Program Beasiswa Luar Negeri untuk Generasi Muda Jakarta
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengumumkan rencana pengembangan program beasiswa luar negeri yang bekerja sama dengan LPDP Pusat. Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan daya saing generasi muda Jakarta, khususnya putra-putri Betawi, agar mampu bersaing di tingkat global.
Pemprov DKI menargetkan 100 mahasiswa pada tahap pertama. Dalam program ini, terdapat kuota afirmasi khusus bagi anak-anak Betawi. Hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan yang lebih besar bagi komunitas lokal dalam memperoleh pendidikan di universitas ternama dunia.
Pramono menegaskan bahwa anak Betawi tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perjalanan kota Jakarta menuju status kota global. Ia menekankan bahwa anak-anak Betawi harus memiliki nilai di atas rata-rata agar mampu memenangkan persaingan di kota yang semakin berkembang.
Ambisi Jakarta sebagai Kota Global
Transformasi Jakarta menjadi kota global kelas dunia memerlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengambil langkah konkret dengan menyediakan peluang pendidikan di luar negeri bagi generasi muda Jakarta, khususnya putra-putri Betawi.
Kabar gembira ini disampaikan Pramono saat acara Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada hari Sabtu (11/4/2026). Ia menjelaskan bahwa Pemprov DKI Jakarta telah melakukan serangkaian pertemuan intensif dengan jajaran LPDP Pusat untuk mematangkan skema kerja sama beasiswa tersebut.
“Saya sudah beberapa kali mengadakan pertemuan dengan LPDP Pusat. Minggu ini jajaran wali kota juga merumuskan bagaimana program ini dilakukan, dan alhamdulillah sudah ada jalan keluar,” ujar Pramono kepada awak media.
Kuota Afirmasi: Peluang Emas bagi Anak Betawi
Salah satu poin penting dalam program ini adalah adanya kuota afirmasi untuk anak-anak Betawi. Pramono menilai bahwa akses khusus ini merupakan amanat undang-undang sekaligus bentuk keberpihakan pemerintah untuk memastikan anak daerah Jakarta memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan tinggi.
“Saya akan memberikan kuota untuk anak-anak Betawi. Bagaimana pun, sebagai kota yang memiliki akar budaya kuat, kita harus memberikan kesempatan agar anak-anak Betawi bisa sekolah di luar negeri,” tegasnya.
Langkah ini diharapkan dapat memutus stigma dan memberikan dorongan moral bagi komunitas Betawi agar lebih berani bermimpi dan berkarier di kancah internasional.
Nilai 6 Tidak Cukup, Harus 11
Di balik peluang besar tersebut, Pramono juga menyisipkan pesan tajam dan penuh motivasi. Ia mengingatkan bahwa keberpihakan pemerintah tidak akan berarti jika tidak dibarengi dengan mentalitas kompetitif yang tinggi.
Baginya, anak Betawi harus memiliki kualifikasi yang melampaui standar umum agar tidak terpinggirkan di tanah kelahirannya sendiri.
“Mereka harus bisa kompetitif, jangan jadi penonton. Apalagi mau jadi tuan di kampung sendiri kalau tidak kompetitif? Anak Betawi nilainya tidak cukup 6, mesti 11 nilainya baru cukup untuk bisa bersaing di Jakarta,” pungkasnya dengan nada tegas.
Pernyataan ini menjadi pemacu semangat bagi para pelajar di Jakarta untuk mulai mempersiapkan diri.
Tantangan Baru bagi Generasi Muda
Dengan dukungan dana pendidikan dari pemerintah, kini tantangan tersebut berpindah ke pundak generasi muda: sejauh mana mereka mampu membuktikan diri di panggung dunia.












