Daerah  

Kades Carnita Raup Jutaan Rupiah dari Kerja Sampingan di Kandang

Kepala Desa dan Anggota Polisi yang Sukses Berwirausaha

Kepala desa di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, menunjukkan bahwa jabatan publik tidak semata-mata dijadikan mata pencaharian utama. Salah satu contohnya adalah Kepala Desa Sindang yang bernama Carnita. Ia sukses dalam mengembangkan usaha budidaya ayam petelur yang memberikan keuntungan besar sekaligus membantu memenuhi kebutuhan pangan warganya.

Saat ditemui, Carnita terlihat sibuk mondar-mandir di kandang ayam miliknya. Di tangannya, ia membawa ember berisikan pakan, memastikan semua ayam mendapat pakan yang cukup. Sesekali pandangannya fokus mengamati kondisi ternaknya untuk memastikan ayam-ayam tersebut tumbuh sehat. Kandang menjadi tempat rutin yang selalu diurus dan didatangi Carnita selain Kantor Desa.

Lewat budidaya ayam petelur, ia mampu meraup cuan jutaan rupiah sekaligus membantu memenuhi kebutuhan pangan warganya. Usaha ternak ayam petelur itu awalnya dirintis dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan telur di desanya agar warga bisa membeli dengan harga lebih terjangkau. Saat harga telur di pasaran bisa menyentuh Rp 30.000 per kilogram, warga Desa Sindang bisa mendapatkannya dengan harga Rp 25.000–26.000 per kilogram.

“Terkait penjualan, pemasarannya masih kami prioritaskan kepada warga sini. Kadang memang ada tengkulak, tetapi tidak rutin. Kami lebih mengutamakan penjualan langsung ke konsumen,” kata Carnita saat ditemui di kandang miliknya yang berada di areal Embung Jangkar Desa Sindang.

Jalan Merintis

Diceritakan Carnita, ia menyambi usaha budidaya ayam petelur ini dirintis pada awal tahun 2025 dari uang tabungan pribadinya, dalam perjalanannya, Carnita dibantu sang istri mengelola usaha tersebut. Sesuai dengan niatan awal, Carnita tidak mengutamakan untung besar. Menariknya, usahanya tersebut seolah mendapat restu dari Yang Kuasa. Usahanya justru berkembang pesat. Dari awal memelihara 500 ekor ayam kini Carnita telah memiliki sekitar 2.000 ekor ayam petelur.

Dalam sehari, ia mampu memanen hampir satu kuintal atau sekitar 100 kilogram telur. “Produksi telur per hari sejak minggu kemarin sudah hampir satu kuintal, sekitar 100 kilogram lah, panennya satu kali sehari,” katanya.

Rutin Vaksin

Untuk menjaga kualitas produksi, Carnita rutin memberikan vaksin saat ayam berusia 16 hingga 17 minggu atau memasuki fase bertelur. Perawatan juga dilanjutkan dengan pemberian jamu alami. “Vaksin diberikan usia 16 sampai 17 minggu sebagai penunjang produksi telur. Setelah itu, kami lanjutkan dengan jamu alami, seperti kunyit, temulawak, dan daun kelor,” ujarnya.

Warga Sejahtera

Ternyata, yang menikmati hasil usaha Kades Carnita tidak hanya dirinya, melainkan para warga di desa Sindang. Warga Desa Sindang turut sejahtera karena telur yang diproduksi di kandang ayam Kepala Desa harganya lebih murah. Keberadaan peternakan tersebut turut membantu warga Desa Sindang dalam memenuhi kebutuhan gizi protein keluarganya. Sejumlah pelaku usaha olahan makanan juga terbantu karena memperoleh bahan baku telur dengan harga yang lebih terjangkai.

Carnita berharap usahanya dapat mendorong peningkatan ekonomi masyarakat desa. Ia pun terbuka untuk berbagi ilmu kepada warga yang ingin terjun ke dunia peternakan atau usaha lainnya. Usahanya ini juga diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi warga sekitar dan mengubah mindset masyarakat dalam memulai usaha, yakni dengan ketekunan dan kerja keras, usaha apapun bisa menguntungkan.

“Usaha ini kami harapkan bisa menjadi motivasi bagi generasi muda yang masih bingung mencari peluang usaha. Peternakan ayam petelur sebenarnya cukup menjanjikan,” tuturnya.

Anggota Polisi juga Sukses

Selain Kepala Desa Sindang, ada pula seorang anggota Polisi yang kerja sambilannya membuat dirinya sukses. Polisi di Kediri, Jawa Timur, berhasil berwirausaha tanpa mengabaikan tugas utama. Adalah Aiptu Joko Wiyono, Bhabinkamtibmas Desa Bantuanyar, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Di sela kesibukannya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, ia berhasil mengembangkan usaha peternakan ayam petelur ras yang kini menghasilkan sekitar 1 ton telur setiap hari. Ketertarikan Joko pada dunia peternakan bermula saat dirinya sering berkeliling desa dalam menjalankan tugas sebagai Bhabinkamtibmas. Dari kegiatan sambang warga itulah, ia melihat banyak masyarakat yang menekuni usaha ayam petelur dengan hasil menjanjikan.

“Karena sering keliling desa, saya lihat banyak warga yang punya peternakan ayam merah. Dari situ saya berpikir, usaha ini kok menjanjikan, akhirnya saya coba sedikit demi sedikit, dan ternyata saya cocok,” kata Joko.

Langkah Awal Tidak Mudah

Langkah awalnya tidak mudah. Joko menceritakan memulai usaha tersebut dengan modal terbatas dan skala kecil. Namun, berkat ketekunan dan manajemen waktu yang baik, usaha peternakan yang dirintis sejak tahun 2015 itu terus berkembang hingga memiliki 25.000-30.000 ekor ayam petelur.

Bagi Joko, motivasi terbesarnya adalah keinginan untuk memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga tanpa mengganggu tanggung jawab sebagai anggota Polri. Ia menyadari pentingnya memiliki sumber pendapatan lain yang produktif, terutama menjelang masa purnatugas nanti.

“Saya ingin ada penghasilan tambahan selain dari gaji Polri, tapi tidak mengganggu jam kedinasan. Jadi usaha ini bisa tetap jalan dan bermanfaat untuk keluarga,” tuturnya.

Pengelolaan Waktu

Dalam mengelola waktu, pria 50 tahun ini tidak merasa kesulitan. Ia memanfaatkan waktu di luar jam dinas untuk mengawasi dan mengontrol peternakannya. Sebagian besar pekerjaan operasional sudah ditangani oleh para pekerja yang ia percayai.

“Saya tidak membagi waktu secara khusus. Kalau ada waktu di rumah dan tidak dinas, saya kontrol saja. Sudah ada pekerja yang mengurus, saya tinggal memastikan semuanya sesuai teori dan arahan dari bos atau mitra usaha saya,” jelasnya.

Tantangan dalam Usaha

Selama hampir satu dekade menjalankan usaha tersebut, Joko mengaku menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari bibit ayam yang tidak sehat, perubahan cuaca ekstrem, hingga fluktuasi harga pakan dan telur di pasaran.

“Kalau cuaca berubah dari panas ke dingin atau sebaliknya, kita harus ekstra perhatian. Selain itu, harga pakan yang naik dan harga telur yang turun juga sering jadi kendala. Tapi kita harus tetap bisa mengatur supaya usaha tetap berjalan normal,” bebernya.

Perawatan yang Ketat

Untuk menjaga kualitas telur dan kesehatan ayam, Joko menerapkan sistem perawatan yang ketat. Ia memastikan pemberian vitamin, vaksin, dan pengawasan kesehatan dilakukan secara rutin. Setiap ada tanda-tanda ayam tidak sehat, ia langsung berkonsultasi dengan dokter hewan.

“Setiap hari harus kontrol. Kalau ada ayam tidak normal, langsung ditangani. Vitamin dan vaksin tidak boleh lupa, supaya hasilnya tetap bagus,” tegasnya.

Hasil Kerja Keras

Dari hasil kerja kerasnya, Joko kini mampu menghasilkan sekitar 1 ton telur per hari, dengan kebutuhan pakan mencapai 6 kuintal setiap hari. Usahanya tidak hanya memberikan kesejahteraan bagi keluarga, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.

“Alhamdulillah hasilnya bisa membantu keluarga, dan juga memberi manfaat untuk tetangga karena bisa menciptakan lapangan kerja,” tuturnya.

Rencana Masa Depan

Ke depan, Aiptu Joko berencana untuk memperluas usaha peternakan ayam petelurnya setelah pensiun dari dinas kepolisian. Ia ingin menjadikan peternakan tersebut sebagai usaha keluarga yang berkelanjutan.

“Insyaallah kalau Tuhan mengizinkan, setelah purnatugas saya ingin mengembangkan peternakan ini lebih besar lagi,” harapnya.

Pesan untuk Rekan-rekan

Sebagai pesan kepada rekan-rekannya di kepolisian maupun masyarakat luas, Joko menekankan pentingnya semangat, perhitungan modal, dan ketekunan dalam berwirausaha. Menurutnya, kesuksesan tidak datang secara instan, tetapi melalui proses dan kerja keras yang konsisten.

“Yang penting semangat, jangan mudah menyerah. Kalau modalnya kecil, mulai sedikit demi sedikit. Insyaallah Tuhan akan memberikan jalan,” pungkasnya.

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?