Penyelidikan Sosial Penting dalam Pembangunan Rusun 20 Lantai di Sadang Serang
Pembangunan rumah susun (rusun) sebanyak 20 lantai di kawasan Sadang Serang, Kota Bandung, yang ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), dinilai perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih komprehensif. Hal ini disampaikan oleh sosiolog Universitas Padjadjaran, Herry Wibowo, yang menyoroti pentingnya kajian sosial sebelum memulai proyek tersebut.
Herry menyatakan bahwa pembangunan rusun tidak hanya sekadar proyek fisik, tetapi juga berkaitan dengan perubahan kehidupan ribuan warga. Dalam pandangan sosiolog tersebut, komunikasi pemerintah menjadi titik awal yang sangat penting dalam menghadapi potensi penolakan dari masyarakat. Ia menekankan bahwa kesulitan dalam komunikasi sering kali berasal dari pengalaman sebelumnya yang tidak selaras antara pemerintah dan warga.
“Momentum komunikasi tidak terjadi begitu saja. Kalau sekarang dirasakan ada kesulitan, berarti ada historisnya,” ujarnya. Menurut Herry, jika masyarakat pernah merasa dikhianati atau tidak puas dengan komunikasi sebelumnya, maka mereka cenderung skeptis terhadap program baru.
Ia juga menyoroti risiko trauma komunikasi yang bisa muncul akibat ketidakselarasan antara janji dan realisasi. “Bisa jadi masyarakat punya trauma komunikasi sebelumnya dengan pemerintah daerah, ada ketidakselarasan, bahkan merasa pernah dijanjikan A tapi yang terjadi B. Jadi merasa di ‘PHP’.”
Kebijakan Berbasis Data dan Evaluasi Program Sebelumnya
Selain komunikasi, Herry menekankan pentingnya kebijakan yang berbasis data dan evaluasi program sejenis yang sudah berjalan. Di Bandung, telah ada beberapa lokasi rusun seperti Rancacili, serta di Jakarta dan kota besar lain. Namun, ia menanyakan apakah rusun-rusun tersebut benar-benar berhasil menyelesaikan masalah.
“Kita harus lihat, apakah rusun-rusun sebelumnya menyelesaikan masalah? Keterisiannya penuh atau tidak? Ada konflik antarwarga atau tidak? Kita harus melihat output dari solusi yang pernah ditawarkan,” katanya.
Herry juga menyoroti pentingnya kategorisasi warga yang akan menempati rusun tersebut. Ia menyarankan agar ada klasifikasi jelas antara warga yang tinggal di lahan bukan miliknya dan warga yang memiliki rumah tetapi tidak layak huni. Kedua kelompok ini memiliki akar masalah yang berbeda dan memerlukan pendekatan yang berbeda pula.
Potensi Kecemburuan Sosial dan Dampak Ekonomi
Herry juga mengingatkan tentang potensi kecemburuan sosial jika pendataan tidak dilakukan secara akurat. Rencana pembangunan lebih dari 1.000 unit untuk menampung sekitar 1.000 keluarga dinilai akan berdampak signifikan terhadap kepadatan kawasan. Dengan asumsi satu keluarga terdiri dari empat orang, jumlah penghuni bisa mencapai 4.000 jiwa dalam satu lokasi.
“Di lahan yang sebelumnya mungkin hanya dihuni 200 orang, tiba-tiba menjadi ribuan. Tingkat aktivitas dan kepadatan berbeda. Warga lama bisa merasa terganggu kalau tidak diantisipasi,” ujarnya.
Selain itu, Herry menyoroti dampak ekonomi bagi calon penghuni. Perpindahan tempat tinggal dapat memengaruhi akses terhadap pekerjaan dan usaha sehari-hari. Jika lokasi baru jauh dari sumber penghasilan, risiko pengangguran baru harus dipikirkan sejak awal.
“Pindah rumah bukan sekadar pindah tempat tidur. Bagaimana mereka bekerja? Jualannya di mana? Kalau biaya transportasi bertambah, itu juga harus dihitung. Mungkin perlu subsidi atau pelatihan ekonomi di tahun pertama,” ujarnya.
Pendataan Akurat dan Kolaborasi Antarinstansi
Herry menyarankan agar pendataan dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan jejaring sosial paling dasar, seperti RT dan RW. Data mengenai kategori miskin, miskin ekstrem, hingga desil ekonomi sebenarnya sudah tersedia di berbagai kementerian. Ia juga mengingatkan agar tidak terjadi ego sektoral antarinstansi.
“Lebih baik setahun pendataan dan asesmen tuntas, mapping jelas, baru bangunan berdiri. Daripada bangunan sudah berdiri, konflik sosial baru diselesaikan belakangan,” katanya.
Meski demikian, Herry mengatakan bahwa program perumahan vertikal bagi MBR pada prinsipnya patut disambut baik. Kendati demikian, dalam aspek pelaksanaannya harus hati-hati dan mempertimbangkan kompleksitas sosial yang ada.
“Jangan sampai hanya terlihat bangunannya berdiri. Yang jauh lebih penting adalah apakah ini benar-benar menjadi solusi sosial dan membuat masyarakat tidak hanya sejahtera secara ekonomi, tapi juga merasa aman dan nyaman,” jelas Herry.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”












