Keluarga Korban Kecelakaan Truk TNI di Ambon Mengeluhkan Kurangnya Pendampingan Nyata
Kekhawatiran dan kekecewaan dari keluarga korban kecelakaan truk TNI di Kota Ambon kembali muncul. Kali ini, fokus utamanya adalah pada pola pendampingan yang dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan nyata korban. Weyber Pagaya, ayah dari siswi SMP yang menjadi korban, secara tegas mengkritik kunjungan pihak Kodam yang dianggap hanya bersifat seremonial.
“Jangan hanya datang, foto, lalu pulang. Kami butuh tindakan nyata, bukan sekadar dokumentasi,” ujar Weyber dalam pernyataannya kepada media, Kamis (16/4/2026).
Menurut Weyber, kehadiran sejumlah personel yang datang menjenguk anaknya tidak memberikan dampak signifikan terhadap proses pemulihan. Ia menyebut, kunjungan tersebut lebih banyak berakhir sebagai laporan administratif, tanpa solusi konkret atas kebutuhan mendesak yang dihadapi keluarga.
“Kalau hanya datang untuk melihat lalu dibuat laporan, itu tidak membantu apa-apa. Yang kami butuhkan adalah solusi, bukan sekadar kunjungan,” tambahnya.
Kondisi ini, lanjut dia, membuat keluarga merasa seperti dibiarkan berjuang sendiri di tengah situasi sulit yang masih mereka hadapi. Tak hanya soal kunjungan, Weyber juga mempertanyakan efektivitas monitoring yang selama ini diklaim dilakukan oleh pihak terkait.
Menurutnya, jika benar ada pemantauan rutin, seharusnya kebutuhan korban sudah bisa teridentifikasi tanpa harus diminta berulang kali oleh keluarga.
“Kalau memang monitoring berjalan, harusnya tahu kondisi anak kami, tahu apa yang dibutuhkan. Jadi kami tidak perlu lagi bolak-balik meminta,” katanya.
Ia bahkan mempertanyakan hasil nyata dari monitoring tersebut.
“Output-nya apa? Dampaknya apa untuk anak kami? Kalau hanya untuk laporan, lalu kami tidak merasakan manfaatnya, itu percuma,” tegasnya.
Weyber mengungkapkan, sejumlah kebutuhan mendesak justru kerap tertunda karena lambannya respons. Salah satu contohnya adalah permintaan tempat tidur pasien (bed) yang telah direkomendasikan dokter sejak dua pekan lalu, namun hingga kini belum terealisasi.
“Padahal itu kebutuhan penting untuk pemulihan. Tapi sampai sekarang belum ada kejelasan,” ungkapnya.
Selain itu, persoalan asupan gizi juga belum mendapat perhatian serius, padahal kondisi korban membutuhkan nutrisi khusus untuk mempercepat pemulihan.
Keluarga kini berharap pola pendampingan diubah dari sekadar kunjungan formal menjadi langkah konkret yang benar-benar membantu proses penyembuhan korban. Mereka menekankan pentingnya kehadiran pihak terkait yang tidak hanya memantau, tetapi juga mengambil tindakan cepat saat dibutuhkan.
“Kalau memang peduli, harusnya ada solusi setiap kali kami butuh. Bukan datang lihat kondisi, lalu selesai,” ujar Weyber.
Dalam pernyataannya, Weyber juga menyinggung soal respons yang dinilai baru meningkat setelah kasus ini kembali menjadi perhatian publik. Ia berharap ke depan tidak ada lagi pola penanganan yang reaktif, melainkan proaktif sejak awal.
“Jangan tunggu viral baru bergerak. Kami ini korban, seharusnya didampingi dari awal sampai benar-benar pulih,” tegasnya.
Di tengah kondisi anaknya yang masih menjalani pemulihan panjang, Weyber hanya berharap ada perubahan nyata dalam penanganan. Baginya, kehadiran negara melalui institusi terkait seharusnya terasa dalam bentuk tindakan, bukan sekadar simbolis.
“Kami tidak butuh seremoni. Kami butuh kepastian, pendampingan, dan solusi nyata untuk kesembuhan anak kami,” tutupnya.
Respons Kodam
Sebelumnya, Kapendam XV/Pattimura Kolonel Heri Krisdianto memastikan bahwa pihak Kodam tidak lepas tangan dan tetap berkomitmen penuh terhadap penanganan korban kecelakaan kendaraan dinas TNI AD di jalan Jenderal Sudirman, Ambon, Jumat (6/3/2026). Sejumlah langkah telah dilakukan, di antaranya pemberian santunan Rp25 juta, aksi donor darah oleh anggota TNI, serta pemantauan kondisi kesehatan korban di RSUP Leimena hingga pulih total.
Kapendam juga menyatakan pihaknya terbuka terhadap koordinasi lebih lanjut jika terjadi miskomunikasi selama proses pengobatan.
“Jika masih terdapat miskoordinasi, kami sangat terbuka untuk berkoordinasi guna mencari solusi terbaik. Ini bentuk komitmen kami bahwa institusi tidak lepas tangan,” ujar Kolonel Heri.
Meski demikian, pernyataan keluarga korban menunjukkan masih adanya kesenjangan antara klaim penanganan dengan kondisi yang dirasakan langsung di lapangan.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












