Duku Komering di Rasuan OKU Timur Tak Berbuah Karena Cuaca dan Lingkungan, Petani Terpukul

Kehilangan Buah Duku di Desa Rasuan, Kabupaten OKU Timur

Pohon duku yang selama puluhan tahun menjadi andalan ekonomi warga Desa Rasuan, Kecamatan Madang Suku I, Kabupaten OKU Timur kini mengalami kejadian aneh. Pohon-pohon ini tidak lagi berbuah sejak tahun 2025 dan kondisi ini masih berlanjut hingga 2026. Hal ini memicu kekhawatiran besar di kalangan petani setempat.

Indra Hendrawan, salah satu petani duku di wilayah tersebut, menyampaikan bahwa pohon duku miliknya terakhir kali berbuah secara normal dua tahun lalu. “Dulu berbuah seperti biasa, terakhir panen sekitar dua tahun lalu. Tapi sekarang tidak berbuah sama sekali,” ujarnya kepada jurnalis pada Sabtu (11/4/2026).

Menurut Indra, kondisi fisik pohon sebenarnya masih terlihat normal. Daun dan batang tidak menunjukkan tanda-tanda serangan hama maupun penyakit. Perawatan kebun pun tetap dilakukan seperti biasa, mulai dari penyiraman, pembersihan area bawah pohon, hingga metode tradisional pengasapan untuk mengusir hama.

“Kami bersihkan bawah pohon, kadang juga diasapi supaya hama menjauh. Tapi memang sekarang tidak ada serangan hama yang berarti,” jelasnya.

Namun, ia menduga perubahan cuaca menjadi faktor utama. Dalam beberapa tahun terakhir, pola hujan dinilai tidak menentu. Hujan dan panas datang silih berganti tanpa pola yang jelas, bahkan terkadang disertai curah hujan tinggi atau kemarau ekstrem.

“Cuaca sekarang tidak bisa diprediksi. Kadang hujan, kadang panas panjang. Itu sangat berpengaruh ke bunga duku,” katanya.

Selain faktor cuaca, perubahan lingkungan juga diduga ikut memicu fenomena ini. Pembukaan lahan untuk program cetak sawah di sekitar kebun dinilai mengubah kondisi ekosistem yang sebelumnya mendukung pertumbuhan duku.

“Sekarang banyak pembukaan lahan dan penebangan pohon. Mungkin itu juga berpengaruh,” tambah Indra.

Dari sisi budidaya, sebagian besar pohon duku di Desa Rasuan merupakan hasil tanam dari biji, bukan sambung atau okulasi. Usia pohon pun bervariasi, mulai dari yang baru belajar berbuah di usia 10 tahun hingga pohon tua berusia sekitar 30 tahun.

“Kondisi tanah di kebun umumnya lembap, meski terkadang mengalami kekeringan ekstrem saat kemarau,” bebernya.

Fenomena gagal berbuah ini tidak hanya berdampak pada produksi, tetapi juga mengguncang perekonomian warga. Duku yang selama ini menjadi komoditas unggulan kini tidak lagi bisa diandalkan.

“Dampaknya sangat terasa. Ekonomi masyarakat menurun drastis. Sekarang banyak yang beralih fokus ke sawah,” ungkap Indra.

Ia berharap ada perhatian dari pihak terkait untuk meneliti penyebab pasti dan mencari solusi agar duku Komering, yang selama ini menjadi identitas daerah, dapat kembali berproduksi.

“Kami ingin tahu sebenarnya apa penyebabnya supaya bisa diatasi. Karena ini bukan hanya satu kebun, tapi hampir semua,” tutupnya.

Dampak Lingkungan dan Iklim terhadap Pertanian Lokal

Perubahan iklim dan lingkungan lokal tampaknya menjadi ancaman nyata bagi komoditas unggulan daerah seperti duku. Fenomena ini menjadi peringatan bahwa perubahan lingkungan dapat berdampak langsung pada kehidupan masyarakat dan ekonomi lokal.

Beberapa faktor yang berkontribusi antara lain:

  • Perubahan pola cuaca – Hujan dan panas yang tidak menentu memengaruhi proses pertumbuhan dan berbuahnya tanaman.
  • Pembukaan lahan – Aktivitas pertanian baru seperti cetak sawah mengubah ekosistem alami yang sebelumnya mendukung pertumbuhan duku.
  • Ketidakstabilan tanah – Kekeringan ekstrem saat musim kemarau memengaruhi kualitas tanah dan ketersediaan air.

Tanpa penanganan serius, bukan tidak mungkin duku Komering hanya tinggal cerita di masa depan. Petani dan masyarakat setempat berharap adanya intervensi dari pemerintah dan para ahli untuk menemukan solusi yang efektif.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?