Daerah  

Khoirul dan Warga Bandar Harapan Berani Melintasi Jembatan Bergoyang

Perjalanan Berisiko di Jembatan Gantung Bandar Harapan

Di tengah kehidupan sehari-hari warga Dusun Bandar Harapan, Kampung Poncowati, Kecamatan Terbanggi Besar, Lampung Tengah, Sungai Way Pengubuan terus mengalir deras. Arus air yang kencang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat. Di samping itu, jembatan gantung yang menjadi penghubung antara dua sisi dusun juga menjadi bagian penting dalam rutinitas harian warga.

Jembatan ini tidak hanya menjadi jalur utama menuju sawah dan pasar, tetapi juga jalan bagi anak-anak sekolah untuk sampai ke bangku kelas. Setiap hari, ratusan langkah kaki dan kendaraan melintasi lantai kayu yang sudah lapuk dan tiang-tiang yang terancam oleh arus deras sungai. Meski kondisinya memprihatinkan, jembatan ini tetap menjadi satu-satunya akses yang bisa digunakan.

Keberanian di Tengah Risiko

Pada siang hari, suasana dusun terasa ramai dengan aktivitas warga. Petani pulang dari ladang dengan tubuh lelah, sementara anak-anak sekolah berseragam berjalan pulang. Para orangtua juga datang menjemput anak-anak mereka, baik dengan mobil maupun sepeda motor. Namun, di ujung jembatan, ada pemandangan yang menarik perhatian: seorang petani bernama Khoirul berdiri di genangan air, membawa tangki semprot dan motor trondol yang mogok akibat banjir.

Khoirul mengaku bahwa ini bukan kali pertama motornya mati karena banjir. Ia mengatakan, “Risiko motor mogok masih bisa saya terima. Yang saya takutkan kalau motor terperosok karena papan jembatan amblas atau hanyut. Arusnya deras sekali.”

Setiap kali berhasil menghidupkan motornya kembali, ia selalu bertanya-tanya kapan akses ini akan dibenahi. Jembatan yang bergoyang dan licin itu menjadi ancaman nyata bagi keselamatan warga, terutama anak-anak sekolah.

Kekhawatiran yang Menjadi Rutinitas

Banyak warga mengkhawatirkan keselamatan anak-anak yang harus menyeberangi jembatan setiap hari. Bocah-bocah SD hingga remaja SMP dan SMA/SMK harus melewati jembatan yang terendam air dan papan kayu yang sudah lapuk. Beberapa di antara mereka masih terlalu kecil untuk memahami sepenuhnya risiko yang mereka hadapi.

“Keselamatan anak-anak yang kita pikirkan. Apalagi kebanyakan masih SD dan SMP,” ujar Khoirul. Bagi warga Bandar Harapan, kebiasaan mengantar dan menjemput anak-anak menjadi rutinitas yang pahit, meskipun sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Viral dan Sampai ke Meja Kejaksaan

Keluhan warga akhirnya menyebar ke media sosial, dan akhirnya sampai ke tangan Kejaksaan Negeri Lampung Tengah. Rabu (11/2/2026), jajaran Kejari Lampung Tengah turun langsung ke lokasi bersama BPBD setempat. Mereka melepas sepatu dan menjajal sendiri jembatan yang tergenang air.

Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Lampung Tengah, Alfa Dera, mengatakan bahwa informasi tersebut diterima melalui aplikasi “Jaga Desa”, yang dirancang untuk mengawal pengelolaan dana desa secara real-time. Dari aplikasi itu, pihak Kejaksaan mengetahui adanya enam kampung/kelurahan di Lampung Tengah yang berpotensi terkena bencana alam, salah satunya jembatan gantung di Bandar Harapan.

Alfa menyampaikan bahwa kehadiran Kejaksaan bukan hanya untuk penindakan hukum, tetapi juga mendorong percepatan solusi atas masalah yang dihadapi masyarakat. Ia juga mengimbau pemerintah kampung dan kelurahan agar rutin memperbarui data di aplikasi Jaga Desa.

Menunggu Perbaikan, Menjaga Harapan

Sore mulai turun di Bandar Harapan. Arus Way Pengubuan masih mengalir deras, memantulkan cahaya matahari yang mulai redup. Di atas jembatan gantung yang bergoyang, seorang anak menggenggam tangan ibunya erat-erat di atas motor, melintas perlahan melewati papan kayu yang basah dan licin. Di sisi lain, dua orang siswi SMA nekat melintas dengan satu motor, berhati-hati agar tak tergelincir.

Di tempat seperti inilah makna akses pendidikan terasa begitu nyata—dan rapuh. Sekolah bukan sekadar ruang kelas, melainkan perjalanan yang kadang harus ditempuh dengan keberanian ekstra.

Bagi warga Bandar Harapan, harapan itu sederhana: jembatan yang layak, jalan yang aman, dan anak-anak yang bisa pergi ke sekolah tanpa dibayangi rasa takut. Sementara itu, suara gemericik Way Pengubuan terus terdengar, seakan menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan.

Warga kini berharap ada perbaikan permanen agar akses vital tersebut tetap aman dilalui, terutama bagi anak-anak sekolah yang setiap hari mempertaruhkan keselamatan demi menuntut ilmu.

Menyikapi kondisi tersebut, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Tengah, Ricky Augusta juga turun langsung meninjau lokasi bersama Kejaksaan Negeri Lampung Tengah. Ricky mengatakan pihaknya bergerak cepat setelah menerima laporan dari masyarakat terkait kondisi jembatan gantung penghubung antar dusun tersebut.

“Pemerintah daerah berupaya hadir memberikan solusi terbaik serta mengupayakan perbaikan jembatan gantung ini,” kata Ricky. Berdasarkan hasil survei BPBD bersama Kejaksaan Negeri Lampung Tengah, kerusakan jembatan disebabkan curah hujan tinggi dan luapan air sungai.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?