Daerah  

PPK Jalan Mauponggo-Ngera Puuwada: Jalan Sudah Diperbaiki, Warga Tak Perlu Khawatir

Kerusakan Jalan Mauponggo-Ngera-Puuwada: Kritik Terhadap Kualitas Pekerjaan dan Proses Konstruksi

Jalan Mauponggo-Ngera-Puuwada yang baru sebulan dikerjakan dengan hotmix kini mengalami kerusakan serius. Warga setempat menilai kondisi jalan tidak sesuai standar, dengan retakan dan pecahan yang terlihat di berbagai bagian. Hal ini menimbulkan kekecewaan, karena jalan tersebut menjadi vital bagi ekonomi masyarakat sekitar 7 ribu penduduk.

Ricard Manukoa, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek jalan Mauponggo-Ngera-Puuwada, menyatakan bahwa semua kerusakan sudah diperbaiki dan masuk tahap pemeliharaan. Ia juga menjelaskan bahwa pekerjaan tersebut telah melalui pemeriksaan BPK dan pendampingan oleh kejaksaan tinggi. Namun, warga dan anggota DPRD Kabupaten Nagekeo tetap menuntut perbaikan kualitas pondasi agar jalan lebih tahan lama.

Spesifikasi Teknis dan Penggunaan Lapis Aus

Lapis Aus (HRS-WC) digunakan sebagai permukaan akhir badan jalan. Lapisan ini memiliki peran penting dalam melindungi struktur di bawahnya sekaligus memberikan kenyamanan dan keselamatan bagi pengguna jalan. Campuran HRS-WC dirancang dengan gradasi senjang, yakni kombinasi agregat kasar dan halus yang tidak menerus, sehingga menghasilkan tekstur permukaan yang lebih kasar dibandingkan jenis aspal lainnya.

Karakteristik tersebut membuat HRS-WC memiliki tingkat kekesatan tinggi, sehingga mampu mengurangi risiko selip, terutama pada kondisi jalan basah atau saat hujan. Selain itu, kandungan aspal yang relatif lebih tinggi menjadikan lapisan ini lebih kedap terhadap air, sehingga dapat melindungi lapisan fondasi dari kerusakan akibat infiltrasi air.

Proses penerapan Lapis Aus (HRS-WC) di lapangan dimulai dari persiapan permukaan jalan yang harus bersih dan kering, kemudian dilanjutkan dengan penyemprotan lapis perekat atau tack coat pada Lapis Pondasi Agregat Kelas A. Campuran aspal diproduksi di Asphalt Mixing Plant (AMP) dengan suhu terkontrol agar material tercampur homogen sesuai spesifikasi teknis. Selanjutnya, campuran dihampar menggunakan alat asphalt finisher dengan ketebalan relatif tipis, umumnya sekitar 3 hingga 5 sentimeter. Tahap pemadatan dilakukan secara bertahap menggunakan berbagai jenis alat berat untuk mencapai kepadatan optimal dan memastikan daya ikat antar material.

Perbedaan Kualitas Lapis Pondasi Agregat Kelas A dan B

Pekerjaan konstruksi jalan tidak hanya bergantung pada lapisan aspal di permukaan, tetapi juga sangat ditentukan oleh kualitas lapis pondasi agregat di bawahnya. Dua jenis yang paling umum digunakan di Indonesia adalah Lapis Pondasi Agregat (LPA) Kelas A dan Kelas B. Perbedaan komposisi keduanya terbukti berpengaruh langsung terhadap kekuatan dan daya tahan jalan.

Untuk Lapis Pondasi Atas (LPA) Kelas A, yang digunakan sebagai lapisan Pondasi atas, komposisi campuran umumnya lebih seimbang antara agregat kasar dan halus. Sebagai contoh, campuran dapat terdiri dari 70 persen batu pecah serta 30 persen pasir dan abu batu. Dengan komposisi ini, gradasi yang dihasilkan cenderung rapat sehingga mudah dipadatkan dan memiliki daya dukung tinggi. Hal ini menjadikan Lapis Pondasi Agregat Kelas A ideal sebagai lapisan yang langsung menerima beban dari perkerasan jalan di atasnya.

Sebaliknya, Lapis Pondasi Agregat Kelas B yang digunakan sebagai lapisan fondasi bawah memiliki komposisi yang lebih kasar. Campuran umumnya terdiri dari 60 persen batu pecah, dan 40 persen pasir dan abu batu. Kandungan agregat halus yang lebih sedikit membuat lapisan ini memiliki drainase yang lebih baik, meskipun tingkat kepadatannya tidak setinggi Kelas A.

Kritik Terhadap Penggunaan Lapisan Tipis Aspal Pasir (Latasir)

Ahli konstruksi menyoroti penggunaan lapisan tipis aspal pasir (latasir) dalam sejumlah proyek jalan. Menurut mereka, metode tersebut kerap disalahpahami sebagai perbaikan struktural, padahal secara teknis hanya berfungsi menutup permukaan aspal yang kasar bukan menerima beban kendaraan. “Pekerjaan latasir seperti ini hanya untuk menutup pori-pori aspal yang kasar atau retak rambut, bukan untuk memperkuat konstruksi badan jalan,” ujar sumber yang tak mau namanya disebutkan.

Ia juga mengkritik kurangnya transparansi dalam pelaksanaan proyek, terutama terkait dokumentasi kondisi awal. Menurutnya, laporan pekerjaan sering kali hanya menampilkan hasil akhir tanpa memperlihatkan kondisi sebelum pekerjaan dimulai.

Proses Pengerjaan Jalan Hotmix yang Benar

Sumber Media Indonesia salah satu ahli teknik yang biasa menangani proyek pekerjaan jalan hotmix mengungkapkan cara pengerjaan jalan agregat dan aspal/hotmix yang benar berdasarkan Spesifikasi Umum Bina Marga. Proses pembangunan dimulai dari persiapan lapisan dasar (base course). Pada tahap ini, agregat berupa batu pecah dengan ukuran tertentu disusun sebagai pondasi jalan. Agregat harus memenuhi syarat gradasi, kebersihan, serta kekuatan material agar mampu menahan beban lalu lintas. Setelah itu agregat dipadatkan menggunakan alat pemadat hingga mencapai kepadatan yang ditentukan.

Tahap berikutnya adalah pemberian lapisan perekat atau prime coat dan tack coat. Lapisan ini berfungsi mengikat antara lapisan agregat dengan lapisan aspal sehingga struktur jalan menjadi lebih kuat dan tidak mudah terkelupas. Selanjutnya dilakukan penghamparan campuran aspal panas (hotmix) yang terdiri dari campuran agregat, aspal, dan bahan pengisi yang diproduksi di instalasi pencampur aspal. Campuran ini dihampar menggunakan alat khusus agar ketebalan dan kerataannya sesuai spesifikasi teknis.

Setelah dihampar, campuran aspal harus segera dipadatkan menggunakan mesin roller dalam beberapa tahap pemadatan, mulai dari pemadatan awal, pemadatan antara, hingga pemadatan akhir. Proses ini penting untuk mencapai kepadatan maksimum sehingga permukaan jalan menjadi kuat dan tahan terhadap kerusakan.

Nilai Kontrak dan Masalah Pekerjaan

Dari informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber, proyek jalan tersebut merupakan Paket Pekerjaan Jalan Inpres Daerah Tahun Anggaran 2025 dengan dua paket pekerjaan. PPK proyek jalan Mauponggo-Ngera-Puuwada, Ricard Manukoa belum memberikan jawaban terkait kerusakan dan paket pekerjaan jalan tersebut. Jurnalis coba menghubungi namun Ricard masih belum merespon.

Warga meminta agar seluruh jalan dibongkar dan diberikan landasan semen yang kuat agar jalan tak mudah amblas lagi. Mereka mengaku memanfaatkan psikologi warga yang merindukan jalan. Warga menilai mereka asal kerja yang penting ada jalannya dan pekerjaannya selesai entah hanya bisa digunakan selama setahun tidak jadi persoalan.

Viktor Tegu, anggota DPRD Kabupaten Nagekeo, menyampaikan keluhan tentang kualitas pekerjaan kepada Wakil Ketua Komisi II DPRD Nagekeo serta Wakil Bupati dan Ketua DPRD Nagekeo. Ia menilai penting untuk memperbaiki kualitas jalan yang sedang dikerjakan agar jalan tersebut bertahan lama.




Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?