Rute Melaut yang Berubah Akibat Gelombang Tinggi di Tanahlaut
Nelayan di Desa Pagatanbesar, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan, kini menghadapi tantangan baru dalam aktivitas melaut mereka. Pasca munculnya gelombang laut yang mencapai lebih dari satu meter, rute perjalanan nelayan menjadi berubah dan memakan waktu lebih lama.
Ahyar, seorang nelayan setempat, mengungkapkan bahwa kondisi gelombang saat ini sangat berbahaya bagi keselamatan. “Gelombangnya sudah satu meter lebih, cukup riskan melaut,” ujarnya. Ia menyebutkan bahwa banyak nelayan yang memilih untuk tidak melaut sementara waktu. Namun, ada juga sebagian kecil nelayan yang nekat tetap turun ke laut meski dengan risiko tinggi.
Menurut Ahyar, kondisi gelombang besar ini diperkirakan masih akan berlangsung sekitar satu pekan ke depan. Dalam situasi seperti ini, nelayan yang tetap melaut biasanya mengalihkan arah pelayaran ke wilayah Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, karena gelombang di sana relatif lebih bersahabat. Namun, rute tersebut membutuhkan waktu tempuh yang jauh lebih lama, sekitar 13 jam karena kapal harus memutar menyerupai huruf L, yakni dengan memutari Tanjung Silat di wilayah Desa Batakan.
Berbeda halnya jika melaut ke arah Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Waktu tempuh ke wilayah tersebut hanya sekitar tujuh jam karena jalurnya lurus. Akan tetapi, gelombang ke arah itu saat ini justru tergolong lebih besar dan berisiko.
Meski cuaca laut kurang bersahabat, Ahyar menyebut ketersediaan ikan di perairan sebenarnya cukup melimpah. Hanya saja, faktor keselamatan menjadi pertimbangan utama nelayan untuk menunda aktivitas melaut. “Kalau ikannya sebenarnya banyak. Cuma nelayan rata-rata belum berani melaut karena gelombang besar,” kata Yudi, nelayan Pagatanbesar lainnya.
Kondisi ini membuat nelayan berharap cuaca segera membaik agar mereka bisa kembali melaut dan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Peringatan BMKG tentang Gelombang Tinggi
BMKG Kalsel mencatat kondisi cuaca dan gelombang di sekitar perairan Kalimantan Selatan dan Selat Makassar bagian selatan pada periode 29 Januari 2026 menunjukkan adanya potensi gelombang tinggi. Pada sebagian perairan laut Selat Makassar bagian selatan, gelombang diprakirakan mencapai sekitar 2,7 meter, disertai angin dan hujan ringan, sehingga dinilai berbahaya bagi kapal kecil dan perahu nelayan.
Tinggi gelombang seperti ini termasuk kategori tinggi menurut standar BMKG dan berpotensi membahayakan aktivitas pelayaran kecil. Selain itu, BMKG juga mengingatkan bahwa di beberapa perairan Kalimantan Selatan, termasuk muara Sungai Barito dan pesisir Kabupaten Kotabaru, potensi gelombang tinggi mencapai 2,5 meter hingga 3 meter masih mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Kondisi ini membuat pihak BMKG secara tegas mengimbau nelayan dan pengguna laut untuk ekstra hati-hati. BMKG juga memprakirakan cuaca di wilayah Kalimantan Selatan umumnya berawan dan berpotensi hujan ringan hingga sedang di daratan, meski fokus utama peringatan adalah kondisi laut yang kurang bersahabat bagi pelayaran.
Kebiasaan Nelayan dalam Memprediksi Cuaca Ketika Melaut
Nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan atau secara aktif melakukan operasi penangkapan ikan di perairan. Perhitungan yang tepat terkait kondisi iklim dan cuaca lokal sangat penting bagi nelayan karena berkaitan langsung dengan aktivitas melaut dan keselamatan.
Meski dengan kecanggihan teknologi yang telah berkembang, namun masih banyak nelayan tradisional yang memprediksi cuaca dengan faktor alam. Dalam hal pembacaan iklim dan cuaca lokal, nelayan tradisional memiliki cara-cara tersendiri yang mereka dapatkan dari proses berinteraksi dengan alam sekitar.
Untuk melaut pada malam hari, umumnya nelayan melakukan pembacaan iklim melalui bulan. Namun, bagaimana nelayan mengetahui posisi dan arah di laut ketika pada siang hari? Pada siang hari, indikator yang digunakan dalam membaca iklim dan cuaca lokal yaitu tanda-tanda alam yang ada di laut, seperti gelombang, arah angin, dan arus air.
Adapun tanda-tanda yang diperhatikan nelayan sebelum turun melaut di antaranya:
-
Faktor angin musim
Secara umum nelayan menggunakan indikasi pembentukan awan dari arah tertentu untuk memprediksi peluang terjadi angin kencang dari arah-arah tersebut.
Bentuk awan yang tebal berwarna abu-abu dan kehitaman, dan terlihat menggantung di atas laut seperti sebuah garis pada arah tertentu dipercaya nelayan sebagai tanda terjadinya cuaca buruk.
Tanda di daratan seperti daun pohon kelapa yang terkena tiupan angin ke arah tertentu juga diperhitungkan untuk memastikan arah datang angin yang bertiup. -
Bila kejadian angin kencang terjadi saat nelayan berada di laut pada malam hari, beberapa tanda seperti bunyi gemuruh gelombang dari arah tertentu, dan gerakan gelombang yang dirasakan di atas perahu menjadi tanda akan terjadinya cuaca buruk.
Ada nelayan yang menggunakan jarinya yang diberi air liur terlebih dahulu untuk mendeteksi arah datang angin. -
Bagi para nelayan, keberadaan awan di langit juga dapat dijadikan pedoman atau petunjuk ketika akan melakukan aktifitas penangkapan ikan di laut.
Nelayan tradisional menggunakan awan sebagai tanda untuk memprediksi cuaca di laut. Arah dan kecepatan pergerakan awan diamati nelayan untuk memprediksi arah datang dan kecepatan angin yang akan terjadi.
Nelayan juga dapat membedakan jenis awan yang hanya akan berubah menjadi hujan bukan badai angin yang dapat menimbulkan gelombang tinggi di laut. -
Tanda-tanda alam di laut berupa ombak, sangat terkait dengan angin, arus, dan keberadaan karang di laut. Setiap daerah memiliki ciri ombak masing-masing yang dapat menjadi indikator prediksi cuaca.
Munculnya ombak dalam ukuran-ukuran tertentu juga sangat dipengaruhi oleh kencangnya angin yang berhembus.
Jika angin kencang searah dengan arus, maka ombaknya agak lebih rendah dan panjang. Tetapi jika angin berlawanan dengan arus, maka ombaknya agak tinggi dan tidak panjang. -
Pembacaan umur bulan merupakan pengetahuan yang sangat mendasar bagi nelayan baik di daratan utama maupun di pulau.
Pembacaan umur bulan dilakukan karena posisi umur bulan sangat berpengaruh terhadap kondisi di laut dan waktu penangkapan ikan.
Selain itu, pembacaan umur bulan dan fenomena alam terkait dengannya dimanfaatkan nelayan untuk beberapa kepentingan seperti keputusan melakukan perjalanan laut termasuk berlayar.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."












