Melawan Keterjebakan Domestik Melalui Pendidikan Kritis dan Kedaulatan Ekonomi Perempuan di NTT

Peran Pendidikan dalam Transformasi Peran Perempuan di NTT

Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Unipa, Intan Mustafa, menyoroti bahwa salah satu tantangan terbesar perempuan di Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah masih kuatnya budaya patriarki yang membatasi ruang gerak di sektor publik. Ia menyatakan bahwa paradigma lama yang menempatkan perempuan hanya pada ranah domestik, sumur, dapur, dan kasur dinilai sudah saatnya dipatahkan melalui penguatan literasi dan pendidikan kritis.

Di NTT, pendidikan bagi perempuan bukan sekadar upaya meraih gelar, melainkan instrumen vital untuk memutus rantai kemiskinan dan mencegah tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Hal tersebut mengemuka dalam talkshow “Flores Bicara” TRIBUN FLORES yang dipandu Kristina Adal di Maumere, Kabupaten Sikka, Jumat (10/4/2026). Diskusi bertajuk transformasi peran perempuan ini menghadirkan dua akademisi Universitas Nusa Nipa (Unipa), Intan Mustafa dan Desak Made Anggreni.

Intan Mustafa menekankan bahwa beban ganda yang sering dikeluhkan perempuan seharusnya dimaknai sebagai tanggung jawab yang dijalani dengan kegemaran. “Diksi ‘beban’ itu secara psikologis membebani kita. Ini sebenarnya adalah tanggung jawab. Mencintai pekerjaan, baik di ranah domestik maupun profesional, membuat kita menikmatinya,” ujar Intan yang telah 14 tahun berkarier sebagai dosen.

Literasi Kritis dan Lawan TPPO

Persoalan pelik yang juga dibahas adalah posisi NTT sebagai “zona merah” kasus perdagangan orang. Menurut Intan, para calo tenaga kerja ilegal seringkali lebih berhasil memengaruhi warga pelosok karena menggunakan pendekatan human interest yang menyentuh sisi personal dan ekonomi praktis. Sebaliknya, pendekatan pemerintah dan akademisi seringkali terlalu mengedepankan logika regulasi yang rumit.

“Calo datang sebagai ‘penyelamat’ dengan solusi praktis, sementara narasi pemerintah dianggap ribet. Inilah mengapa literasi media dan pembentukan komunitas informasi di tingkat desa menjadi sangat krusial,” tambahnya.

Senada dengan itu, Desak Made Anggreni, dosen Pendidikan Fisika Unipa, menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis bagi siswi sejak di bangku sekolah. Pendidikan harus mampu membekali perempuan untuk membedah informasi sehingga tidak mudah tergiur janji palsu bekerja di luar negeri secara nonprosedural.

“Pendidikan berfungsi sebagai transformasi tanpa menghilangkan konteks peran domestik. Kita butuh lebih banyak role model perempuan berpendidikan tinggi yang kembali ke desa dan terbukti mampu membangun komunitasnya,” kata Anggra.

Laboratorium Tenun

Selain isu sosial, diskusi ini juga memunculkan gagasan segar mengenai integrasi kearifan lokal ke dalam kurikulum pendidikan. Tenun ikat NTT, yang selama ini dikerjakan secara konvensional oleh para ibu di desa, diusulkan menjadi “laboratorium bisnis” di sekolah.

Anggra menjelaskan, tenun bisa dipelajari dari berbagai disiplin ilmu; mulai dari matematika untuk menghitung luas geometris motif, sains untuk identifikasi pewarna alami, hingga kewirausahaan untuk menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP).

“Kita tidak bisa lagi menuntut ibu-ibu penenun yang sudah sepuh untuk belajar digitalisasi. Fokusnya harus pada regenerasi, yakni anak-anak mereka. Merekalah yang harus menguasai literasi digital untuk memasarkan produk tenun secara mandiri agar tidak lagi bergantung pada tengkulak,” tegas Anggra.

Perempuan NTT di Masa Depan

Anggra dan Intan menegaskan bahwa, Kartini di masa kini adalah keberanian perempuan untuk bersuara (speak up). Perempuan NTT diharapkan tidak lagi menjadi objek pembicaraan, melainkan subjek yang aktif menentukan arah kebijakan dan kedaulatan ekonomi mereka sendiri.




Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?