Kepemilikan Rumah di Kalimantan Timur
Mayoritas warga Kalimantan Timur tinggal di rumah milik sendiri, dengan angka mencapai 77,43 persen. Namun, sebanyak 10,55 persen masih menyewa rumah, terutama di wilayah perkotaan seperti Samarinda dan Balikpapan.
Kota Samarinda menjadi daerah dengan persentase kontrak tertinggi, yaitu 16,74 persen. Diikuti oleh Bontang, Balikpapan, Berau, dan Kutai Timur. Sementara itu, kabupaten seperti Mahakam Ulu memiliki kepemilikan rumah tertinggi.
Data Kepemilikan Rumah Tangga di Kalimantan Timur Tahun 2025
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), sebanyak 77,43 persen rumah tangga di provinsi ini tinggal di hunian milik pribadi. Sementara itu, 10,55 persen rumah tangga tercatat tinggal dengan status kontrak atau sewa.
Istilah “kontrak/sewa” merujuk pada kondisi ketika penghuni tidak memiliki rumah tersebut, melainkan membayar biaya secara berkala kepada pemilik. Adapun kategori “lainnya” sebesar 12,02 persen mencakup status seperti tinggal bersama keluarga tanpa kepemilikan, rumah dinas, atau bentuk hunian non-komersial lainnya.
Data ini memperlihatkan bahwa meskipun kepemilikan rumah pribadi masih dominan, terdapat proporsi cukup signifikan masyarakat yang bergantung pada hunian sewa, terutama di wilayah perkotaan dan daerah dengan aktivitas ekonomi tinggi.
Perbedaan Wilayah Kabupaten dan Kota dalam Kepemilikan Rumah
Jika ditelusuri lebih dalam, terdapat perbedaan mencolok antara wilayah kabupaten dan kota dalam hal kepemilikan rumah. Di wilayah kabupaten, persentase kepemilikan rumah pribadi cenderung lebih tinggi dibandingkan kota.
Hal ini dapat dilihat pada beberapa daerah seperti Mahakam Ulu yang mencatat angka kepemilikan rumah mencapai 94,10 persen—tertinggi di provinsi ini. Sebaliknya, wilayah perkotaan seperti Samarinda dan Balikpapan menunjukkan angka kepemilikan rumah yang lebih rendah, masing-masing 66,77 persen dan 69,90 persen.
Hal ini sejalan dengan karakteristik kota besar yang memiliki mobilitas penduduk tinggi, termasuk pekerja pendatang yang lebih memilih menyewa rumah. Fenomena ini juga dipengaruhi oleh harga properti yang relatif lebih tinggi di kota, sehingga tidak semua masyarakat mampu langsung memiliki rumah sendiri.
Akibatnya, kebutuhan akan hunian sewa menjadi lebih tinggi di wilayah perkotaan.
Daerah dengan Persentase Kontrak/Sewa Tertinggi di Kaltim
Berdasarkan data distribusi persentase rumah tangga tahun 2025, berikut lima daerah di Kalimantan Timur dengan tingkat kontrak atau sewa rumah tertinggi:
-
Samarinda – 16,74 persen
Kota Samarinda menempati posisi pertama sebagai daerah dengan persentase rumah tangga yang paling banyak mengontrak atau menyewa rumah. Sebagai ibu kota provinsi, Samarinda menjadi pusat aktivitas pemerintahan dan ekonomi, sehingga menarik banyak pendatang. -
Bontang – 15,93 persen
Kota industri ini berada di posisi kedua. Tingginya aktivitas industri di Bontang membuat kebutuhan hunian sementara meningkat, terutama bagi pekerja dari luar daerah. -
Balikpapan – 13,47 persen
Balikpapan dikenal sebagai kota jasa dan bisnis. Tingginya mobilitas pekerja dan harga properti yang relatif mahal mendorong banyak warga memilih tinggal di rumah sewa. -
Berau – 11,53 persen
Kabupaten Berau menjadi satu-satunya wilayah kabupaten dalam lima besar. Tingginya angka sewa di daerah ini bisa dikaitkan dengan sektor pariwisata dan aktivitas ekonomi lainnya. -
Kutai Timur – 8,94 persen
Kutai Timur berada di posisi kelima dengan hampir 9 persen rumah tangga tinggal di rumah kontrak atau sewa, menunjukkan adanya kebutuhan hunian sementara di wilayah ini.
Daerah dengan Kepemilikan Rumah Tertinggi
Di sisi lain, terdapat daerah dengan tingkat kepemilikan rumah yang sangat tinggi. Mahakam Ulu mencatat angka tertinggi dengan 94,10 persen rumah tangga memiliki rumah sendiri. Selain itu, Penajam Paser Utara dan Paser juga menunjukkan dominasi kepemilikan rumah masing-masing sebesar 87,15 persen dan 86,44 persen.
Kondisi ini menggambarkan bahwa di wilayah-wilayah tersebut, masyarakat cenderung menetap secara permanen dan memiliki hunian sendiri.
Faktor yang Mempengaruhi Kepemilikan dan Kontrak Rumah
Perbedaan tingkat kepemilikan dan kontrak rumah di Kalimantan Timur tidak terlepas dari beberapa faktor utama. Pertama adalah urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari desa ke kota yang meningkatkan permintaan hunian sementara.
Kedua adalah faktor ekonomi, termasuk harga rumah dan kemampuan daya beli masyarakat. Selain itu, keberadaan sektor industri dan jasa juga berperan penting. Daerah dengan banyak perusahaan cenderung memiliki angka sewa lebih tinggi karena banyaknya tenaga kerja yang datang dari luar daerah.












