggun sambil tertawa kecil. Ia kemudian menjelaskan bahwa kerasukan di film ini bukan berarti dirasuki roh manusia, melainkan oleh roh binatang. Fenomena ini pun dimaknai sebagai semacam pelarian atau cara untuk melupakan kenyataan sejenak.
“Ini tuh bukan roh manusia, tapi roh binatang dan ide kerasukan di sini adalah semacam satu pelarian sih kayak ekspektism atau cara orang melupakan. Sebenarnya rekreasi karena ketika orang-orang yang dirasuki itu selesai, mereka tuh jadi senang. Kayak kalo kita di spa, jadi kayak pelampiasan aja.”
Alasan Anggun C. Sasmi Tertarik Main Film Para Perasuk

Film Para Perasuk yang tayang perdana di bioskop mulai 23 April 2026, juga terasa sangat istimewa karena menjadi debut akting Anggun C. Sasmi di industri perfilman Indonesia. Banyak yang bertanya-tanya tentang alasan Anggun akhirnya setuju untuk memulai debutnya lewat film ini setelah perjalanan kariernya yang panjang.
Jawabannya ternyata sederhana, karena film ini diarahkan oleh Wregas Bhanutedja. Anggun mengaku memiliki kesan mendalam terhadap sang sutradara setelah menonton karya-karyanya terdahulu, seperti Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti. Menurutnya, film-film Wregas selalu meninggalkan kesan emosional yang bertahan sampai berhari-hari.
“Aku nonton film dia tuh yang Penyalin Cahaya sama Budi Bekerti. Terus selama nonton filmnya dia tuh gak cuman nonton film, membekasnya tuh sampai berhari-hari loh. Budi Bekerti lagi, bikin terenyuhnya tuh sampe dipikirin sampe 2-3 hari,” kata Anggun C. Sasmi.
Anggun tak menampik bahwa saat pertama kali membaca skenario film Para Perasuk, ada banyak hal yang menurutnya terasa abstrak dan sulit dipahami. Selama proses syuting berlangsung pun, ia juga memiliki banyak pertanyaan karena sulit mengakses visi kreatif Wregas. Namun, ia dan pemain lainnya sangat percaya dengan misi sang sutradara.
“Yang aku pelajari dari syuting film ini adalah kita tuh semua setuju karena ini Wregas. Jadi, kita percaya dengan misinya dia dan ini yang paling penting sih, ini sebenarnya bukan film kita, ini filmnya Wregas, kita membantu dia supaya film ini menjelma jadi bisa dilihat. Kita tuh hanya semacam media, dan kita tuh nurut.”
Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”












