Ketahanan Energi RI Diuji, Diversifikasi Impor dan Harga BBM Subsidi Jadi Sorotan

.CO.ID – JAKARTA.

Gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menguji ketahanan energi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia. Peristiwa ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan dan harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai wilayah. Filipina, misalnya, telah menetapkan status darurat energi nasional untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan akibat konflik yang meningkatkan harga minyak dan volatilitas pasar global.

Pemerintah Filipina membentuk komite khusus guna memastikan distribusi bahan bakar tetap lancar serta mempercepat pengadaan energi. Salah satu langkah yang diambil adalah membuka opsi pembayaran di muka demi mengamankan pasokan. Langkah ini menjadi pembanding penting bagi Indonesia, yang saat ini masih memiliki ketahanan stok BBM relatif pendek.

Sebagai informasi, Filipina menetapkan darurat energi nasional per 24 Maret 2026 karena konflik Timur Tengah, dengan cadangan BBM domestik hanya tersisa untuk rata-rata 45 hari. Sementara itu, cadangan BBM nasional Indonesia tercatat berada pada kisaran 27-28 hari. Dengan data ini, Indonesia dinilai masih tertinggal dibandingkan beberapa negara ASEAN dalam hal buffer cadangan energi.

Evaluasi Ketahanan Energi

Beberapa pemangku kepentingan menilai bahwa selain mengukur ketahanan energi, pemerintah perlu memperkuat strategi pengamanan pasokan dari dalam negeri maupun impor, sekaligus menyiapkan skenario kebijakan harga BBM subsidi.

Anggota Unsur Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Saleh Abdurrahman, menyatakan bahwa dalam konteks dinamika global saat ini, stok energi nasional seperti BBM jenis RON 90, solar CN48, serta LPG masih dalam kondisi aman berdasarkan laporan Pertamina. Meski demikian, ia menekankan pentingnya mengoptimalkan produksi domestik.

“Sebagai negara produsen minyak, produksi dalam negeri harus diprioritaskan untuk kebutuhan domestik. Kilang juga harus beroperasi optimal agar ketergantungan impor bisa ditekan,” ujar Saleh kepada , Rabu (25/3/2026).

Selain itu, pemerintah dinilai perlu mengendalikan konsumsi BBM secara lebih ketat, termasuk mendorong pemanfaatan transportasi publik di kota-kota besar untuk menahan lonjakan permintaan.

Strategi Pengelolaan Stok oleh Pertamina

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menjelaskan bahwa ketahanan energi nasional dijaga melalui pengelolaan stok yang dinamis dan sistem logistik terintegrasi dari hulu hingga hilir. Pertamina juga terus memantau perkembangan geopolitik serta harga energi global untuk menjaga stabilitas pasokan.

Pertamina, lanjut Baron, memaksimalkan produksi domestik sekaligus melakukan diversifikasi sumber impor agar tidak bergantung pada satu negara. Strategi pengadaan dilakukan melalui kombinasi kontrak jangka panjang dan pembelian spot guna menjaga fleksibilitas pasokan.

“Perbandingan stok antarnegara ASEAN tidak sepenuhnya setara karena perbedaan kebijakan energi dan pola konsumsi,” jelasnya kepada , Rabu (25/3/2026).

Buffer Stok Masih Tertinggal di ASEAN

Peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Badiul Hadi, menilai bahwa ketahanan energi Indonesia secara struktural masih rentan. Hal ini bukan karena ketiadaan sumber daya, melainkan lemahnya tata kelola cadangan energi.

Menurut Badiul, dengan cadangan BBM di kisaran 20–22 hari, Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara ASEAN. Filipina memiliki stok sekitar 40–45 hari, Vietnam sekitar 30–40 hari, Thailand 50–60 hari, sementara Singapura dapat mencapai sekitar 90 hari.

“Ini menunjukkan Indonesia masih tertinggal dalam aspek buffer cadangan, yang merupakan indikator penting ketahanan energi,” ujarnya kepada , Rabu (25/3/2026).

Ekonom Senior CORE Indonesia, Muhammad Ishak Razak, menambahkan bahwa Indonesia juga belum memiliki fasilitas Cadangan Penyangga Energi (CPE) yang diamanatkan dalam Perpres No. 96/2024.

Strategi Pengamanan Pasokan Berlapis

Para pengamat sepakat bahwa pengamanan pasokan energi harus dilakukan melalui strategi berlapis. Dalam jangka pendek, pemerintah perlu memastikan stabilitas pasokan dan harga melalui optimalisasi peran Pertamina dalam pengadaan dan distribusi, serta memperluas sumber impor di luar Timur Tengah.

Founder ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto, menilai bahwa diplomasi energi perlu diintensifkan dengan negara-negara produsen migas. Keanggotaan Indonesia dalam forum internasional seperti BRICS juga dinilai dapat dimanfaatkan untuk membuka akses pasokan dari Rusia, selain menjajaki kesepakatan impor dari Amerika Serikat, Afrika Barat, maupun Amerika Latin.

Praktisi industri migas sekaligus Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC) Hadi Ismoyo menilai bahwa langkah realistis untuk meningkatkan ketahanan stok adalah menambah kapasitas penyimpanan melalui penyewaan floating storage and offloading (FSO), terutama di kawasan strategis seperti Kepulauan Riau.

Menurut perhitungannya, untuk meningkatkan cadangan dari 20 hari menjadi 45 hari diperlukan tambahan biaya sekitar Rp 100 triliun, sedangkan untuk mencapai standar global 90 hari bisa mencapai Rp 300 triliun. Kolaborasi dengan swasta nasional untuk pembangunan tank farm atau FSO dinilai lebih realistis dibandingkan mengandalkan APBN.

Managing Director Energy Shift Institute (ESI) Putra Adhiguna menambahkan bahwa selain meningkatkan penyimpanan, Indonesia perlu menggeser pola permintaan energi melalui elektrifikasi transportasi, penggunaan kompor listrik, jaringan gas rumah tangga, serta pemanfaatan biofuel secara efisien.

Dilema Kenaikan Harga BBM Subsidi

Di tengah tekanan harga minyak global, skenario penyesuaian harga BBM subsidi kembali mencuat. Namun para ekonom menilai kebijakan ini sebaiknya menjadi opsi terakhir.

Badiul Hadi menerangkan bahwa kenaikan harga BBM subsidi berpotensi mendorong inflasi, menekan daya beli, dan meningkatkan kemiskinan, terutama karena distribusi subsidi masih belum sepenuhnya tepat sasaran.

Ishak menambahkan bahwa tekanan fiskal memang nyata ketika harga minyak dunia meningkat. Namun solusi yang lebih realistis adalah memperketat penyaluran subsidi agar tepat sasaran, mengefisienkan belanja kementerian dan lembaga, serta mempercepat pembangunan cadangan energi strategis.

Putra Adhiguna menilai tidak ada jalan mudah dalam jangka pendek. Jika kenaikan harga diperlukan, pemerintah sebaiknya melakukannya secara bertahap, terjadwal, dan disertai kompensasi langsung kepada kelompok rentan serta penguatan transportasi umum.

Sementara itu, Hadi Ismoyo memperkirakan dengan asumsi harga minyak naik dari US$ 70 per barel menjadi US$ 90 per barel, tambahan subsidi BBM sekitar Rp 7,4 triliun dalam setahun masih dapat ditanggung APBN. Jika tekanan berlangsung enam bulan, kebutuhan tambahan hanya sekitar Rp 3,7 triliun atau setara 0,1% APBN.

“Pemerintah perlu segera mengambil keputusan yang jelas, apakah menaikkan harga BBM atau menambah pagu subsidi. Kejelasan ini penting untuk operasional di lapangan,” ujarnya kepada , Rabu (25/3/2026).

Tanpa reformasi struktural pada cadangan energi, tata kelola subsidi, serta percepatan transisi energi, Indonesia berpotensi terus menghadapi siklus krisis setiap kali harga minyak dunia bergejolak.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?