Ketua BEM UGM Terancam Dituntut, Ibu Jadi Korban Teror Psikologis

Kekuatan dan Keteguhan dalam Menghadapi Teror

Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), mengungkapkan bahwa ancaman yang dialaminya tidak hanya ditujukan kepadanya, tetapi juga kepada orang terdekatnya. Ia menyebutkan bahwa ancaman tersebut datang secara beruntun dan menunjukkan adanya upaya untuk melemahkan semangat serta kritik yang ia lontarkan terhadap pemerintah.

Rentetan Ancaman yang Menyasar Keluarga

Menurut Tiyo, ancaman itu bukanlah hal baru. Ia menerima berbagai bentuk tekanan, baik dari pesan tak dikenal maupun dari pihak-pihak tertentu yang mengklaim memiliki hubungan dengan institusi pemerintahan. Salah satu ancaman terbaru adalah informasi yang menyebutkan bahwa sebuah organisasi kemasyarakatan di Yogyakarta akan melaporkannya ke Polda DIY atas tuduhan penggelapan dana Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIPK).

Selain itu, ada pesan lain yang menyebutkan bahwa seorang dosen UGM kecewa terhadap perilaku Tiyo dan menuduhnya dengan tuduhan serupa. Bagi Tiyo, tuduhan-tuduhan ini bukanlah sesuatu yang asing. Ia menyatakan bahwa narasi-narasi seperti ini sering digunakan sebagai alat untuk melemahkan mental dan membungkam suara kritis.

Ketakutan Seorang Ibu dan Keteguhan Seorang Anak

Sebagai seorang ibu, ketakutan yang dirasakan oleh ibunda Tiyo adalah hal wajar. Awalnya, ia merasa khawatir terhadap nasib anaknya yang terus-menerus memberikan kritik keras terhadap kekuasaan. Namun, perlahan-lahan, Tiyo berusaha menjelaskan bahwa semua informasi yang diterima oleh ibunya bukanlah fakta, melainkan bagian dari teror yang dirancang untuk melemahkan semangatnya.

Ia memastikan bahwa ibunya sudah memahami situasi tersebut dan kini merasa lebih tenang. Dengan penjelasan yang jelas dan tegas, Tiyo berhasil meyakinkan ibunya bahwa kritik yang ia sampaikan adalah bagian dari tanggung jawab moral dan kepedulian terhadap masa depan bangsa.

Teror yang Menyebar ke Lingkungan Kampus

Tidak hanya menyerang keluarga, ancaman tersebut juga menjangkau lingkungan kampus. Menurut Tiyo, sekitar 30 hingga 40 pengurus BEM UGM juga pernah mengalami teror serupa. Meski begitu, para mahasiswa tersebut tidak gentar. Mereka memahami bahwa tekanan yang mereka terima adalah konsekuensi dari sikap politik BEM UGM yang vokal dalam mengkritik kebijakan pemerintah.

Bagi Tiyo, sikap ini bukanlah upaya mendistorsi program negara. Justru, kritik tersebut lahir dari keprihatinan terhadap kondisi bangsa yang dinilai belum optimal. Ia percaya bahwa kritik yang disampaikan harus didengarkan, bukan dibungkam.

MBG dan Kritik yang Mengundang Amarah

Salah satu kritik paling keras yang disuarakan oleh Tiyo adalah terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menyebut program tersebut sebagai “Maling Berkedok Gizi” karena dinilai tidak sesuai dengan tujuan idealnya. Menurut Tiyo, program ini justru dianggap tidak berpihak pada pendidikan, melainkan menjadi alat untuk menutupi kebijakan yang tidak transparan.

Kritik ini diarahkan kepada pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. Bagi Tiyo, kritik yang ia lontarkan bukan dilandasi kebencian terhadap negeri ini, melainkan kepedulian untuk melihat Indonesia berjalan ke arah yang lebih baik.

Kritik sebagai Obat untuk Republik yang Sakit

Tiyo mengibaratkan kritik sebagai obat. Sebuah upaya penyembuhan, bukan perusakan. Ia menyayangkan jika penguasa justru menutup telinga terhadap kritik yang disampaikan berbasis data dan fakta lapangan.

“Ini republik yang sakit. Negeri ini sakit dan orang memberi kritik ke republik ibarat dokter yang memberi obat. Termasuk para aktivis, akademisi yang mengkritisi MBG karena ingin memberi obat bagi republik ini,” kata Tiyo.

Di tengah teror yang terus berdatangan, Tiyo memilih satu sikap: tetap berdiri. Bagi dirinya, rasa takut tak boleh mengalahkan tanggung jawab moral. Sebab ketika kritik dibungkam dengan ancaman, yang terancam bukan hanya satu suara melainkan masa depan republik itu sendiri.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?